Opini Detail

Peta Jalan Politik Restorasi 2.0

Peta Jalan Politik Restorasi 2.0

  • 13 November 2020
  • 292

Oleh Charles Meikyansah

Anggota DPR RI 2019-2024

SEBELUM 1697, orang-orang Eropa percaya bahwa semua angsa berwarna putih. Sampai dengan penemuan angsa hitam oleh penjelajah Belanda, Willem de Vlamingh, pada 1697 di Australia bagian barat. Penemuan itu membuat orang-orang Eropa terkejut. Fenomena angsa hitam oleh Nasim Talleb dalam The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable diteorisasikan sebagai kejadian langka yang tidak terbayangkan dan mengakibatkan perubahan besar.

Meminjam Taleb, pandemi Covid-19 diibaratkan sebagai sebuah angsa hitam (black swan). Mengejutkan serta membuat perubahan besar. Tidak hanya perubahan pada tatanan global—terutama menyasar kesehatan dan ekonomi—tetapi juga politik.

Paling sederhana, pandemi memaksa para pedagang kecil di Desa Tanggul Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk beradaptasi dengan teknologi, menjajakan dagangannya secara online. Begitu juga dengan politik. Rapat kerja sampai pertemuan relawan harus mulai beradaptasi dengan teknologi. Digitalisasi politik sudah tidak lagi terhindarkan.

Ulang Tahun Ke-9 Partai NasDem, 11 November 2020, tepat pada tepian sebuah era. Era ketika digitalisasi politik menjadi sebuah keharusan yang memaksa. Maka, strategi memenangi masa depan harus direkonstruksi dan dirumuskan ulang. Tahun lalu, pada perayaan ulang tahun ke-8, Partai NasDem diselumuti rasa syukur karena capaian yang luar biasa dalam Pemilu 2019. Partai NasDem mampu menjadi pemenang dengan kenaikan perolehan suara partai dan kursi parlemen terbesar. Selain itu, NasDem juga mampu memenangkan Joko Widodo dan Ma’ruf Amien dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Merayakan milad tahun ini, merupakan waktu yang tepat bagi NasDem untuk mulai merefleksikan apa yang telah dikerjakan selama setahun terakhir. Terutama, bagaimana partai sebagai sebuah institusi politik harus beradaptasi untuk memasuki era baru.

Hari ini, partai sebagai institusi politik dipaksa untuk memodernisasi diri lebih cepat dan lebih adaptif dengan perilaku pemilih baru. Maka ulang tahun ke-9 merupakan momentum untuk merumuskan ulang stategi partai dalam memenangi hati rakyat.


Politik Restorasi 2.0

Restorasi Indonesia merupakan misi politik untuk mewujudkan Indonesia yang berlandaskan pada tiga pondasi utama, yaitu prinsip demokrasi ekonomi, negara hukum yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, dan negara yang mengakui keberagaman sesuai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Demokrasi ekonomi memungkinkan terwujudnya negara kesejahteraan yang mendistribusikan keadilan ekonomi secara merata bagi rakyat. Sedangkan hukum yang menjunjung tinggi HAM, menempatkan penghargaan terhadap rakyat di atas segalanya. Keberagaman dalam Bhinneka Tunggal Ika memungkinkan Indonesia menjadi rumah bagi semua. Ketiganya menjadi pilar yang kokoh untuk menjadi modal lompatan besar dalam menghadapi situasi sekarang yang serba volatility, uncertainty, complexity, ambiguity (VUCA) pasca-pandemi.

Lalu bagaimana politik restorasi diwujudkan dalam kebijakan publik yang menguntungkan rakyat? Pada aspek politik perundang-undangan, NasDem telah memperjuangkan UU strategis seperti UU Cipta Kerja, UU Masyarakat Hukum Adat, dan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga. Sedangkan pada aspek kebijakan, menteri-menteri dari NasDem juga memelopori kebijakan penting seperti Kartu Tani yang akan membenahi lubang hitam yang selama ini menjadi permasalahan distribusi dan ketepatan subsidi pupuk bagi petani.

NasDem juga menjadi partai politik terbesar menempatkan perempuan dalam parlemen, yaitu sebesar 34% atau 20 perempuan dari 59 anggota NasDem di parlemen. Tentu ini adalah kabar baik bagi kesetaraan politik perempuan yang semakin muram. Di tengah sulitnya perempuan menjadi aktor utama yang mewakili rakyat dari partai lain, NasDem mampu menerobos pesimisme keterwakilan perempuan dalam politik.

Hari ini kita hidup di era baru yang memaksa kita harus membaca ulang politik restorasi sesuai dengan perubahan zaman. Apabila sebelumnya (Era Politik 1.0) partai politik masih bisa hidup dengan cara lama seperti kebijakan yang elitis, tertutup dan meremehkan pemilih baru, hari ini (Era Politik 2.0), partai politik tidak bisa lagi hidup dalam situasi yang demikian.

Era Politik 2.0 mengharuskan adaptasi dengan perubahan baru yang memaksa modernisasi partai. Kebijakan berdasarkan data dan digitalisasi politik dikerjakan tanpa pengecualian dan hukumnya fardhu ain. Maka, perlu rumusan peta jalan politik Restorasi 2.0 agar Partai NasDem menjadi pemenang di hati rakyat.

Peta jalan politik Restorasi 2.0 harus dimulai dengan modernisasi partai. Hari ini NasDem terus mendorong modernisasi partai dengan menghapus hambatan (barrier to entry) masuknya anak-anak terbaik negeri untuk berkontribusi melalui NasDem. Modernisasi dimulai dengan politik tanpa mahar dan tanpa syarat.

Ketika hambatan untuk masuk tidak ada lagi, maka mendorong kader-kader partai terbaik untuk berkontribusi sebesar-besarnya bagi negara. Salah satunya melibatkan mereka dalam kontestasi pemilu, baik pemilu legislatif maupun pemilihan kepala daerah. Hasilnya, ada 10 milenial yang menjadi perwakilan NasDem di parlemen. Selain itu, terus meningkatnya kader NasDem menjadi kepala daerah dengan capaian yang cemerlang.

Sulawesi Tenggara dengan Ali Mazi, misalnya, mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang impresif sebesar 6,5% di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebelum pandemi. Ali juga mampu menstabilkan pertumbuhan ekonomi meski perekonomian nasional mengalami kontraksi selama pandemi.


Mendorong tokoh terbaik

NasDem juga mendorong tokoh-tokoh terbaik negeri untuk menjadi kepala daerah seperti Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Dengan terbukanya NasDem bagi putra dan putri terbaik, maka ke depan NasDem akan memulai tradisi baru dengan menggelar konvensi calon Presiden Republik Indonesia 2024. Konvensi memberikan ruang yang terbuka, kontestasi yang fair, serta akan menumbuhkan diskursus yang programatik dan ideologis. Dengan demikian akan lahir pemimpin yang bermutu.

Modernisasi juga menyasar cara, strategi dan komunikasi NasDem melalui pengarusutamaan data dan digitalisasi partai. Hari ini NasDem tengah melakukan digitalisasi anggota melalui kartu tanda anggota elektronik (e-KTA). Digitalisasi ini penting, tidak hanya sebagai kartu tanda anggota, tetapi juga memberikan basis data (bahkan big data) yang komprehensif bagi stakeholder Dewan Pimpinan Pusat (DPP), dewan pimpinan wilayah (DPW), dewan pimpinan daerah (DPD), dewan pimpinan cabang (DPC), hingga dewan pimpinan ranting (DPRt) dalam pengambilan keputusan tepat dan cepat (real time).

Selain itu, e-KTA juga berfungsi sebagai uang elektronik (e-Money). Maka, ke depan akan disinergikan dan dikolaborasi bersama UMKM yang dibina dan bermitra dengan NasDem. Dengan begitu, ekonomi kerakyatan akan hidup.

DPD NasDem Lumajang misalnya, tengah menyiapkan e-KTA untuk seluruh kader partai. Nantinya, e-KTA itu disinergikan dengan UMKM. Ketika sudah jadi, e-KTA bisa menjadi alat pembayaran di UMKM binaan. Para anggota juga akan mendapatkan sejumlah fasilitas.

Digitalisasi partai juga terus didorong. Transparansi kinerja para kader yang menjadi anggota dewan, baik level daerah sampai Pusat, serta kepala daerah NasDem dikedepankan. Mereka harus mempublikasikan kinerja di laman sosial media. Tujuannya, agar partai terbuka dan transparan. Rakyat bisa berinteraksi langsung dengan perwakilannya maupun dengan pemimpinnya.

Menutup tulisan ini saya teringat pidato Nelson Mandela setelah bebas dari penjara, “It always seems impossible until it’s done.”. Selebihnya, Selamat Ulang Tahun ke-9 Partai NasDem, terus mengabdi untuk negeri. (*)

,