Marak Produk Berbahaya, Irma Suryani Minta BPOM Tingkatkan Pengawasan
JAKARTA (22 April): Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani, melontarkan kritik terhadap lemahnya pengawasan produk yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), baik pada tahap pre-market maupun post-market.
Menurut Irma, hingga kini belum terlihat langkah nyata, baik dalam pencegahan maupun penindakan di lapangan, termasuk sinergi dengan aparat penegak hukum.
“Saya belum melihat bentuk pencegahan itu seperti apa. Begitu juga dengan penindakan, saya belum dengar ada langkah konkret di lapangan, termasuk bersama kepolisian,” ujar Irma, Selasa (21/4/2026).
Ia menilai lemahnya pengawasan tersebut berdampak pada masih maraknya peredaran produk berbahaya di masyarakat. Mulai dari makanan dengan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih hingga obat-obatan ilegal yang beredar luas.
“Kita tahu makanan yang mengandung GGL masih beredar dan belum ditarik. Begitu juga obat-obatan yang membuat teler, bahkan ada yang mengandung narkoba, masih sangat luas beredar,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Irma juga menyoroti peredaran rokok ilegal serta kosmetik rumahan yang diproduksi tanpa pengawasan ketat dan mengandung bahan berbahaya seperti merkuri.
“Rokok ilegal merajalela. Kosmetik juga banyak dibuat di rumah-rumah, bahkan oleh oknum tertentu, dan mengandung bahan berbahaya seperti merkuri,” jelas politisi Partai NasDem tersebut.
Legislator NasDem dari Dapil Sumsel II itu turut menyinggung penggunaan bahan berbahaya lain seperti boraks dan pewarna makanan ilegal, serta dugaan kontaminasi pada produk perikanan yang dinilai belum ditangani secara optimal.
Ia mengingatkan, lemahnya pengawasan ini tidak hanya membahayakan masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan beban layanan kesehatan nasional.
“Kalau promotif dan preventif tidak berjalan, maka angka kuratif akan tinggi. Ini yang akhirnya berdampak pada defisit BPJS Kesehatan,” tandasnya. (Yudis/*)