JAKARTA (27 September) – Bagi sebagian remaja, politik mungkin lebih sering hadir melalui potongan berita, linimasa media sosial, atau berbagai perdebatan yang muncul di layar ponsel. Negara terasa dekat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi cara kerjanya belum tentu mudah dipahami.
Sabtu, 26 September 2026, sebanyak 29 anak muda dari berbagai sekolah datang ke NasDem Tower, Jakarta, untuk mengikuti Remaja Bernegara (RBN) Angkatan 28. Mereka tidak hanya datang untuk mendengar tentang politik, tetapi juga untuk mengalami secara langsung bagaimana proses kehidupan bernegara berlangsung.
Salah satunya Azzahra Nurul Rahmani, siswi SMKN 40 Jakarta. Ia mengenal RBN melalui Instagram, setelah melihat kakak kelasnya mengikuti program tersebut. Rasa penasaran kemudian membawanya mendaftar hingga akhirnya ikut dalam RBN Angkatan 28.
Ketertarikannya bukan sekadar ingin mengetahui lebih jauh tentang politik. Azzahra memiliki cita-cita menjadi anggota dewan dan melihat RBN sebagai kesempatan untuk mengenal lebih dekat dunia yang ingin ia masuki.
“Awalnya, saya melihat anggota dewan dari berbagai isu di TikTok, sehingga pandangan saya juga terbentuk dari apa yang banyak muncul di media sosial. Tapi, setelah mengikuti RBN dan melihat lebih dalam bagaimana prosesnya, saya jadi sadar bahwa tidak semua anggota dewan seperti yang sering digambarkan di media sosial. Di sini saya juga mendapat pengalaman langsung melalui simulasi rapat, termasuk menjadi pimpinan dalam rapat paripurna. Pengalaman seperti ini membuat saya semakin tertarik untuk memahami bagaimana sebenarnya lembaga perwakilan bekerja,” ujar Azzahra.
Pengalaman serupa, dengan perjalanan yang berbeda, dialami Trijoko Dandun Putias Moro, siswa SMA Negeri 1 Bobotsari, Purbalingga, Jawa Tengah. Ia mengenal RBN melalui media sosial dan berdiskusi dengan teman yang pernah mengikuti program tersebut. Setelah lima kali mendaftar, Trijoko akhirnya berkesempatan mengikuti RBN Angkatan 28.
Bagi Trijoko, kesempatan itu dipersiapkan dengan serius. Ia datang dari Purbalingga ke Jakarta, dengan kereta pada Jumat, 25 September. Dia menginap di Bekasi, lalu bangun pukul 03.00 pada hari pelaksanaan untuk mempersiapkan materi yang telah diberikan panitia.
Perjalanan tersebut bukan sekadar upaya untuk hadir. Ia ingin datang dengan bekal dan gagasan yang bisa dibawa ke dalam proses pembelajaran.
“Saya melihat RBN sebagai program yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk belajar politik dengan cara yang menyenangkan. Sebelum mengikuti program ini, saya memandang dewan sebagai perwakilan rakyat yang bisa menyimpang dari prinsip-prinsip rakyat. Tetapi setelah mengikuti RBN, saya memahami bahwa ada nilai-nilai yang harus dijunjung, terutama integritas, moral, tanggung jawab, dan kejujuran. Karena itu, menurut saya, generasi muda perlu mempelajari politik lebih mendalam agar memiliki bekal untuk memahami praktik bernegara dan siap menghadapi kehidupan politik di masa depan,” kata Trijoko.
Dua pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa ketertarikan anak muda terhadap politik tidak selalu lahir dari jalur yang sama. Ada yang bermula dari rasa penasaran, setelah melihat pengalaman orang lain di media sosial. Ada pula yang tumbuh dari keinginan memahami politik secara lebih serius, bahkan setelah beberapa kali mencoba mengikuti program yang sama.
RBN kemudian mempertemukan rasa ingin tahu tersebut dengan pengalaman langsung. Peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari pengenalan dan tur NasDem Tower, pemutaran materi audiovisual, hingga simulasi proses di parlemen, termasuk penyerapan aspirasi dan rapat paripurna.
Metode simulasi membuat peserta tidak hanya berada sebagai penonton. Mereka mengambil peran, menjalankan fungsi tertentu, berdiskusi, dan mengikuti mekanisme yang diperkenalkan dalam proses tersebut.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep RBN yang menggunakan simulasi parlemen dan role play sebagai cara mengenalkan politik kepada remaja melalui pengalaman yang lebih aplikatif. (NS/AS)
0 Komentar