Home / Berita / Berita Fraksi
Berita Fraksi

Pilihan Pendidikan Harus Relevan dengan Potensi Ekonomi Daerah

đź“… 31 Okt 2026 đź’¬ 0 Komentar
Bagikan artikel:

KUPANG (31 Oktober): Pendidikan yang mampu mengantarkan anak muda memasuki dunia kerja dan mengembangkan usaha menjadi salah satu perhatian anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) II, Viktor Bungtilu Laiskodat. Ia mendorong agar pilihan pendidikan generasi muda di NTT semakin diarahkan pada penguasaan keterampilan yang relevan dengan potensi ekonomi daerah, mulai dari garam, perikanan, rumput laut, mutiara, peternakan, hingga pertanian.

Gagasan tersebut disampaikan Viktor dalam pertemuan ramah tamah bersama masyarakat di Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Jumat (30/10/2026).

Dalam pertemuan itu, ia membuka kesempatan bagi warga untuk menyampaikan aspirasi, termasuk mengenai akses pendidikan dan masa depan anak-anak mereka.

Seorang warga yang mewakili kelompok ibu-ibu menyampaikan harapan agar anak-anak di lingkungan mereka memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka juga berharap tersedianya akses beasiswa, termasuk kesempatan menempuh pendidikan sarjana hingga ke luar negeri.

Dalam Menanggapi aspirasi tersebut, Viktor menyatakan dukungannya terhadap pendidikan anak-anak NTT. Namun, menurut dia, dukungan pendidikan perlu disertai perencanaan yang matang mengenai keterampilan yang akan dikuasai serta peluang kerja yang dapat dimasuki setelah lulus.

Ia mencontohkan pendidikan yang berfokus pada pengolahan garam, perikanan, budidaya mutiara, rumput laut, dan sektor peternakan. Bidang-bidang tersebut dinilai memiliki prospek karena berkaitan langsung dengan sumber daya alam yang tersedia di NTT.

Menurut Viktor, tantangan pendidikan tidak berhenti pada keberhasilan seseorang memperoleh ijazah. Pendidikan juga harus membekali peserta didik dengan kemampuan praktis agar mereka dapat mengembangkan usaha, memenuhi kebutuhan hidup, dan berkontribusi terhadap perekonomian daerah.

Viktor menilai NTT memiliki peluang ekonomi yang besar seiring dengan berkembangnya sektor pariwisata dan pembangunan berbagai fasilitas pendukung, termasuk hotel dan usaha jasa. Namun, pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja lokal.

Ia menyoroti kemungkinan munculnya kesenjangan ketika industri dan usaha berkembang di daerah, tetapi kebutuhan tenaga kerja terampil justru dipenuhi dari luar NTT.

“Sepuluh tahun ke depan, hotel-hotel dan usaha baru akan semakin banyak. Pertanyaannya, siapa yang mengisi seluruh kebutuhan itu? Jangan sampai usaha tumbuh di NTT, tetapi tenaga terampil dan produk yang dibutuhkan justru terus didatangkan dari luar,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mendorong pendidikan yang terhubung dengan kebutuhan industri dan dunia usaha. Lulusan pendidikan vokasi, menurut dia, perlu memiliki kemampuan yang dapat langsung diterapkan, baik untuk bekerja di perusahaan maupun membangun usaha sendiri.

Viktor juga menilai pengembangan keterampilan perlu diperluas ke bidang pengolahan hasil produksi. Produk perikanan, peternakan, dan pertanian, misalnya, dapat memberikan nilai tambah apabila tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk siap konsumsi atau produk industri.

Ia mencontohkan pengolahan daging sapi dan babi menjadi sosis serta pengembangan produk pangan lainnya. Penguasaan teknologi pengolahan dan penggunaan mesin produksi dapat membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat rantai ekonomi lokal.

Menurut dia, kemajuan teknologi seharusnya mendorong masyarakat untuk semakin kreatif dan cepat beradaptasi. Peralatan produksi yang semakin mudah dijangkau dapat dimanfaatkan untuk membangun usaha skala kecil yang berpotensi berkembang menjadi bisnis lebih besar.

“Kita memiliki banyak potensi, tetapi harus mampu mengolahnya. Garam, ikan, mutiara, rumput laut, sapi, babi, kambing, dan hasil pertanian harus bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat kita sendiri,” katanya.

Viktor secara khusus menyoroti potensi produksi garam di NTT. Ia mengingat kembali upaya mendorong pengembangan industri garam ketika menjabat Gubernur NTT, termasuk di sejumlah kawasan yang memiliki potensi produksi.

