News Detail

Tim Kemanusiaan Surya Paloh Berperan Bebaskan Sandera

Tim Kemanusiaan Surya Paloh Berperan Bebaskan Sandera

  • 01 Mei 2016
  • 27
JAKARTA (1 Mei): Pemerintah mengakui bahwa pembebasan 10 WNI yang disandera kelompok militan bersenjata Abu Sayyaf Filipina Selatan, melibatkan berbagai pihak, formal maupun nonformal. Salah satu pihak yang ikut berpartisipasi dalam pembebasan 10 Anak Buah Kapal (ABK) Brahma-12 itu adalah Yayasan Sukma (Sekolah Sukma Bangsa) Media Grup.

Pembebasan dan pelepasan sandera dilakukan sekitar pukul 12.15 Waktu setempat hari Minggu (1/5) di Pantai Parang, Sulu, Mindano Selatan, Filipina.

Deputi Chairman Media Group Rerie L Moerdijat, menjelaskan di Jakarta Minggu (1/5), pembebasan sandera dilakukan atas kerja tim kemanusiaan Surya Paloh yang merupakan sinergi gabungan jaringan pendidikan Yayasan Sukma (Sekolah Sukma Bangsa di Aceh) dibawah Ahmad Baidowi, M.Ed dan DR Samsul Rizall Panggabean, kelompok Media Group, Partai NasDem di bawah Ketua Fraksi Partai NasDem DPR Victor B. Laiskodat serta anggota DPR Fraksi Partai NasDem Mayjen (Purn) Supiadin.

Usaha dan proses pembebasan dilakukan Tim Kemanusiaan Surya Paloh sejak tanggal 4 April 2016. Negosiasi pembebasan sandera dilakukan jaringan Yayasan Sukma dengan melakukan dialog langsung dengan tokoh masyarakat, LSM, lembaga kemanusian daerah Sulu yang memiliki akses langsung ke pihak Abu Sayyaf di bawah koordinasi langsung pemerintah Republik Indonesia.

Proses pembebasan sendiri berlangsung sangat dinamis serta lancar, karena Yayasan Sukma menggunakan pendekatan pendidikan yang jauh sebelumnya sudah ada kerja sama pendidikan antara Yayasan Sukma dan pemerintah otonomi Moro Selatan.

Menurut reporter Metro TV yang mengikuti pembebasan sandera secara langsung Desi Fitriani, sandera diserahkan kepada Tim Kemanusiaan Surya Paloh di Pantai Parang, Sulu, Mindanao, Filipina Selatan, setelah menunggu 4 jam. Para sandera kemudian dibawa ke rumah Gubernur Sulu selama satu setengah jam, untuk proses verifikasi, makan serta ramah tamah. Setelah itu, mereka langsung diterbangkan dari Sulu menuju Zamboanga menggunakan dua helikopter jenis UH 1 H.

Di Zamboanga, menurut reporter Metro TV Maria Lizia Hasni dari lokasi melaporkan bahwa, sandera tiba pukul 16.30 waktu Filipina. Mereka langsung menjalani proses verifikasi dan pemeriksaan kesehatan dari tim keamanan Filipina. Selanjutnya mereka dibawa untuk dilakukan briefing serta pemeriksaan mengenai apa saja yang mereka alami selama masa penyanderaan sampai diminta mengenali kelompok-kelompok Abu Sayyaf lainnya.

Meski kelelahan akibat perjalanan panjang mereka dalam kondisi sehat dan cukup baik untuk dapat langsung kembali ke Tanah Air. Pemerintah Filipina kemudian menyerahkan secara resmi para sandera kepada pihak Kedubes Indonesia dan perwakilan NasDem Victor B Laiskodat.

Dari Zamboanga, 10 sandera dipulangkan ke Tanah Air, menggunakan pesawat khusus Tim Kemanusiaan Surya Paloh di bawah pimpinan Victor B Laiskodat, didampingi pihak Kedutaan Besar Indonesia di Filipina, Edi Mulya, untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Penculikan dan penyanderaan terhadap 10 WNI terjadi pada akhir Maret 2016. Penculik dibawah pimpinan Tawing Umair berencana menculik pebisnis di Pulau Tawi-Tawi, Filipina Selatan, namun gagal karena pengusaha tersebut mendapatkan pengawalan ketat. ‎Dalam perjalanan pulang dari Tawi-Tawi ke arah utara berpapasan dengan kapal Indonesia Brahma-12 yang kemudian menjadi sasaran dan para awak kapal kemudian disandera. ABK yang disandera dititipkan di tempat aman dibawah pimpinan Al Habsy, namun pemilik sanderanya tetap Tawing Umair.

Tim kemanusian Surya Paloh sejak awal sudah melakukan komunikasi intensif dengan tim Tawing dibawah koordinasi Pemerintah Repubik Indonesia.*