Timur Tengah Memanas, Pemerintah Harus Pastikan Keamanan Jemaah Umrah
KRAKSAAN (10 Maret): Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, menyoroti pelaksanaan ibadah haji dan umrah tahun 2026, khususnya terkait faktor keamanan jamaah di tengah situasi konflik yang terjadi di Timur Tengah sejak akhir Februari lalu.
Ia menyebut sekitar 58 ribu jamaah umrah asal Indonesia sempat tertahan di Arab Saudi, meski kini secara bertahap telah kembali ke Tanah Air.
“Memang jamaah sempat tertahan. Di sini pemerintah harus bisa memastikan keamanan mereka, dari berangkat sampai kembali ke Tanah Air. Bahkan untuk selanjutnya itu masih saja ada jamaah umrah yang memang terbang, dan juga dipastikan aman,” kata Dini Probolinggo, Jatim, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, sebagian jamaah harus menempuh rute penerbangan yang memutar demi alasan keamanan. Pada awal pecahnya konflik, sempat terjadi keterlambatan penerbangan selama satu hingga tiga hari.
“Kebetulannya memang ada sedikit keterlambatan terutama pada saat satu dua hingga tiga hari saat awal-awal perang, tapi saat ini sudah lancar,” jelasnya.
Legislator Fraksi Partai NasDem tersebut menegaskan bahwa faktor keamanan penerbangan harus menjadi perhatian utama.
Dini mengingatkan agar kejadian seperti musim haji tahun lalu tidak terulang, ketika pesawat Saudi sempat mendapat ancaman bom hingga harus melakukan pendaratan darurat.
“Mohon pemerintah sudah menyiapkan mitigasi dan langkah-langkah yang dapat mencegah kemungkinan terburuk terjadi dan insyaallah semoga tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan. Semoga pelaksanaan umrah maupun ibadah haji tahun 2026 tidak terkendala apapun,” tegasnya.
Dini juga mengungkapkan sempat muncul isu penundaan pelaksanaan ibadah haji. Ia meminta pemerintah memastikan jalur penerbangan yang aman agar tidak melewati wilayah berisiko.
“Kemudian juga kita meminta Kementerian Haji dan Umrah untuk menjalin komunikasi dengan KBRI di Arab Saudi dengan mengupdate informasi situasi tempat ibadah haji maupun umrah,” ujar Dini. (Yudis/*)