Home / Berita / Berita
Berita

Legislator NasDem Bantu Pulangkan Pekerja Migran yang Hilang Kontak 31 Tahun

đź“… 15 Mei 2026 đź’¬ 0 Komentar
Bagikan artikel:

BATANG (15 Mei): Anggota DPR RI asal Kabupaten Batang, Yoyok Riyo Sudibyo, ikut membantu memperlancar proses administrasi dan dokumen kepulangan Gim Suyati, warga Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah yang hilang kontak selama 31 tahun di Malaysia.

Kepulangan Gim Suyati menjadi kisah haru sekaligus potret rumitnya persoalan pekerja migran Indonesia (PMI) di luar negeri. Yoyok bahkan datang langsung ke rumah Gim Suyati usai proses pemulangan berhasil dilakukan.

Di hadapan keluarga dan warga yang berkumpul, Yoyok menilai persoalan PMI bermasalah di Malaysia bukan lagi kasus kecil, melainkan fenomena besar yang membutuhkan perhatian serius negara.

“Data riil rakyat Indonesia yang kerja di Malaysia saya nggak tahu, tapi yang jelas pemerintah harus bertanggung jawab,” ujar Yoyok, Kamis (14/5/2026).

Yoyok mengaku kasus Gim Suyati bukan pertama kali ditemuinya. Sebelumnya, ia juga pernah membantu pemulangan warga Batang yang terlantar di Malaysia hingga kisahnya viral di media sosial.

“Tadi perjalanan ke sini bahkan ada yang bilang ini seperti acara tahunan karena tiap tahun ada warga Batang yang saya bantu pulang dari Malaysia,” katanya.

Menurut Yoyok, banyak warga Indonesia memilih menjadi pekerja migran karena tekanan ekonomi. Namun, tidak sedikit yang berangkat melalui jalur tidak resmi hingga akhirnya terjebak tanpa dokumen yang jelas.

“Kalau tidak kepepet ekonomi, siapa sih yang mau berangkat seperti itu,” ujar legislator Partai NasDem dari dapil Jawa Tengah X itu.

Ia menjelaskan banyak PMI di Malaysia hidup dalam kondisi rentan akibat menggunakan jasa agen ilegal atau abal-abal. Akibatnya, ketika menghadapi masalah administrasi atau ingin pulang ke Indonesia, mereka kesulitan mendapatkan pengakuan identitas kewarganegaraan.

Kasus serupa dialami Gim Suyati selama puluhan tahun berada di Malaysia tanpa kepastian dokumen.

Meski mengakui pemerintah dan pihak kedutaan telah bekerja menangani persoalan PMI, Yoyok menilai jumlah kasus yang sangat besar membuat penanganan sering berjalan lambat.

“Kedutaan saya yakin sudah bekerja, cuma mungkin saking banyaknya yang harus diurus jadi kewalahan,” katanya.

Dalam kasus Gim Suyati, Yoyok mengaku turun langsung membantu mempercepat proses dokumen yang sebelumnya berjalan lambat di KBRI. Ia memanfaatkan jaringan komunikasi personal agar proses administrasi bisa segera diselesaikan.

“Semua memang ada prosesnya, tapi kadang kalau saya yang telepon hasilnya berbeda,” ujarnya.

Yoyok mengatakan dirinya langsung menghubungi pihak terkait di kedutaan sehingga dokumen Gim Suyati akhirnya bisa diterbitkan hanya dalam waktu tiga hari.

“Alhamdulillah akhirnya bisa cepat selesai dan ibu bisa pulang,” katanya.

Selain membantu pemulangan, Yoyok juga mengingatkan pentingnya komunikasi antara pekerja migran dengan keluarga di kampung halaman. Menurutnya, banyak kasus PMI hilang kontak terjadi akibat minim komunikasi dan lemahnya jejaring sosial sesama warga Indonesia di luar negeri.

“Sekarang era keterbukaan dan media sosial, jadi jangan sampai kehilangan kontak dengan keluarga maupun teman-teman di sana,” ujarnya.

Ia pun membuka diri membantu warga yang mengalami persoalan serupa selama masih mampu dijangkau.

“Secara pribadi semampu saya siap membantu,” katanya.

Kepulangan Gim Suyati sendiri disambut haru warga Desa Adinuso setelah perempuan itu hilang kontak sejak 1997. Tangis keluarga pecah ketika ia akhirnya kembali menginjak halaman rumahnya setelah lebih dari tiga dekade terpisah dari anak-anaknya.

Bagi Yoyok, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa di balik besarnya angka pekerja migran Indonesia di luar negeri, masih banyak cerita kehilangan, perjuangan, dan harapan sederhana untuk bisa pulang ke rumah. (*)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *