SUKABUMI (11 Agustus): Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang) Saan Mustopa mendatangi Kampung Adat Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pascarumah-rumah panggung yang selama ini menjadi tempat warga menjalani kehidupan sehari-hari mengalami kebakaran hebat pada 25 Juli 2026 silam.
Kehadiran Saan disambut tradisi khas masyarakat adat. Sesepuh Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik atau Abah E. Suhendri Wijaya, menyambut kedatangan Saan dan memasangkan iket Sunda ke kepala politisi Partai NasDem tersebut.
Usai menerima sambutan adat, Saan tidak langsung menuju agenda berikutnya. Ia memilih mendatangi warga yang tengah berada di pengungsian. Di antara warga dan keluarga penyintas, Saan berbincang tanpa sekat.
Ia mendengarkan kebutuhan warga, mulai dari tempat tinggal hingga berbagai perlengkapan dasar yang diperlukan untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Percakapan itu menjadi bagian penting dari kunjungan kerja spesifik Saan. Sebab, bagi warga yang kehilangan rumah, persoalan pascakebakaran bukan hanya soal bangunan yang harus didirikan kembali. Mereka juga harus kembali menata kehidupan, sementara sebagian masih tinggal di pengungsian, rumah saudara, maupun rumah tetangga.
Legislator NasDem dari Dapil Jawa Barat VII itu kemudian menyerahkan bantuan logistik dan perlengkapan dasar kepada warga. Bantuan tersebut antara lain berupa kasur, boks penyimpanan, rak piring, hingga aseupan atau perlengkapan tradisional untuk menanak nasi yang lazim digunakan masyarakat Sunda.
Setelah menyapa warga di pengungsian, Saan bersama Abah Hendrik dan rombongan Forkopimda Kabupaten Sukabumi berjalan kaki menuju calon lokasi permukiman baru. Rombongan antara lain didampingi Bupati Sukabumi Asep Japar, jajaran BPBD, Dandim 0622/Kabupaten Sukabumi Letkol Inf. Agung Ariwibowo, Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi, Forkopimcam Cisolok, serta unsur terkait lainnya.
Calon lokasi relokasi itu berada sekitar 500 meter dari permukiman lama yang terbakar. Di lahan tersebut, Saan melihat langsung kondisi geografis dan kesiapan lokasi yang akan menjadi tempat tinggal baru warga. Peninjauan dilakukan untuk memastikan proses relokasi tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Saan mengatakan, sekitar 51 keluarga terdampak akibat kebakaran tersebut. Karena itu, penanganan tidak boleh berhenti pada bantuan tanggap darurat. Tahap berikutnya harus memastikan rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan hingga warga memperoleh tempat tinggal yang layak.
“Ya, kita hari ini melakukan kunjungan dengan Pak Bupati, ada dari Pak Teten Kepala BPBD Jawa Barat, ada Pak Dandim, Pak Kapolres. Kita melihat keadaan pascamusibah, pascabencana. Ini kurang lebih 51 keluarga yang terdampak,” ujar Saan di lokasi, Senin (10/8/2026).
Menurut Saan, penanganan saat ini telah memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Pembangunan kembali rumah menjadi kebutuhan paling mendesak, tetapi kondisi lokasi permukiman lama membuat rumah warga tidak memungkinkan dibangun kembali di tempat semula.
Karena itu, relokasi menjadi pilihan yang harus segera diwujudkan. “Memang hari ini pascamusibah ini masuk fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Nanti untuk membangun fasilitas, terutama yang paling mendesak itu rumah warga, dan juga ada relokasi baru,” kata Saan.
Saan memahami bahwa warga tidak dapat terlalu lama berada dalam kondisi sementara. Sebagian masih berada di pengungsian, sementara lainnya menumpang di rumah saudara atau tetangga. Kondisi tersebut, menurut dia, harus segera diakhiri melalui kepastian tempat tinggal.
“Kita akan coba upayakan semaksimal mungkin agar warga yang terkena dampak bisa secepatnya menempati tempat yang baru. Sementara ini ada di pengungsian, ada di saudara, ada di tetangga. Itu kita tidak boleh dibiarkan berlama-lama,” tegasnya.
