MAUMERE (19 Agustus): Empat hari setelah gempa mengguncang Flores, laut tidak menjadi batas bagi bantuan kemanusiaan. Dari Maumere, rombongan NasDem Peduli menyeberangi perairan menuju pulau-pulau kecil di Kabupaten Sikka untuk menjangkau warga yang masih bertahan di pengungsian.
Perjalanan itu membawa bantuan sekaligus pesan bahwa warga di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau tetap mendapat perhatian. Dengan perahu, kader Partai NasDem menyusuri perairan menuju Pulau Kojadoi dan Pulau Pemana. Dari titik kedatangan, bantuan kemudian dibawa dari satu lokasi pengungsian ke lokasi lainnya, bahkan diantar dari rumah ke rumah.
Melalui gerakan NasDem Peduli, anggota DPR RI Fraksi NasDem Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur I, Julie Sutrisno Laiskodat, menyalurkan 2,1 ton beras, 200 lembar selimut, dan 100 lembar terpal untuk warga terdampak gempa di tiga desa kepulauan di Kabupaten Sikka.
Tiga wilayah yang menjadi sasaran bantuan ialah Desa Kojadoi, Desa Pemana, dan Desa Gunung Sari di Pulau Pemana.
Pulau Pemana berada di perairan Laut Flores dan merupakan bagian dari Desa Pemana, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. Pulau tersebut merupakan salah satu pulau kecil di antara 18 pulau di wilayah Kabupaten Sikka yang terdampak gempa pada 15 Agustus.
Bagi warga yang kehilangan rasa aman setelah gempa, kebutuhan paling sederhana justru menjadi yang paling mendesak. Beras dibutuhkan untuk memastikan makanan tetap tersedia. Selimut diperlukan ketika malam datang. Sementara terpal menjadi pelindung bagi warga yang belum dapat kembali ke rumah atau masih memilih bertahan di ruang terbuka.
Di Desa Kojadoi, sebanyak 284 warga masih berada di pengungsian. Adapun di Desa Pemana, tercatat 584 warga masih mengungsi. Di antara mereka terdapat bayi, anak-anak, perempuan, dan lanjut usia yang membutuhkan perhatian lebih.
Kondisi itu membuat perjalanan menuju pulau-pulau tersebut menjadi bagian penting dari upaya penanganan pascabencana. Bantuan tidak cukup berhenti di pelabuhan atau titik distribusi. Ia harus dibawa hingga mendekati warga yang membutuhkan.
Salah seorang warga Pemana, Susilwati, menuturkan bahwa setelah gempa, ia bersama keluarganya sempat bertahan di bawah pohon karena belum memiliki terpal. Tenda yang kemudian digunakan pun merupakan pinjaman.
“Pertama kami tidur di bawah pohon, belum ada tenda. Sekarang baru ada tenda. Ini juga tenda orang yang pinjam kami,” ujar Susilwati.
Ia mengatakan, kondisi serupa juga dirasakan warga lain yang masih membutuhkan perlengkapan dasar untuk bertahan selama masa pengungsian.
Kedatangan NasDem Peduli menjadi bantuan pertama yang diterima sebagian warga di pulau tersebut. Susilwati menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan, terutama terpal yang dapat digunakan untuk melindungi keluarga dari panas dan hujan.
Bagi Julie Sutrisno Laiskodat, kondisi di wilayah kepulauan menunjukkan bahwa penanganan bencana membutuhkan kepekaan terhadap karakter geografis setiap daerah. Warga yang tinggal di pulau-pulau kecil menghadapi tantangan tambahan karena bantuan harus melewati jalur laut sebelum sampai ke tangan mereka.
“Dalam situasi bencana, kita harus memastikan warga yang berada jauh dari pusat layanan tetap terjangkau. Ketika aksesnya melalui laut, tentu dibutuhkan waktu dan tenaga lebih, tetapi kebutuhan mereka tidak dapat menunggu,” kata Julie.
Ia menekankan pentingnya memastikan kelompok rentan memperoleh perhatian dalam masa tanggap darurat, terutama anak-anak dan lanjut usia.
“Anak-anak, bayi, ibu-ibu dan orang lanjut usia harus menjadi perhatian. Mereka membutuhkan tempat berlindung yang layak, makanan, air dan rasa aman selama masa pemulihan,” ujarnya.
Pada hari keempat setelah gempa, penyisiran masih dilakukan di sejumlah titik pengungsian, termasuk lokasi tempat warga memilih melakukan evakuasi mandiri di sekitar kebun atau area terbuka. Sebagian warga masih tidur dengan alas seadanya dan belum memiliki terpal.
Jalur laut yang ditempuh rombongan NasDem Peduli sekaligus memperlihatkan wajah lain dari penanganan bencana di wilayah kepulauan. Jarak beberapa mil yang terlihat sederhana di peta dapat menjadi perjalanan panjang ketika harus membawa logistik dalam situasi darurat.
Namun, bagi warga yang menunggu di bawah pohon, di tenda pinjaman, atau di tempat pengungsian seadanya, arti kedatangan bantuan jauh lebih sederhana. Ada beras yang dapat dimasak untuk keluarga. Ada terpal yang dapat dipasang sebagai pelindung. Ada selimut untuk menghadapi malam. Dan ada keyakinan bahwa di tengah pulau yang dipisahkan laut dari pusat kota, mereka tidak dilupakan. (bronto/*)
0 Komentar