Oleh: N.D. Santoso
Tim Media Center NasDem
SELAMA berabad-abad, laut datang ke Cape Verde membawa kapal. Sebagian membawa rempah, sebagian lagi membawa harapan. Tetapi terlalu banyak yang membawa luka.
Di kepulauan kecil yang terapung di tengah Samudra Atlantik itu, sejarah pernah mencatat salah satu babak paling kelam dalam peradaban manusia. Cape Verde menjadi salah satu persinggahan penting dalam perdagangan budak Atlantik.
Dari pelabuhan-pelabuhan kecilnya, ribuan manusia dipisahkan dari tanah kelahirannya untuk menyeberangi samudra tanpa pernah tahu apakah mereka akan kembali. Seolah-olah takdir telah memutuskan bahwa negeri kecil itu hanya akan dikenang sebagai tempat persinggahan, bukan tujuan.
Namun sejarah selalu memiliki cara yang aneh untuk memperbaiki dirinya sendiri. Dunia mengenalnya sebagai Cape Verde. FIFA dan pemerintah resminya menyebut Cabo Verde, mengikuti nama Portugis yang menjadi nama resmi negara itu. Di Indonesia, kita pernah mengenalnya sebagai Tanjung Verde.
Tiga nama untuk satu negeri kecil di tengah Samudra Atlantik. Apa pun namanya, mimpi yang mereka bawa selalu sama, membuktikan bahwa ukuran sebuah bangsa tidak pernah ditentukan oleh luas wilayahnya.
Berabad-abad kemudian, laut yang sama kembali membawa nama Cabo Verde melintasi Atlantik. Kali ini bukan melalui kapal-kapal yang mengangkut manusia. Melainkan melalui sebelas anak bangsa yang mengenakan seragam biru.
Untuk pertama kalinya, dunia tidak lagi mengenal Cabo Verde karena masa lalunya. Dunia mulai mengenalnya karena keberaniannya.
Penduduk Cabo Verde hanya sekitar setengah juta jiwa. Lebih sedikit daripada banyak kota di Indonesia. Negara kepulauan itu bahkan mencatat sejarah sebagai negara dengan populasi paling kecil yang pernah mencapai fase gugur Piala Dunia.
Ironisnya, anak-anak Cabo Verde justru tersebar di berbagai penjuru dunia, ada yang tinggal di Portugal, Belanda, Prancis, Irlandia, hingga Amerika Serikat. Sebagian besar tumbuh jauh dari tanah leluhurnya. Namun ketika lagu kebangsaan Cabo Verde berkumandang di panggung Piala Dunia, mereka memilih berdiri di bawah satu bendera yang sama.
Selama bertahun-tahun, wajah sepak bola Cabo Verde selalu pulang kepada Ryan Mendes, Sang kapten. Mendes bukan pemain paling terkenal di dunia. Tetapi orang yang percaya bahwa bangsanya pantas berdiri di panggung terbesar.
Di sampingnya berdiri Jamiro Monteiro, anak diaspora yang lahir dan dibesarkan di Rotterdam, Belanda, namun memilih darah leluhurnya daripada sekadar kenyamanan tempatnya dibesarkan. Mereka bukan generasi yang dipenuhi bintang. Mereka adalah generasi yang dipenuhi keyakinan.
Namun ada satu sosok yang diam-diam menjadi wajah keteguhan negeri kepulauan itu. Nama aslinya Josimar José Évora Dias. Tetapi dunia hampir tidak mengenalnya dengan nama itu. Di punggung seragamnya hanya tertulis satu kata, VOZINHA.
Julukan itu telah melekat sejak masa kecilnya yang dibesarkan oleh kakek dan neneknya ketika kedua orang tuanya harus bekerja. Karena itulah teman-temannya memanggilnya “Vozinha”, sebuah panggilan yang selalu mengingatkannya kepada rumah pertama yang membesarkannya.
Ketika dewasa, Vozinha bisa saja kembali memakai nama Josimar. Namun memilih mempertahankan nama itu. Nama yang selalu mengingatkannya bahwa manusia tidak pernah benar-benar besar jika melupakan siapa yang pertama kali membesarkannya.
Ironisnya, dunia baru benar-benar mengenal nama Vozinha ketika usianya telah menginjak empat puluh tahun. Saat banyak penjaga gawang seusianya telah lama pensiun, Vozinha justru sedang menjaga mimpi terbesar yang pernah dimiliki bangsanya.
Piala Dunia menjadi panggung yang selama ini hanya mereka saksikan dari kejauhan. Dunia mengenal tim nasional Cabo Verde dengan julukan Blue Sharks, dalam bahasa Portugis disebut Tubarões Azuis, Hiu Biru dari Samudra Atlantik. Julukan itu terasa begitu tepat. Hiu tidak pernah menjadi penguasa lautan karena tubuhnya paling besar. Namun disegani karena keberaniannya berenang di samudra yang sama dengan makhluk-makhluk yang jauh lebih besar.
