News Detail

Dharma Bhakti Lestari Gelar Diskusi Perumusan Keutamaan Kalinyamat

Dharma Bhakti Lestari Gelar Diskusi Perumusan Keutamaan Kalinyamat

  • 17 Agustus 2019
  • 40
  • NasDem Jepara



JEPARA (17 Agustus): Ratu Kalinyamat tidak boleh hanya dipahami anak-anak lewat karnaval atau bahkan  tarian, karena Kalinyamat merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah Jepara yang memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.


Apalagi  berdasarkan Peraturan Daerah No  9  Tahun 1988, penobatan putri Sultan Trenggono sebagai penguasa Jepara ini  telah ditetapkan menjadi  Hari  Jadi Jepara,  sehingga setiap tahun orang Jepara memperingatinya. Bahkan  dalam karnaval  tingkat  desa, selalu ada penampilan  Ratu Kalinyamat.


Pemikiran tersebut melatarbelakangi digelarnya diskusi Perumusan Nilai-nilai Keutamaan  Ratu Kalinyamat yang diselenggarakan  Yayasan Kartini Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Dharma Bhakti Lestari, di Telaga Sejuta Akar Bondo, Jepara, Jawa Tengah Jumat (16/8).  


Diskusi yang diikuti kurang lebih 150 peserta dari kalangan guru dan pelajar SMA, mahasiswa, pegiat budaya, akademisi dan anggota DPRD ini menghadirkan dua orang pembicara, Iskak Wijaya dan Hadi Priyanto. 


Diskusi dipandu Winarto Asma serta diiringi kerawitan anak dari sanggar budaya Cakra Abadi pimpinan Kunarto Kumis. 


“Kami ingin  mengajak masyarakat  mulai berpikir tentang nilai-nilai keutamaan apa yang bisa kita warisi dan relevan  untuk kita  jadikan  sebagai sumber inspirasi dan motivasi. Diskusi ini baru tahap awal dan perlu terus dilakukan dengan  kajian yang  mendalam. Harapannya kelak  akan ada kesepakatan kolektif masyarakat,” ujar Sekretaris  Yayasan Kartini  Indonesia, Indria Mustika saat mengantarkan  disikusi ini.

Edi Hidayat dari  Yayasan Dharma Bakti Lestari menyatakan, membumikan nilai keutamaan dan perjuangan Ratu Kalinyamat perlu terus dilakukan. 


“Apalagi  kini masyarakat Jepara bersama-sama ingin menjadikan Putri Retno Kencono sebagai Pahlawan Nasional.  Naskah  akademis tengah disusun para ahli dengan mengedepankan aspek–aspek kesejarahan,“ terang Edi Hidayat.

Hadi Priyanto dalam paparannya saat mengantar diskusi menyatakan, perumusan nilai keutamaan Ratu Kalinyamat menjadi penting, sebab beban kurikulum di semua satuan pendidikan yang demikian padat, menyulitkan para guru untuk mengajarkan nilai-nilai keutamaan pahlawan lokal Jepara. 


"Apalagi literatur tentang Ratu Kalinyamat sangat minim. Akhirnya penguasa yang dicatat  sejarah pernah menyerang kolonialisme Postugis di Malaka sebanyak dua kali ini  hanya dikenal lewat karnaval, sebagai ratu Jepara yang  sangat  cantik. Bahkkan hanya dikenal mitos dan legendanya,” ujar  Hadi Priyanto.  

Iskak  Wijaya, salah seorang pembicara menyatakan, perumusan nilai dan pemahaman sejarah ini sangat penting. Sebab mereka yang tidak memahami sejarah akan melakukan kesalahan yang berulang-ulang. Mengapa? Karena seperti kata Cicero: “historiavitaemagistra” – sejarah adalah guru kehidupan. 


“Ada banyak nilai yang  dapat  kita ambil jika kita mau belajar dari sejarah Ratu Kalinyamat. Kala itu beliau  telah mengembangkan spirit nasionalisme yang  tidak sempit, semangat pluralisme, kesetaraan politik perempuan,  komitmen relejiusitas yang kuat serta kepercayaan diri yang teguh,” ungkap Iskak  Wijaya.

Menyikapi beban kurikulum sekolah serta minimnya referensi tentang Ratu Kalinyamat serta sejarah lokal,  Galuh \Citrasari,  guru sejarah  SMA Bangsri mengusulkan kepada pemerintah kabupaten agar dapat  menyelenggarakan  pembekalan sejarah lokal untuk mencetak guru sebagai duta-duta  sejarah. 


“Para guru dilatih  memahami aspek kesejarahan lokal, termasuk nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Dengan demikian mereka memiliki bekal yang cukup untuk mengajarkan sejarah lokal  kepada murid-muridnya. Hasil pengajaran bisa saja dilombakan dalam bentuk karya tulis, pidato, cerita dan  bahkan pembuatan film dokumenter," ujar Galuh Citrasari. 

Minimnya literatur  tentang sejarah dan budaya Jepara juga diungkapkan oleh Damitri,  mahasiswa Universitas  Negeri Malang. 


“Saya kesulitan untuk mendapatkan buku tentang sejarah ukir Jepara di Perpustakaan Daerah  saat akan mengadakan penelitian,” keluh Damitri.

Muh Fakhrihun Na’am dari Universitas Negeri Semarang yang tengah melakukan  penelitian tentang spirit dan fenomena Ratu Kalinyamat sebagai ide  dasar penciptaan karya  seni mengungkapkan, perumusan nilai-nilai keutamaan ini  sangat penting. Sebab ada banyak karya sastra yang inspirasinya diangkat dari cerita lisan atau legenda  tentang Sang Ratu, justru  mendiskriditkan eksistensi beliau. 


“Karena  itu, kami sedang menggarap pameran batik yang ide dasarnya dari spirit dan fenomana  Ratu Kalinyamat. Rencana pameran akan dilakukan bulan November di Cemeti Art Gallery Yogyakarta dan Musium Kartini Jepara,“ ujar Muh Fakhrihun Na’am, dosen di Program Studi Pendidikan Seni Rupa Pasca Sarjana dan Fakultas Teknik jurusan Pendidikan Kesejahteraan  Keluarga  Universitas Semarang. (SuaraBaru.id/*)
Berita Terkini