Home / Berita / Berita Fraksi
Berita Fraksi

Perlu Peremajaan Massal Gerbong Kereta Api

📅 06 Jun 2026 💬 0 Komentar
Bagikan artikel:

JAKARTA (6 Juni): Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Rudi Hartono Bangun memberi catatan kritis agar langkah PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk melakukan peremajaan gerbong kereta api secara massal tidak sekadar menjadi proyek pergantian sarana yang telah berumur. Rudi menginginkan langkah tersebut harus membawa transformasi pelayanan secara menyeluruh.

“Jika orientasinya untuk meningkatkan pelayanan kepada rakyat, tentu harus kita dukung. Karena yang merasakan manfaatnya adalah masyarakat luas selaku pengguna jasa,” ujar Rudi dalam rapat kerja dengan jajaran PT KAI dan PT INKA di gedung Nusantara I, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Rudi menegaskan bahwa orientasi utama dari peremajaan armada ini wajib bermuara pada peningkatan keselamatan, kenyamanan, dan kualitas pelayanan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai pengguna jasa.

“Pembaruan fisik gerbong hanyalah sebagian dari tantangan besar yang dihadapi KAI di tengah melonjaknya jumlah penumpang dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap legislator NasDem dari Dapil Sumut III ini.

Menghadapi persaingan moda transportasi yang kian ketat, perusahaan pelat merah tersebut dituntut untuk terus melahirkan inovasi dan menghindari rutinitas operasional yang monoton.

Ia menekankan bahwa setiap kelas layanan, mulai dari kelas ekonomi hingga eksekutif, harus memiliki nilai tambah (value added) yang jelas, kompetitif, serta berbanding lurus dengan daya beli masyarakat.

Di samping urusan kenyamanan interior kereta, Rudi justru menyoroti persoalan krusial yang dinilai kerap luput dari perhatian publik, yakni keandalan infrastruktur jalur rel dan jembatan tua yang membentang ribuan kilometer di Indonesia.

Rudi mempertanyakan efektivitas sistem pengawasan serta pemeliharaan berkala pada jalur rel yang melintasi kawasan terpencil, area perkebunan, hingga hutan belantara. Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi karena keterbatasan pengawasan langsung di lapangan.

“Ancaman terhadap keselamatan perjalanan itu tidak hanya datang dari faktor teknis armada, tetapi juga potensi tindakan sabotase atau kerusakan rel yang tidak terdeteksi sejak awal,” pungkas Rudi. (*)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *