Home / Berita / Opini
Opini

Malahayati Tak Cukup Dihayati

📅 20 Okt 2026 💬 0 Komentar
Bagikan artikel:

Oleh: Fevi Desy Noliza, S.E.

(Wakil Ketua DPW Partai NasDem Aceh / Wakil Ketua DPW Garnita Malahayati NasDem Aceh)

Sejarah tidak hanya menyimpan nama-nama besar untuk dikenang, tetapi juga mewariskan nilai-nilai yang menuntut untuk dilanjutkan. Laksamana Malahayati adalah salah satu sosok yang meninggalkan pesan penting bagi perempuan Indonesia bahwa keberanian bukan semata-mata tentang menghadapi tantangan, melainkan juga tentang kesediaan mengambil peran dan memikul tanggung jawab.

Dari Aceh, semangat itu menemukan relevansinya hingga saat ini. Perempuan tidak lagi hanya berbicara tentang kesempatan untuk hadir dalam ruang publik, tetapi juga tentang bagaimana kehadiran tersebut menghasilkan kontribusi yang berarti bagi masyarakat.

Dalam konteks itulah, pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Garnita Malahayati NasDem se-Aceh pada 15 Oktober 2026 di Tower DPW Partai NasDem Aceh memiliki makna yang lebih luas daripada pengukuhan kepengurusan. Momentum yang melibatkan 120 pengurus dalam susunan kepengurusan tersebut merupakan kesempatan untuk mempertegas arah gerakan perempuan sekaligus menguji kesungguhan organisasi dalam menjalankan amanahnya.

Sebab, pelantikan dapat menetapkan siapa yang memegang jabatan, tetapi tidak dengan sendirinya menentukan kualitas kepemimpinan. Jabatan memberikan kewenangan, sedangkan kepercayaan tumbuh melalui tindakan. Dan pengabdian baru memiliki arti ketika manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain. Perbedaan itulah yang semestinya menjadi titik tolak bagi perjalanan Garnita Malahayati NasDem Aceh setelah pelantikan.

Ziarah ke makam Laksamana Malahayati pada 14 Oktober 2026 menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan tersebut. Di tengah kesibukan mempersiapkan agenda organisasi, ziarah menghadirkan ruang untuk merenungkan kembali nilai perjuangan perempuan Aceh. Namun, penghormatan terhadap tokoh sejarah tidak cukup berhenti pada doa, kunjungan, atau penyebutan nama dalam berbagai kegiatan. Menghidupkan warisan perjuangan berarti membawa nilai-nilainya ke dalam persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Jika pada masa lalu keberanian Malahayati hadir dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan, pada masa kini semangat keberanian dapat diwujudkan melalui upaya memperluas akses pendidikan, memperkuat kemandirian ekonomi, meningkatkan kapasitas perempuan, serta mendorong perlindungan dan kesejahteraan perempuan dan anak. Bentuk perjuangannya berubah mengikuti zaman, tetapi esensinya tetap sama yaitu tidak menyerah pada keadaan, berani mengambil tanggung jawab, dan menggunakan kemampuan untuk kepentingan yang lebih luas.

Nama Malahayati yang disematkan pada organisasi karena itu bukan sekadar identitas. Nama tersebut membawa kehormatan sekaligus tanggung jawab moral. Semakin besar nilai sejarah yang menjadi inspirasi sebuah organisasi, semakin penting pula upaya untuk memastikan bahwa nilai tersebut tercermin dalam perilaku dan karya para pengurusnya. Di sinilah pelantikan harus dipahami sebagai awal pembuktian, bukan puncak pencapaian.

Setelah prosesi selesai, tantangan sesungguhnya justru dimulai. Pengurus perlu membangun koordinasi, menyusun prioritas, membagi tanggung jawab, dan memastikan bahwa setiap program memiliki tujuan yang jelas. Organisasi harus bergerak melampaui rutinitas administratif menuju kegiatan yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Garnita Malahayati NasDem Aceh memiliki peluang untuk mengambil peran dalam proses tersebut. Dengan kepengurusan di tingkat wilayah dan daerah, organisasi mempunyai ruang untuk menjangkau perempuan dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam.

Persoalan perempuan di perkotaan belum tentu sama dengan yang dihadapi perempuan di wilayah pesisir atau perdesaan. Sebagian membutuhkan penguatan keterampilan dan akses ekonomi, sementara yang lain memerlukan kesempatan belajar, pendampingan, atau ruang yang lebih luas untuk menyampaikan aspirasi.

Karena itu, program organisasi sebaiknya tidak semata-mata disusun berdasarkan apa yang mudah diselenggarakan, tetapi berdasarkan apa yang benar-benar dibutuhkan. Mendengar masyarakat harus menjadi bagian dari proses kerja, bukan hanya pelengkap dalam kegiatan.

Pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, literasi digital, pendidikan keluarga, dan pengembangan kapasitas kepemimpinan dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan masing-masing daerah. Namun, keberhasilan program tidak cukup dinilai dari jumlah peserta atau banyaknya agenda yang terlaksana. Yang lebih penting adalah perubahan apa yang dihasilkan dan apakah manfaatnya dapat berlanjut setelah kegiatan berakhir.

Organisasi tidak harus selalu memulai dengan langkah besar. Program sederhana yang menjawab persoalan secara tepat, dijalankan secara konsisten, dan dievaluasi dengan jujur dapat menghasilkan manfaat yang jauh lebih berarti daripada kegiatan besar yang hanya meninggalkan dokumentasi.

Pemikiran ini juga relevan dalam memahami kepemimpinan perempuan. Keterwakilan perempuan dalam struktur organisasi merupakan langkah penting, tetapi keterwakilan saja belum cukup. Perempuan perlu memperoleh ruang untuk menyampaikan gagasan, mengembangkan kemampuan, mengambil keputusan, dan memengaruhi arah kebijakan.

Kepemimpinan tidak semestinya berhenti pada siapa yang menduduki posisi tertentu, melainkan terlihat dari kemampuan seseorang menggerakkan orang lain, membangun kepercayaan, dan menghadirkan solusi. Dalam hal ini, Garnita Malahayati NasDem dapat menjadi ruang bagi perempuan untuk belajar memimpin sekaligus memperluas kontribusinya dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Organisasi perlu membangun budaya yang terbuka terhadap aspirasi, menghargai gagasan, dan memberikan kesempatan bagi pengurus untuk berkembang.

Mendengar pengalaman perempuan di lapangan sama pentingnya dengan menyusun program di ruang rapat. Sebab, keputusan yang baik berangkat dari pemahaman terhadap persoalan, bukan semata-mata dari asumsi tentang apa yang dibutuhkan masyarakat. Kepemimpinan yang kuat juga tidak dapat bertumpu pada satu figur. Ia memerlukan kerja kolektif, koordinasi yang konsisten, dan kesediaan seluruh pengurus untuk menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan masing-masing.

Kehadiran Ketua Umum Garnita Malahayati DPP, Andina Thresia Narang, bersama Sekretaris Jenderal Tantri Moerdiono dan jajaran pengurus pusat dalam rangkaian kegiatan di Aceh menjadi bagian dari penguatan hubungan antara organisasi pusat dan daerah. Dukungan Ketua DPW Partai NasDem Aceh, Irsan Sosiawan, juga menjadi dorongan bagi Garnita Malahayati NasDem Aceh untuk terus membenahi organisasi dan memperjelas arah pengabdiannya.

Penyerahan pataka kepada Ketua DPW Garnita Malahayati NasDem Aceh, Martini, melambangkan kepercayaan dan tanggung jawab kepemimpinan. Namun, tanggung jawab tersebut tidak dapat dijalankan oleh seorang pemimpin seorang diri. Ia memerlukan komunikasi terbuka, pembagian tugas yang jelas, dan kesediaan untuk saling mendukung.

Soliditas tidak cukup dibangun melalui pertemuan formal. Ia tumbuh ketika tugas dilaksanakan secara bertanggung jawab, perbedaan pendapat dikelola dengan dewasa, dan setiap pengurus memiliki kesempatan untuk berkontribusi.

Kebersamaan yang terlihat selama persiapan hingga pelaksanaan pelantikan perlu diteruskan menjadi budaya kerja. Kerja panitia dan dukungan berbagai pihak menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah kegiatan lahir dari kontribusi banyak orang. Semangat gotong royong tersebut akan jauh lebih bermakna apabila terus hadir dalam pelaksanaan program dan pelayanan kepada masyarakat.

Pada saat yang sama, identitas Aceh merupakan kekuatan yang patut dirawat. Kehadiran ‘Ratoh Jaroe’ dan tradisi pemberian ‘Bungong Jaroe’ dalam rangkaian pelantikan memperlihatkan bagaimana penghormatan terhadap budaya lokal dapat berjalan seiring dengan pengembangan organisasi. Aceh memiliki sejarah, budaya, dan nilai sosial yang dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun kedekatan dengan masyarakat. Kekayaan tersebut juga membuka kesempatan bagi Garnita Malahayati NasDem Aceh untuk memperkenalkan kiprah perempuan daerah kepada keluarga besar Garnita di seluruh Indonesia.

Namun, pengenalan yang paling kuat bukan hanya melalui publikasi kegiatan. Organisasi akan lebih mudah memperoleh kepercayaan ketika masyarakat dapat melihat konsistensi kerja dan merasakan manfaat kehadirannya. Reputasi yang baik tumbuh dari kesesuaian antara apa yang disampaikan dan apa yang dikerjakan.

Karena itu, perjalanan setelah pelantikan perlu disertai program yang realistis, pembagian tanggung jawab yang jelas, serta evaluasi berkala. Organisasi harus berani mengakui kekurangan dan memperbaiki langkah. Keterbukaan terhadap masukan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari kedewasaan dalam mengelola amanah.

Keberhasilan Garnita Malahayati NasDem Aceh tidak cukup diukur dari kelengkapan struktur, besarnya kegiatan, atau meriahnya sebuah pelantikan. Ukurannya terletak pada kemampuan organisasi memperluas kesempatan perempuan untuk berkembang, membangun kepemimpinan yang bertanggung jawab, dan menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

Laksamana Malahayati telah meninggalkan warisan keberanian dalam sejarah. Tugas generasi sekarang bukan sekadar mengulang kisah perjuangannya, melainkan meneruskan nilai-nilai yang membuat kisah itu tetap relevan. Sebab, pahlawan tidak hanya dihormati melalui nama yang diabadikan, tetapi juga melalui nilai perjuangan yang diwujudkan oleh generasi penerusnya.

Dari Aceh, semangat Malahayati harus terus hidup, bukan hanya dalam nama organisasi dan kebanggaan terhadap sejarah, melainkan dalam kepemimpinan yang berani mengambil tanggung jawab, pengabdian yang konsisten, dan karya yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh perempuan, masyarakat, dan Indonesia.

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *