Opini Detail

Catatan Pilkada Gresik 2020:  Mempertahankan Lebih Sulit Ketimbang Merebut

Catatan Pilkada Gresik 2020: Mempertahankan Lebih Sulit Ketimbang Merebut

  • 06 Oktober 2020
  • 359

Catatan Pilkada Gresik 2020

Mempertahankan Lebih Sulit Ketimbang Merebut

 

Oleh: Nico Ainul Yakin 

Ketua DPD NasDem Sidoarjo


JUDUL di atas adalah ungkapan yang lazim terdengar untuk menganalisis tentang pertarungan antara juara bertahan dengan penantangnya dalam sebuah even pertandingan olah raga, seperti sepak bola, tinju atau olah raga apapun. 

Narasi ini juga acap kali digunakan para pengamat politik dalam melihat kontestasi demokrasi antara calon petahana (incumbent) dengan calon baru yang kali pertama mengikuti kontestasi demokrasi.

Pada 2020 ini terdapat 270 daerah di Indonesia yang akan menggelar kontestasi pilkada serentak, dengan rincian 9 provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota; dan pada setiap pilkada itu hampir selalu ada petahana yang kembali berlaga untuk mempertahankan jabatan puncaknya di daerah. 

Di Jawa Timur, terdapat 19 kabupaten/kota yang akan menggelar pilkada serentak, dan di beberapa daerah tersebut calon petahana menjadi bagian dari kontestan pilkada. Salah satunya adalah Kabupaten Gresik. 

Berbeda dengan pilkada sepuluh tahun terakhir yang diikuti banyak calon, kini Pilkada Gresik 2020 hanya diikuti dua pasangan calon kepala daerah, yakni Mohammad Qosim (petahana)-Asluchul Alif (QA) versus Fandi Akhmad Yani-Aminatun Habibah (NIAT). 

Banyak pihak menyebut pilkada di kota santri itu akan berlangsung seru dan sangat menarik untuk dikaji, karena pertarungan head to head bakal berjalan begitu ketat dan kompetitif.

Menariknya lagi, kedua pasangan calon itu sama-sama memiliki jaringan dan basis dukungan kuat di masyarakat, serta sama-sama memiliki kemampuan logistik memadai.


Sepuluh Tahun Terakhir------

Untuk memotret Pilkada Gresik 2020, sebaiknya kita lihat hasil pilkada sepuluh tahun terakhir (2010 dan 2015), dimana calon petahana selalu berhasil mematahkan ambisi para calon kepala daerah lainnya. 

Di pilkada yang digelar pada 26 Mei 2010, Sambari Chalim (Wakil Bupati Gresik saat itu) yang berpasangan dengan Mohammad Qosim mengalahkan lima penantangnya, yaitu (i) Husnul Khuluq-Musyafak Noer; (ii) Sastro Suwito-M. Samwil; (iii) Bambang Suhartono-Abdullah Qoni’; (iv)  Nashihan-Syamsul Ma’arif; dan (v) Mujitabah-Suwarno.

Kemudian pada pilkada yang digelar 9 Desember 2015, pasangan petahana Sambari Chalim-Mohammad Qosim kembali jumawa dan berhasil mengalahkan dua pasangan calon kepala daerah lainnya yaitu (i) Husnul Khuluq-Ruba’i; dan (ii) Nur Chamim-Junaidi.

Lalu, apakah sukses Sambari-Qosim di masa lalu kembali akan ditorehkan oleh Qosim-Alif pada gelaran Pilkada 9 Desember 2020 mendatang?

Pertanyaan di atas memang tak mudah dijawab, sebab kali ini Qosim-Alif harus berhadapan dengan penantang baru – generasi milenial yang memiliki akar kultural cukup kuat, baik di elite maupun grassroots, yaitu Fandi Akhmad Yani (Gus Yani)-Aminatun Habibah (Ning Min).

Mempertahankan gelar juara bagi petahana yang sudah mengakar tidak terlalu sulit. Pasalnya mereka sudah mengambil start lebih awal untuk sosialisasi kepada masyarakat. Tetapi bukan berarti tidak bisa dikalahkan. Banyak kasus yang dapat dijadikan contoh, di mana petahana gagal mempertahankan “gelar juaranya” sebagai pemenang pilkada. 

Dalam tiga kali pilkada serentak pada 2015, 2017, dan 2018 misalnya, persentase kegagalan calon kepala daerah petahana berkisar di angka lebih dari 30%.

Petahana yang gagal mempertahankan posisinya sebagai kepala daerah pada 2015 mencapai 36,8%. Kemudian di Pilkada 2017 angkanya meningkat menjadi 39,35%. Lalu, di Pilkada 2018 petahana yang kalah dalam pilkada mencapai 37,42%.

Kegagalan petahana di pilkada disebabkan beberapa hal. Antara lain karena abai dan terlalu menikmati kekuasaan yang dimiliki pada periode sebelumnya.

Waktu yang cukup panjang saat berkuasa tidak banyak dimanfaatkan dengan baik untuk membangun, mengembangkan dan mempertahankan basis dukungannya dengan kerja-kerja kreatif, solutif dan berkeadilan.

Pencitraan yang dilakukan petahana acapkali bersifat parsial dan karikaturis. Tampak baik di luar, tapi di dalamnya babak belur.  Buruknya pelayanan birokrasi, maraknya tindakan korupsi oleh pejabat, stagnannya pembangunan daerah, dan oligarki elite atas kebijakan pembangunan, serta penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) adalah contoh kegagalan petahana dalam mengelola pemerintahan. Dari sini muncul public distrust yang terbangun cukup kuat di tengah  masyarakat. Implikasinya, masyarakat ragu bahkan tidak percaya kepada petahana untuk kembali memimpin.

Orang Jawa menyebut pejabat/petahana dengan model seperti ini sebagai pejabat "sing ora kuat pangkat lan drajat" (tidak kuat mengemban simbol kemakmuran dan menjaga akhlak).

Tetapi jika petahana sebagai “juara bertahan” dapat mengeliminasi idiom-idiom minor tentang kepemimpinannya, tentu saja masyarakat masih akan memberikan kepercayaan kepadanya.


Dukungan dan Peluang 

Peta dukungan politik kedua kandidat dapat dilihat dari konfigurasi dukungan parpol dan kursi DPRD, serta public voters. Peta ini setidaknya dapat dijadikan sebagai gambaran umum kekuatan politik masing-masing kandidat. Meskipun kita tahu bahwa peta ini tidak serta merta benar secara riil politik saat pilkada.

Dari sisi konfigurasi dukungan parpol dan kursi di DPRD Gresik 2019-2024, serta public voters  pada Pemilu Legislatif 2019, pasangan Fandi Akhmad Yani-Aminatun Habibah (NIAT) jauh lebih unggul ketimbang pasangan Mohammad Qosim-Asluchul Alif (QA). Pasangan “QA” diusung dua parpol memiliki modal dukungan 21 kursi – PKB (13), dan Gerindra (8). Perolehan suara kedua parpol tersebut sebanyak 301.350 suara, dengan rincian PKB (186.385); dan Gerindra (114.965).

Sedangkan enam parpol yang memiliki kursi di DPRD Gresik (bersatu) mengusung pasangan “NIAT”. Total kursi parpol pengusung pasangan NIAT sebesar 29 kursi terdiri dari Partai NasDem (5), PDIP (6), Golkar (8), Demokrat (4), PAN (3), dan PPP (3). Adapun total perolehan suara dari enam parpol itu sebesar 403.982 suara, dengan rincian Partai NasDem (70,226); PDIP (75,714); Golkar (107,031); Demokrat (47,627); PPP (54,602); dan PAN (48,782). 

Jika dilihat dari konfigurasi dukungan parpol dan kursi DPRD, serta public voters di atas, maka petahana bisa saja sulit mengimbangi pasangan calon yang diracik koalisi besar enam parpol di Gresik. 

Dengan begitu, dapat dipastikan pasangan NIAT-lah yang akan terpilih dan menduduki jabatan puncak di Gresik periode lima tahun mendatang. 

Ini berarti Pilkada Gresik sudah selesai sebelum pemungutan suara digelar. 

Tetapi asumsi itu tidak selalu benar, sebab kekuatan parpol tidak selalu berbanding lurus (linier) dengan perolehan suara kontestan pemilihan kepala daerah. 

Dalam pilkada, mayoritas pemilih masih mempertimbangkan dimensi irrasional ketimbang yang rasional. Pertimbangan tradisional dan ekonomi, selalu mengemuka dalam setiap kontestasi, lebih-lebih di era pandemi Covid 19, di mana masyarakat mengalami situasi keterpurukan secara ekonomi. 

Pada konteks ini, penantang petahana memiliki ruang yang luas untuk beraktualisasi diri dengan tema-tema perubahan versus status quo – sebuah tema yang dulu pernah digunakan pasangan Sambari-Qosim pada Pilkada 2010 untuk melawan dominasi bupati lama, Kiai Robach Maksum. 

Tema “perubahan” ini sekarang dipakai oleh pasangan Gus Yani-Ning Min melawan dominasi petahana.

Isu-isu mengenai ketidak-adilan pembangunan, merajalelanya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat dan sebagainya adalah ruang yang bisa dimasuki penantang petahana dengan konsep dan gagasan-gagasan baru yang cerdas, solutif dan aplicable. 

Selain itu, secara riil politik posisi penantang yang diusung mayoritas kekuatan partai di Gresik memiliki keunggulan yang kompetitif dibandingkan dengan petahana yang hanya diusung oleh dua partai. 

Mempertahankan gelar juara bagi petahana akan lebih sulit ketimbang merebutnya, sebuah ungkapan bijak yang dapat dijadikan energi positif oleh penantangnya dalam merebut hati masyarakat Gresik. Wallahu a’lam bissawab.(*)

,