MAUMERE (19 Agustus): Menyeberangi laut untuk menjangkau warga terdampak gempa di sejumlah pulau di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari Pelabuhan Wuring di Maumere, perahu motor membawa rombongan NasDem Peduli menyusuri perairan menuju Pulau Kojadoi dan Pulau Pemana.
Perjalanan itu dilakukan untuk memastikan bantuan kemanusiaan tiba di tengah warga yang masih bertahan di pengungsian.
Dari Wuring, rombongan bergerak menuju Desa Kojadoi, Kecamatan Alok Timur, yang berada di Pulau Kojadoi. Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Pemana di Pulau Pemana, sebelum bantuan menyambangi warga di Desa Gunung Sari.
Tiga desa menjadi sasaran penyaluran bantuan, yakni Desa Kojadoi di Pulau Kojadoi serta Desa Pemana, dan Desa Gunung Sari di Pulau Pemana.
Melalui gerakan NasDem Peduli, Julie Sutrisno Laiskodat, anggota DPR RI Fraksi NasDem dari Daerah Pemilihan NTT I, menyalurkan bantuan berupa 2,1 ton beras, 200 lembar selimut, dan 100 lembar terpal.
Bantuan tersebut menyasar warga yang masih menghadapi keterbatasan setelah gempa, termasuk mereka yang harus meninggalkan rumah dan bertahan di tempat pengungsian.
Di Desa Kojadoi, tercatat 284 warga masih berada di pengungsian. Sementara di Desa Pemana, Pulau Pemana, sebanyak 584 warga masih mengungsi. Sebagian besar pengungsi berasal dari kelompok rentan, mulai dari anak-anak, bayi, ibu-ibu hingga lanjut usia.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan paling mendasar menjadi perhatian utama. Beras diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, sementara selimut dan terpal dibutuhkan warga yang masih bertahan di tempat pengungsian.
Bagi sebagian warga Desa Kojadoi, kedatangan NasDem Peduli membawa arti tersendiri. Bantuan yang disalurkan melalui Julie disebut sebagai bantuan pertama yang diterima warga di pulau tersebut setelah gempa.
Ibu Amiyati, warga Desa Kojadoi, menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan yang telah tiba di tengah keterbatasan warga.
“Terima kasih, Ibu Julie. Ini bantuan pertama yang kami terima di pulau ini dari Ibu Julie. Semua bantuan sudah kami terima,” ujar Amiyati, Selasa (18/2026).
Ucapan itu disampaikan sederhana, tetapi menggambarkan situasi warga yang masih membutuhkan perhatian dan dukungan untuk melewati masa pemulihan.
Bagi Julie, kondisi geografis kepulauan tidak boleh membuat warga terdampak bencana semakin jauh dari jangkauan bantuan. Karena itu, perjalanan menuju pulau-pulau tersebut menjadi bagian penting dari upaya memastikan kebutuhan masyarakat diketahui sekaligus ditindaklanjuti.
“Kepedulian dalam situasi bencana harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Kehadiran di tengah masyarakat penting untuk memastikan kebutuhan warga terdampak tidak berhenti pada laporan, tetapi benar-benar sampai ke lapangan,” kata Julie.
Menurut dia, penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Kerja kemanusiaan membutuhkan kolaborasi antara relawan, partai politik, pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat.
Koordinasi tersebut juga harus ditopang pendataan yang akurat. Jumlah pengungsi, kondisi kelompok rentan, kebutuhan pangan, serta perlengkapan dasar perlu dipetakan secara berkala agar bantuan berikutnya dapat diberikan secara tepat sasaran.
“Dalam situasi seperti ini, keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar harus menjadi perhatian utama. Kita harus bergerak cepat, bekerja bersama, dan memastikan masyarakat terdampak tidak berjalan sendiri menghadapi masa sulit ini,” ujar Julie.
Perjalanan dari Wuring menuju Kojadoi, kemudian berlanjut ke Pemana dan Gunung Sari, memperlihatkan tantangan penanganan bencana di wilayah kepulauan. Di tempat-tempat yang dipisahkan laut, bantuan membutuhkan waktu, tenaga, dan kemauan untuk mendatangi warga.
Namun bagi masyarakat yang masih bertahan di pengungsian, kedatangan bantuan membawa arti yang jauh lebih sederhana dan penting: mereka tahu bahwa di tengah sulitnya masa pemulihan, masih ada tangan yang datang menghampiri. (bronto/*)
0 Komentar