MAKASSAR (8 Juni): Kunci utama dekarbonisasi atau penurunan emisi karbon di Sulawesi Selatan (Sulsel) terletak pada integrasi antarmoda transportasi dan penerapan konsep Transit Oriented Development (TOD).
​Hal tersebut disampaikan anggota Komisi V DPR Ri dari Fraksi Partai NasDem, Teguh Iswara Suardi, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional SPACE+ 2026 yang digelar oleh Student Planning Society (SPACE) Universitas Hasanuddin bertajuk ‘Infrastructure and Transportation Decarbonization’ di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (6/6/2026).
“Membangun infrastruktur transportasi rendah karbon tidak bisa dilakukan secara parsial. Seluruh moda yang ada di Sulawesi Selatan, mulai dari pelabuhan, bandara, kereta api, hingga jalur pedestrian, harus saling terhubung tanpa sekat,” ungkap Teguh.
Teguh juga memaparkan, bahwa ​Sulawesi Selatan kini sudah memiliki pelabuhan, bandara, dan kereta api. Tapi tantangan hari ini adalah bagaimana seluruh sistem tersebut dapat saling terintegrasi sehingga memudahkan mobilitas masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
​Legislator NasDem dari Dapil Sulsel II (Bulukumba, Sinjai, Bone, Maros, Pangkajene dan Kepulauan, Barru, Soppeng, Wajo, dan Kota Parepare) itu juga menyoroti keberadaan jalur Kereta Api Makassar–Parepare yang punya potensi raksasa. Menurutnya, jalur ini bukan sekadar alat angkut, melainkan stimulus pertumbuhan ekonomi baru di sekitar stasiun.
​Namun, potensi itu hanya akan maksimal jika pemerintah daerah bergerak proaktif. Teguh mendesak pemda segera menyediakan transportasi pengumpan (feeder), pusat informasi pariwisata, fasilitas komersial, hingga ruang publik di sekitar simpul transportasi.
​“Transportasi publik yang terintegrasi akan menciptakan budaya mobilitas baru yang lebih efisien, meningkatkan aksesibilitas, sekaligus menekan emisi karbon secara signifikan,” paparnya.
Teguh juga mengingatkan pentingnya konsep TOD, sebuah pola pembangunan kawasan yang menyatukan hunian, fasilitas publik, ruang terbuka hijau, dan pusat ekonomi dalam satu titik yang terhubung langsung dengan transportasi massal.
​TOD dinilai sebagai senjata ampuh melawan urban sprawl (pemekaran kota yang tidak terkendali). Dengan konsep ini, masyarakat didorong untuk lebih banyak berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan angkutan umum dalam aktivitas sehari-hari.
​“Pembangunan kota harus dirancang lebih kompak dan efisien. TOD bukan hanya solusi transportasi, tetapi juga solusi perumahan, lingkungan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat,” jelas Teguh.
Dalam kesempatan tersebut Teguh juga memastikan pihak parlemen terus mengawal arah pembangunan berkelanjutan ini melalui fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran.
“Saat ini DPR RI tengah menggodok revisi Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Salah satu poin krusial yang dimasukkan adalah standarisasi kebijakan transportasi yang adaptif terhadap teknologi dan ramah lingkungan,” jelas Teguh.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa regulasi tidak akan berjalan tanpa adanya komitmen politik (political will) dan kolaborasi lintas sektor.
Teguh berharap, pada generasi muda, khususnya mahasiswa teknik serta perencanaan wilayah dan kota (PWK) Universitas Hasanuddin, untuk mengambil peran aktif.
​“Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga ahli, perencana, dan insinyur yang mampu menghadirkan solusi pembangunan berkelanjutan. Generasi muda harus menjadi bagian dari perubahan tersebut,” pungkas Teguh. (Nurhadi/*)
0 Komentar