Home / Berita / Berita
Berita

Literasi Kebudayaan Kunci Rawat Karakter Bangsa

📅 04 Okt 2026 💬 0 Komentar
Bagikan artikel:

JAKARTA (4 Oktober): Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa literasi kebudayaan bukan sekadar pengetahuan tentang seni dan tradisi, melainkan fondasi moral bagi generasi muda dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan hilangnya kesenian, melainkan terputusnya keterhubungan generasi muda dengan akar budayanya sendiri.

“Ketika kita bicara tentang kesenian lokal, sesungguhnya kita sedang bicara bagaimana kita menjaga warisan, dan lebih dari itu adalah upaya merawat kesadaran kebangsaan,” ujar Lestari dalam keterangan tertulisnya, Minggu (4/10/2026).

Rerie, sapaan akrab Lestari, berpendapat bahwa demokrasi tidak akan berdiri kokoh tanpa akar budaya yang kuat.

Ia mengingatkan bahwa demokrasi kerap dipersempit menjadi sekadar kontestasi politik, padahal membutuhkan fondasi yang lebih dalam, seperti warga yang menghormati sesama, menghargai perbedaan, dan memiliki rasa terhadap budaya serta bangsanya.

Data Kementerian Kebudayaan menunjukkan, Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) tahun 2025 mencapai 59,98, melampaui target sebesar 58,39. Kenaikan tertinggi terjadi pada dimensi ketahanan sosial budaya yang mencapai 75,71.

Namun, dimensi budaya literasi yang berada di angka 64,40 masih menyisakan pekerjaan rumah, terutama dalam memperkuat keterhubungan generasi muda dengan warisan budayanya.

Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI mendorong sejumlah langkah konkret untuk meningkatkan literasi kebudayaan di kalangan generasi muda.

Menurut Rerie, pelestarian budaya harus dijadikan gerakan bersama yang tidak hanya dibebankan kepada komunitas budaya dan seniman, tetapi juga melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat luas.

Selain itu, pengenalan budaya perlu dilakukan melalui pendekatan yang kreatif dan menyenangkan. Cerita rakyat, permainan tradisional, lagu dolanan, hingga pementasan seni dapat menjadi pintu masuk yang efektif bagi generasi muda untuk mengenal warisan budayanya.

Tidak kalah penting, tegas Rerie, digitalisasi dan media sosial perlu dioptimalkan sebagai sarana edukasi budaya.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menegaskan bahwa pemanfaatan ruang digital harus disertai dengan literasi kritis agar generasi muda tidak terjebak pada konten yang tidak akurat.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akar kuat dan mampu membawa warisan budayanya tetap hidup di tengah perubahan zaman,” pungkas Rerie. (*)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *