Opini Detail

Rachmat Gobel dan Gerakan Koperasi

Rachmat Gobel dan Gerakan Koperasi

  • 06 Mei 2021
  • 153

Oleh Andreas Ambesa 

Tenaga Ahli Wakil Ketua DPR RI


BAGI Rachmat Gobel, Wakil Ketua DPR RI/Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan, koperasi adalah gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan, dari semua untuk semua. Karena sifat kekeluargaan itu, tentunya kebersamaan menjadi kekuatan pondasi dari gerakan koperasi Indonesia. 

Indonesia sebagai negara agraria dan maritim dengan mengandalkan kekuatan ekonomi dari para petani dan nelayan, tidak pelak lagi, koperasi merupakan pilihan tepat. Untuk itulah dalam setiap kesempatan kunjungan kerja ke daerah, Rachmat Gobel selalu menggunakan waktu berbicara tentang koperasi.

RG, demikian sapaan akrabnya, selalu mendorong agar pemerintah daerah membentuk koperasi yang dipimpin para petani dan nelayan, supaya dapat menunjang ekonomi wilayah. Karena baginya ekonomi Indonesia harus dibangun dari desa, di seluruh Nusantara. Ini sesuai fokus pembangunan oleh Presiden Jokowi bahwa  membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam rangka negara kesatuan. 

Pembangunan tidak lagi terpusat di perkotaan (Sentralisasi), melainkan harus dilakukan menyebar di seluruh pelosok Indonesia (Desentralisasi). Salah satu usaha untuk memperkuat pembangunan dari desa itu adalah dengan membangun koperasi sebagai titik sentral kesejahteraan masyarakat Indonesia yang sebagian besar adalah petani dan nelayan.


RG memang sangat cekatan dan gamblang jika berbicara dan berdialog tentang koperasi. Fokusnya mendorong pengembangan agrokompleks yaitu pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan dan juga kehutanan yang merupakan produk unggulan. Melihat kondisi pandemi Covid-19 saat ini,  RG selalu memberikan motivasi koperasi harus tetap bergerak secara kreatif dan produktif. Setiap wilayah yang dikunjunginya tetap fokus mempersiapkan kondisi ekonomi yang lebih baik, menuju industrialisasi pangan termasuk di dalamnya membentuk koperasi yang dipimpin para petani, supaya dapat menunjang ekonomi wilayah. 

Dia juga selalu menyemangati para pemimpin daerah dan juga petani dengan membangun koperasi yang merupakan landasan menuju masyarakat adil dan makmur. "Saya tidak akan berhenti berbicara tentang koperasi, karena merupakan pondasi ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Rachmat Gobel. Bahkan dalam kunjungan ke Pulau Sumba, NTT, awal April 2021, RG juga mengajak para pengrajin tenun ikat untuk bersatu dalam wadah koperasi agar memudahkan pengadaan bahan baku benang dan pemasaran produknya.

Menurut RG, salah satu yang tidak kalah pentingnya untuk mendorong kemajuan koperasi adalah ikut mendukung peningkatan peran koperasi dalam penyaluran pupuk bersubsidi. Untuk itu menurut RG dengan menyalurkan pupuk bersubsidi kepada para petani melalui koperasi, menghindari penyalahgunaan pupuk yang tidak seharusnya mengakibatkan para petani kesulitan dalam memperoleh pupuk.

Untuk menyelesaikan tata kelola pupuk bersubsidi, RG menambahkan bahwa saat ini diperlukan suatu terobosan baru, yaitu tidak ada lagi namanya pupuk terlambat atau terjadi kelangkaan pupuk. Solusinya adalah dengan mengandalkan penyalurannya melalui koperasi.

Jika melihat apa yang dikatakan oleh Rachmat Gobel tentang peranan koperasi di Indonesia, seyogyanya fokus untuk memajukan koperasi harus lebih gencar dan ditingkatkan. Keberadaan koperasi sebagai lembaga ekonomi rakyat jika ditilik dari sisi usianya yang ke-74 tahun, artinya sudah sangat matang. Sedangkan jumlah koperasi menurut data terakhir dari Kementerian Koperasi dan UKM di tahun 2020 sebanyak 126 ribu. Tentunya jumlah tersebut masih sangat kurang jika kita bandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 271 juta. 

Coba kita lihat dan bandingkan dengan Finlandia, negara Eropa  itu bisa dibilang paling berkoperasi dimana 84% dari penduduknya adalah anggota koperasi. Selain itu koperasi menyumbang 10% Groos National Product (GNP) untuk negara berpenduduk 5,5 juta jiwa tersebut. Itulah sedikit alasan mengapa negara ini dianggap sebagai negara paling berkoperasi di dunia. 

Di Jepang, 1 dari setiap 3 keluarga adalah anggota koperasi. Koperasi menjadi wadah perekonomian pedesaan yang berbasis pertanian. Peran koperasi di pedesaan Jepang telah menggantikan fungsi bank sehingga koperasi sering disebut pula sebagai “bank rakyat” karena koperasi beroperasi dengan menerapkan sistem perbankan. Bahkan salah satu bank besar di Jepang adalah koperasi, yakni Norinchukin Bank yang berusia 98 tahun. Bank ini melayani lebih dari 5.612 koperasi pertanian, perikanan dan kehutanan dari kantor pusatnya di Tokyo

Rachmat Gobel bertekad tidak akan berhenti berbicara tentang koperasi dalam setiap kesempatan yang ada. Karena, menurutnya, koperasi itu pilar dan soko guru perekonomian nasional dan juga lembaga gerakan ekonomi rakyat yang perlu mendapat perhatian lebih, hingga bisa berkembang baik seperti di negara-negara maju. Terpenting, menurutnya kekuatan koperasi sesuai dengan semboyan koperasi itu sendiri, dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota.[*]

,