Di balik kebutuhan untuk segera membangun kembali rumah warga, terdapat persoalan yang tidak kalah penting, yakni bagaimana proses rekonstruksi tetap menjaga identitas Kasepuhan Ciptamulya. Saan menilai kampung adat tersebut bukan sekadar kawasan permukiman. Di dalamnya terdapat tradisi, nilai sosial, serta warisan budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Karena itu, pembangunan kembali tidak boleh menghilangkan karakter kampung adat. “Karena ini kampung adat, kampung adat ini salah satu cagar budaya yang memang harus kita jaga. Harus kita jaga secara bersama-sama, harus kita pelihara secara bersama-sama,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Wakil Ketua Umum Partai NasDem ini menilai pemulihan membutuhkan kerja bersama. Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga pemerintah pusat harus mengambil bagian sesuai kewenangannya.
“Ini membutuhkan bantuan dari semua pihak. Bukan hanya dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Provinsi Jawa Barat, tetapi juga tentu dari pemerintah pusat,” katanya.
Sebagai Wakil Ketua DPR RI, Saan menyatakan akan membawa kebutuhan masyarakat Ciptamulya ke tingkat pusat untuk dibicarakan bersama kementerian dan lembaga terkait. Bantuan yang diserahkannya pada kunjungan tersebut, kata dia, baru merupakan langkah awal. Masih terdapat kebutuhan jangka panjang yang harus dihitung dan dipenuhi secara bertahap.
“Tadi baru memberikan bantuan ala kadarnya. Nanti apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan lain, kita bicarakan secara bersama-sama. Bagaimana cara menanggulanginya,” ujar Saan.
Bagi warga Ciptamulya, relokasi bukan sekadar memindahkan bangunan dari satu titik ke titik lain. Rumah merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat adat yang selama ini tumbuh bersama lingkungan sekitarnya. Karena itu, peninjauan lokasi calon permukiman menjadi penting. Saan tidak hanya melihat lahan dari kejauhan, tetapi berjalan bersama sesepuh adat dan unsur pemerintah daerah untuk melihat secara langsung kondisi tempat yang disiapkan.
Di lokasi itulah harapan warga untuk kembali memiliki rumah mulai diarahkan. Saan menyadari pekerjaan tersebut tidak sederhana. Selain rumah, fasilitas pendukung dan kebutuhan dasar masyarakat juga harus diperhitungkan. Prosesnya membutuhkan perencanaan dan koordinasi lintas sektor agar relokasi tidak menimbulkan persoalan baru.
“Jadi mudah-mudahan yang paling penting pascabencana ini kebutuhan-kebutuhan yang mendesak dan mendasar ini oleh Abah juga, Kasepuhan Ciptamulya, ini sudah dengan Pak Bupati, dengan pemerintah provinsi, Gubernur, BPBD, ini relatif sudah tertangani. Tinggal yang mendesak-mendesaknya, nah tinggal nanti yang jangka panjangnya,” tukasnya.
Kunjungan Saan ke Ciptamulya juga menjadi pintu masuk untuk melihat persoalan kebencanaan Kabupaten Sukabumi secara lebih luas. Dengan karakter geografis yang kompleks, mulai dari kawasan pegunungan hingga pesisir, Sukabumi memiliki beragam potensi bencana. Kabupaten tersebut terdiri atas 47 kecamatan dan 381 desa, sehingga strategi penanggulangan bencana membutuhkan kesiapsiagaan yang kuat hingga tingkat masyarakat.
Saan menilai penanganan bencana tidak boleh hanya mengandalkan respons setelah musibah terjadi. Mitigasi dan edukasi kebencanaan harus diperkuat untuk mengurangi risiko sejak awal.
“Memang ini daerah yang relatif kompleks. Maka dibutuhkan ke depan mitigasi. Mana yang bisa dicegah sebelum bencana itu terjadi, mana yang memang bencana tidak bisa kita rencanakan,” kata Saan.
Ia menyebut potensi bencana di Sukabumi cukup beragam, mulai dari longsor, banjir, banjir bandang, kekeringan hingga kebakaran. Karena itu, kewaspadaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga perlu memiliki pengetahuan yang memadai mengenai risiko bencana dan langkah yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi.
“Mitigasi itu penting. Kewaspadaan itu juga penting buat kita semua, buat masyarakat, juga termasuk buat pemerintah,” tegasnya. Di tengah kondisi ini, harapan warga terbesar kini ialah agar rumah baru segera berdiri dan kehidupan masyarakat adat Ciptamulya dapat kembali berjalan, tanpa kehilangan jati dirinya. (dpr.go.id/*)
0 Komentar