GORONTALO (21 Juni): Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Rachmat Gobel, mengajak semua peserta Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 untuk menjadikan forum ini sebagai momentum kemandirian pangan.
“Dalam konteks ini, sektor pertanian dan perikanan harus menjadi fondasi ekonomi nasional,” ungkap Gobel usai mengikuti acara pembukaan Penas Petani dan Nelayan di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Sabtu (20/6/2026).
Acara empat tahunan ini dibuka Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan menurut rencana akan ditutup Presiden Prabowo Subianto pada 24 Juni 2026. Dalam acara itu hadir Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Bupati Gorontalo Sofyan Puhi, dan para pejabat lainnya. Acara ini diikuti para petani, nelayan, penyuluh, dan para stake holders lainnya. Dalam acara itu juga dipamerkan alat-alat pertanian.
Pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan, kata Gobel, harus menjadi fondasi ekonomi nasional.
“Karena itu kekuatan Indonesia. Lahan luas, jumlah sumberdaya manusia yang terlibat di dalamnya sangat besar, cuma memiliki dua musim, dan tanahnya subur. Ini bukan hanya kekuatan ekonomi, tapi juga ketahanan nasional kita,” katanya.
Sebagai bagian dari tuan rumah, Gobel menghadirkan empat destinasi wisata yang ditata dan dikembangkan dirinya sebagai anggota DPR seperti kawasan air panas Pentadio dengan menampilkan patung kucing, videotron berbentuk bola yang merupakan satu-satunya di Indonesia, perbaikan Menara Pakaya, mempercantik Danau Perintis dengan menghadirkan wahana ayunan lampu, dan juga kawasan Pantai Tamendao. Dengan demikian, para peserta yang berjumlah ribuan orang dari seluruh Indonesia akan memiliki tempat yang mencukupi untuk relaksasi di sela-sela mengikuti kegiatan selama lima hari tersebut.
Untuk mewujudkan kemandirian pangan, Gobel membangun ekosistem pertanian yang terintegrasi dengan wisata dan pendidikan. Karena itu, ia membangun 20 desa agrowisata dengan 10 komoditas pertanian.
Untuk tahap awal Gobel membangun Agrowisata Kacang Desa Tilihuwa. Pembangunan sebuah ekosistem wisata, ekonomi, pertanian, dan edukasi berbasis komunitas dengan komoditas kacang tanah ini merupakan bagian dari upaya membangun kesejahteraan petani dan masyarakat desa.
Gobel juga membangun balai kerja, perkantoran, pergudangan, MCK umum, PAUD, dan home stay. Semuanya dikelola oleh sebuah koperasi. Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti dan tim sudah meninjau Desa Agrowisata Kacang Tanah tersebut yang terletak di Desa Tilihuwa. Melalui pembicaraan intensif, BPPSDMP akan membantu pelatihan tenaga teknis untuk perawatan alsintan, peningkatan kualitas penyuluh, serta penguatan kelembagaannya.
Gobel mengatakan, perhelatan ini harus menjadi momentum bagi stake holders pertanian dan perikanan untuk unjuk kebolehan dari masing-masing daerah tentang keunggulan komoditas dan produk masing-masing.
Dengan demikian, katanya, para peserta bisa bertukar pengalaman, saling belajar, dan kemudian melakukan kolaborasi. Selain itu, katanya, juga bisa menunjukkan inovasi yang sudah dilakukan sehingga bisa ditularkan ke peserta dari daerah lain.
Tentang kolaborasi, Gobel menceritakan pengalamannya yang sedang merajut kolaborasi dengan Kota Sukabumi dengan menjajaki kemungkinan kerja sama penanaman kacang kedelai. Untuk tanaman kacang tanah, ia juga berkolaborasi dengan Garudafood. Sedangkan untuk tanaman kakao dan kopi, ia merajut kerja sama dengan Chateraise. Garudafood adalah perusahaan olahan kacang tanah, sedangkan Chateraise adalah perusahaan kueh dan es krim dari Jepang.
Lebih lanjut Gobel mengatakan bahwa kesejahteraan petani dan produktivitas pertanian harus berjalan beriringan.
“Mutu dan kuantitas produk dibutuhkan oleh konsumen dan penting bagi ketahanan nasional, namun kesejahteraan petani dan nelayan juga harus terus meningkat. Inilah yang harus dicapai secara bersama-sama oleh pemerintah, petani, nelayan, dan pengusaha,” katanya.
Menurutnya, petani dan nelayan dihadapkan pada masalah kemiskinan, problem bibit dan pupuk, serta harga jual yang jatuh saat panen. Ia mengakui pemerintahan Prabowo Subianto sedang bekerja keras menjamin pasokan pupuk dan bibit dengan harga terjangkau serta menjamin penyerapan hasil panen dengan harga yang memadai.
Gobel mengatakan, kemajuan pertanian dan perikanan serta kemakmuran petani dan nelayan seluruh Indonesia harus berjalan seiring.
“Penas menjadi forum strategis bagi petani dan nelayan serta pertanian dan perikanan. Di sini bisa bertukar dan menimba ilmu dan pengalaman sehingga bisa melahirkan inovasi baru yang bisa dibawa pulang ke daerah masing-masing,” katanya.
Ke depan, kata Gobel, modernisasi pertanian adalah kebutuhan mutlak untuk menjamin pasokan pangan dan tantangan perubahan iklim.
“Ada masalah ancaman krisis pangan dunia. Ini harus disadari bersama. Petani dan nelayan menjadi ujung tombak ketahanan nasional dan kemajuan bangsa. Ajang Penas ini harus menjadi kesadaran bersama tentang strategisnya petani dan nelayan serta pertanian dan perikanan bagi masa depan Indonesia,” pungkasnya. (nasihin/*)
0 Komentar