Begitu pula Cabo Verde. Negeri kepulauan itu tidak pernah meminta dunia mengasihaninya. Mereka memilih membuat dunia menghormatinya. Ketika banyak orang menghitung luas wilayah, jumlah penduduk, dan kekuatan lawan, Blue Sharks justru sedang membuktikan bahwa keberanian tidak pernah mengenal statistik.
Pada laga pembuka melawan Spanyol, serangan datang bertubi-tubi. Peluang demi peluang mengarah ke gawang Cabo Verde. Namun setiap kali bola datang, selalu ada sepasang tangan, badan, atau kaki yang menolaknya.
Penampilan Vozinha membuat FIFA menobatkannya sebagai Player of the Match. Bagi dunia, itu hanyalah penghargaan individu. Bagi rakyat Cabo Verde, malam itu jauh lebih besar daripada sebuah trofi pribadi. Karena Vozinha tidak hanya sedang menjaga gawang. Melainkan sedang menjaga martabat sebuah bangsa.
Dunia pun seolah mulai bertanya, “Siapa sebenarnya Cabo Verde?” Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi bagi sebuah bangsa yang terlalu lama tidak dipandang, pertanyaan itu adalah kemenangan pertama.
Babak gugur kemudian mempertemukan mereka dengan Argentina, sebagai petahana Piala Dunia. Di satu sisi berdiri Lionel Messi dan deretan pemain terbaik dunia. Di sisi lain berdiri sebuah negara kepulauan yang bahkan jumlah penduduknya lebih sedikit daripada banyak kota di dunia.
Namun ketika pertandingan dimulai, ukuran wilayah tidak lagi berarti. Cabo Verde menolak tunduk. Mereka memaksa Argentina bekerja jauh lebih keras daripada yang diperkirakan siapa pun. Argentina akhirnya menang 3 – 2 setelah sebuah pertandingan yang menguras tenaga dan emosi kedua tim.
Usai pertandingan, Lionel Messi menghampiri Vozinha. Tidak banyak kata yang terekam kamera. Namun gestur sederhana itu sudah cukup. Kadang-kadang, rasa hormat dari seorang lawan mengatakan lebih banyak daripada seribu pujian.
Malam itu Cabo Verde memang tidak melangkah lebih jauh. Tetapi mereka berhasil melakukan sesuatu yang jauh lebih besar. Mereka membuat dunia percaya bahwa keberanian tidak pernah mengenal ukuran wilayah.
Sebelum Piala Dunia dimulai, harapan terbesar Vozinha ternyata sangat sederhana. Bukan mengangkat trofi. Bukan menjadi pemain terbaik. Vozinha hanya ingin ibunya menyaksikan dirinya bermain di panggung terbesar sepak bola dunia.
Ketika mimpi itu akhirnya terwujud, manusia berusia empat puluh tahun itu kembali menjadi seorang anak di hadapan ibunya. Mungkin sebesar apa pun panggung yang kita pijak, selalu ada satu senyum yang paling ingin kita lihat. Senyum orang tua.
Lalu tibalah hari ketika Tim Blue Sharks pulang. Seolah sejarah sengaja memilih hari itu. Tim nasional Cabo Verde kembali tepat ketika negerinya merayakan Hari Kemerdekaan.
Pesawat yang membawa para pemain mendarat di Praia. Ribuan orang telah menunggu sejak pagi. Bendera Cabo Verde berkibar di sepanjang jalan. Musik memenuhi udara. Anak-anak meneriakkan nama para pemain. Mereka diarak dengan truk terbuka menuju Quebra Canela di tengah lautan manusia. Di atas truk itu, Vozinha mengangkat kedua tangannya, memimpin nyanyian bersama rakyat yang menyambut mereka.
Hari itu, Cabo Verde tidak sedang merayakan hasil pertandingan. Mereka sedang merayakan harga diri sebuah bangsa.
Dahulu laut yang mengelilingi Cabo Verde menjadi saksi ketika begitu banyak anak-anaknya direnggut dari tanah kelahirannya. Hari ini, laut yang sama mengantarkan pulang Blue Sharks. Bukan sebagai budak, pula bukan sebagai pelarian. Tetapi sebagai kebanggaan sebuah bangsa.
Dunia mungkin akan mengingat Argentina sebagai pemenang pertandingan itu. Tetapi rakyat Cabo Verde mengingat sesuatu yang berbeda. Mereka mengingat hari ketika sebuah negeri kecil pulang tanpa trofi, namun disambut seperti juara. Sebab mereka memahami sesuatu yang sering kali dilupakan dunia. Bahwa hiu tidak pernah meminta lautan menjadi tenang namun belajar menjadi kuat di tengah gelombang.
Takdir memang menentukan di mana sebuah bangsa dilahirkan. Tetapi spirit menentukan bagaimana bangsa itu dikenang.
0 Komentar