JAKARTA (26 Juni): Ada yang berbeda di lantai satu Gedung Perpustakaan DPR RI, Kamis (25 Juni 2026) siang, kemarin. Di antara deretan rak buku dan aroma kertas, tidak kurang lima puluh orang duduk menyimak sebuah percakapan yang tidak biasa. Siang hari itu, Perpustakaan DPR menggelar sebuah talk show dalam rangka Festival Literasi.
Talk show itu tidak bicara tentang angka-angka kebijakan, bukan pula tentang perdebatan politik. Melainkan tentang sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana sebuah bangsa membaca dirinya sendiri.
Talkshow bertajuk ‘Literasi Budaya untuk Demokrasi: Merawat Kearifan, Menguatkan Kebangsaan’ yang digelar pukul 13.00–15.00 WIB itu menghadirkan narasumber dari tiga dunia yang berbeda: politik, gerakan literasi, dan akademia.
Mereka adalah Willy Aditya, anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem; Wien Muldian, pegiat literasi yang telah lama berkecimpung di dunia buku dan bacaan; serta Andari Karina Anom, S.Sos., M.A., dosen komunikasi Universitas Bina Nusantara sekaligus peneliti doktoral di bidang komunikasi.
Di antara banyak hal yang dibicarakan, ada satu momen yang paling membekas dalam kesempatan tersebut.
Selaku politisi, Willy tidak berbicara tentang kebijakan atau undang-undang terkait literasi. Dalam kesempatan tersebut dia justru berbicara tentang office boy (OB), tentang Pamdal (petugas keamanan di lingkungan DPR), karyawan Setjen DPR, hingga sopir-sopir para anggota DPR yang setiap hari lalu-lalang di koridor dan basement tempat mobil terparkir. Perhatiannya tertuju pada sesuatu yang selama ini luput dari perhatian banyak pihak. Ialah soal akses dan ruang mereka akan literasi.
“Niat baik membangun literasi bisa dimulai dari hal-hal yang ada di sekitar kita, untuk orang-orang di lingkungan kita sendiri,” ujar Willy.
Willy mengusulkan sesuatu yang sederhana namun penuh makna: pojok baca di basement, di area parkir, di tempat istirahat para karyawan dan mereka yang disebut tadi. Ruang-ruang yang selama ini hanya menjadi tempat transit, dia bayangkan bisa menjelma menjadi jendela pengetahuan yang accesable. Yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang seragam yang mereka kenakan.
“Memang para pemimpin sidang di DPR ini bisa lancar berkat siapa jika bukan karena pengamanan para Pamdal? Memang kerja para TA (Tenaga Ahli) bisa selancar apa jika beberapa kebutuhannya tidak ditopang oleh para OB?” ungkapnya retorik.
Oleh karena itu, tak berhenti di tataran gagasan dan wacana, dalam kesempatan tersebut Willy langsung membagikan buku diari (buku harian) kepada para petugas kebersihan, petugas keamanan, dan karyawan DPR RI yang hadir.
“Bukan buku tebal berisi teori. Hanya sebuah buku catatan kecil dengan harapan besar bahwa menulis, seperti membaca, bisa menjadi kebiasaan yang tumbuh dari keseharian,” kata Willy mengiringi prosesi penyerahan secara simbolik.
“Karena literasi bukan sekadar membaca. Literasi adalah pengetahuan yang memadai tentang sesuatu hal. Karena itulah dibutuhkan juga menulis agar tumbuh dialektika di dalam pikiran kita. Itulah sejatinya literasi,” imbuhnya.
Bisa jadi itulah esensi talkshow pada siang hari yang basah itu. Literasi bukan sekadar mengetahui dan bukan hanya milik mereka yang duduk di bangku seminar atau sekolah. Literasi adalah milik semua pihak dan kalangan. Milik mereka yang membaca koran di kantin, yang berdiskusi tentang apa yang baru saja dibacanya, hingga para sopir yang menulis catatan kecil di sela jam istirahat saat menunggu atasannya bersidang di gedung DPR. (RO/*)
0 Komentar