News Detail

Ahmad Baedowi, Negosiator Pembebasan Sandera

Ahmad Baedowi, Negosiator Pembebasan Sandera

  • 02 Mei 2016
  • 288
JAKARTA (2 Mei): Kedutaan besar Republik Indonesia (KBR) di Manila Filipina mengakui bahwa pembebasan 10 WNI yang disandera kelompok militan bersenjata Abu Sayyaf, Filipina Selatan, atas negosiasi Yayasan Sukma Bangsa, Media Group.

Pengakuan tersebut dikemukakan Minister Counsellor, Koordinator Fungsi Politik dari KBRI di Manila, Eddy Mulya yang juga merupakan negosiator pemerintah, saat bersama rombongan sandera tiba dengan pesawat milik Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, di Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta, Minggu (1/5) malam.

Menurut Eddy, pembebasan 10 WNI tersebut murni atas hasil negosiasi tanpa adanya uang tebusan. Hal itu tidak lepas dari peran Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Ahmad Baedowi. Yayasan Sukma dimotori Surya Paloh bergerak di dunia pendidikan khususnya di Aceh pascatsunami melanda wilayah itu tahun 2004.

"Ini full negosiasi. Ada sahabat saya Pak Baedowi dengan teman-teman. Mereka yang atur, kita tindak lanjutnya," tutur Eddy.

Dia mengungkapkan, pendekatan yang dilakukan Baedowi lebih kepada hubungan antarpersonal yang sudah terjalin melalui kerja sama pendidikan. Dalam hubungan tersebut, ada seseorang yang dituakan dan dihormati bersama sehingga menghasilkan perundingan pembebasan sandera 10 WNI.

Eddy membantah negosiasi yang dilakukan berkaitan dengan adanya utang budi penyandera dengan tim negosiasi yang dipimpin Baedowi. "Kita enggak ada utang budi. Jangan berpikiran negatif. Kita kerja sama sesama umat Islam," jelas dia.

Eddy menyebut proses pembebasan sandera tersebut merupakan hasil kerja tim dari pihak pemerintah Indonesia, seperti KBRI, KJRI, dan TNI yang dikoordinasikan Yayasan Sukma di bawah pimpinan Ahmad Baedowi.

"Di KBRI ada unsur diplomat, TNI, kita libatkan semua. Jadi ini kerja tim," ujar dia.

Negosiasi pembebasan sandera dilakukan jaringan Yayasan Sukma dibawah payung Tim Kemanusiaan Surya Paloh dengan berdialog langsung bersama tokoh masyarakat, LSM, dan lembaga kemanusiaan daerah Sulu, Filipina Selatan yang memiliki akses langsung kepada Abu Sayyaf. Langkah itu dilakukan di bawah koordinasi langsung Pemerintah Indonesia.

Yayasan Sukma menggunakan pendekatan kerja sama pendidikan dengan Pemerintah Otonomi Moro Selatan yang sudah terjadi sebelumnya. Upaya pembebasan dimulai sejak 4 April hingga 10 sandera anak buah kapal Brahma 12 dibebaskan 1 Mei 2016.

Sebanyak 10 ABK yang disandera itu telah tiba di Tanah Air melalui Lanud Halim Perdanakusuma, Minggu (1/5) dan pada Senin (2/5) menjalani pemeriksaan kesehatan  di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.*