JAKARTA (26 September): Sekretaris Jenderal DPP Garda Wanita (Garnita) Malahayati Partai NasDem Tantri Moerdopo menilai, keterwakilan perempuan dalam penyelenggara pemilu perlu menjadi perhatian. Menurutnya, isu tersebut tidak kalah penting dari pembahasan mengenai keterwakilan perempuan sebagai calon legislatif.
Hal itu menjadi salah satu poin pembahasan dalam silaturahmi Partai NasDem dengan Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP) di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Jumat (25/9).
Dalam pertemuan tersebut, hadir Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai NasDem Hermawi Taslim, Wasekjen Siar Anggretta Siagian, Anggota Bidang Perempuan dan Anak Regina Nadya Suwono, serta Ketua GPSP Dr. Sri Budi Eko Wardani beserta jajaran.
“Ya, kita melihat ini menjadi penting juga karena ternyata selama ini kita membicarakan tentang pencalegan, tentang calegnya, jumlahnya, ternyata penyelenggara pemilunya pun belum mencapai kuota tersebut,” kata Tantri.
Menurut Tantri, keberadaan perempuan dalam jajaran penyelenggara pemilu penting karena mereka turut menentukan bagaimana sistem dan proses pemilu berlangsung.
“Menjadi hal yang sangat penting juga karena penyelenggara ini yang menyelenggarakan sistem pemilunya, menyelenggarakan bagaimana pemilu itu berlangsung,” ujarnya.
Tantri menilai, semakin banyak perempuan terlibat dalam penyelenggaraan pemilu, semakin terbuka pula ruang bagi isu-isu perempuan untuk diperhatikan. Misalnya, terkait penyediaan tempat yang ramah perempuan hingga pengaturan waktu pelaksanaan kegiatan pemilu.
“Jadi, hal-hal seperti ini juga perlu dukungan. Kalau ternyata memenuhi kuota perempuannya lebih banyak, tentu isu-isu perempuan pun juga lebih banyak disuarakan,” katanya.
Ia menegaskan, perjuangan keterwakilan perempuan tidak semata-mata berhenti pada pemenuhan kuota. Lebih dari itu, isu perempuan harus benar-benar masuk dalam proses pengambilan keputusan dan diwujudkan dalam kebijakan.
“Jadi tidak hanya masalah memenuhi kuota perempuannya, tapi bagaimana juga isu-isu perempuan bisa disuarakan dan juga betul-betul bisa dilaksanakan,” ujar Tantri.
Tantri juga menekankan bahwa perjuangan terhadap isu perempuan bukan semata-mata persoalan siapa yang menduduki posisi tersebut, apakah perempuan atau laki-laki. Menurutnya, yang lebih penting adalah pemahaman dan keberpihakan terhadap isu-isu perempuan.
“Buat saya, bukan masalah perempuan atau laki-lakinya, tapi bagaimana kemudian dia bisa menyuarakan juga isu-isu perempuan. Jadi bagaimana dia bisa melaksanakan ataupun juga mengerti,” tuturnya.
Karena itu, Tantri berharap laki-laki juga dapat mengambil peran dalam memahami serta mengakomodasi berbagai persoalan yang dihadapi perempuan.
“Harapannya, kalau misalnya kemudian para laki-laki bisa mengerti juga, yuk kita bekerja sama untuk bisa tahu dan mengakomodir apa saja isu-isu perempuan dan bagaimana juga melaksanakan itu dan mewujudkannya sehingga kita bisa sama-sama bergandeng tangan,” pungkasnya. (WH/AS)
0 Komentar