Menurut dia, pengembangan sektor tersebut membuka peluang bagi NTT untuk memperkuat perannya dalam memenuhi kebutuhan garam nasional. Peluang itu, lanjutnya, perlu diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia yang memahami proses produksi, teknologi, pengolahan, dan pengelolaan usaha.

Ia menyebut kebutuhan garam nasional sebagai gambaran besarnya pasar yang dapat dimanfaatkan daerah. Dalam pertemuan tersebut, Viktor menyampaikan perkiraan impor garam Indonesia mencapai 3,7 juta metrik ton per tahun. Ia juga menggambarkan bahwa kontribusi produksi satu juta ton dari NTT saja berpotensi memberikan dampak ekonomi yang besar.

Bagi Viktor, potensi sumber daya alam tidak akan memberikan hasil optimal apabila masyarakat tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelolanya. Karena itu, pengembangan industri perlu berjalan beriringan dengan pendidikan yang mempersiapkan tenaga kerja lokal.

Ia menghendaki agar anak-anak muda NTT tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga tumbuh sebagai tenaga terampil, pelaku usaha, dan penggerak industri yang mampu memanfaatkan kekayaan daerah.

Selain keterampilan teknis, Viktor menempatkan disiplin dan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari pendidikan. Ia menilai kemampuan akademik perlu disertai etos kerja, tanggung jawab, ketekunan, dan kesediaan menjalani proses panjang untuk mencapai keberhasilan.

Dalam pandangannya, generasi muda harus dibiasakan memiliki rutinitas yang teratur, mampu mengelola waktu, dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tanggung jawab. Kebiasaan tersebut, menurut dia, merupakan modal untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Viktor juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan menghasilkan produk. Perubahan tersebut menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan pengetahuan agar tidak tertinggal dalam perkembangan dunia.

Ia menilai tantangan pembangunan NTT masih berkaitan dengan persoalan mendasar, seperti pemenuhan kebutuhan pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pada saat yang sama, daerah harus mulai menyiapkan generasi yang mampu memanfaatkan teknologi dan menciptakan peluang ekonomi baru.

“Manusia yang mau kita bangun adalah manusia yang cerdas dan berkarakter. Orang yang punya pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, akan mempunyai peluang lebih besar untuk membangun dirinya sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia mengibaratkan pengetahuan sebagai terang yang membantu manusia memahami keadaan dan menentukan arah. Sementara itu, karakter menjadi landasan agar kemampuan yang dimiliki digunakan secara bertanggung jawab.

Dalam pertemuan tersebut, Viktor menyatakan kesediaannya membantu anak-anak yang memiliki kesungguhan untuk menempuh pendidikan, tetapi menghadapi kendala biaya. Ia secara khusus membuka peluang dukungan bagi mereka yang ingin mendalami bidang yang berkaitan dengan potensi ekonomi NTT.

Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan bahwa bantuan pendidikan diberikan berdasarkan kebutuhan, kesungguhan, dan rencana masa depan penerimanya.

Menurut Viktor, dukungan yang baik harus disertai pemahaman mengenai bidang yang akan dipelajari, kemampuan yang ingin dikembangkan, serta peluang penerapannya setelah pendidikan selesai. Dengan demikian, bantuan yang diberikan dapat menghasilkan manfaat jangka panjang.

Selain pendidikan, ia membuka peluang pembicaraan mengenai akses pembiayaan bagi kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang telah menjalankan kegiatan produktif. Salah satu skema yang disinggung adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Viktor mengatakan, kelompok usaha yang memiliki kegiatan jelas dan menunjukkan keseriusan dapat didorong untuk memperoleh akses pembiayaan melalui perbankan. Namun, ia menilai penilaian terhadap kelayakan usaha tetap diperlukan agar pembiayaan dapat digunakan secara produktif dan risiko kredit macet dapat ditekan.

Pendekatan tersebut, menurut dia, penting untuk memastikan dukungan ekonomi tidak berhenti pada pemberian modal, tetapi membantu usaha berkembang dan menciptakan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Melalui pertemuan bersama masyarakat Oepura, Viktor mengajak warga, terutama para orang tua, untuk mulai merencanakan pendidikan anak berdasarkan potensi, minat, kemampuan, dan peluang kerja yang tersedia.

Ia menilai pembentukan generasi yang tangguh tidak dapat dilakukan secara instan. Keluarga, lingkungan masyarakat, lembaga pendidikan, dan dunia usaha perlu mengambil peran agar anak-anak memperoleh bekal yang sesuai dengan tantangan masa depan.

Bagi Viktor, tujuan pendidikan harus melampaui kelulusan dan perolehan gelar. Pendidikan perlu membentuk manusia yang mampu bekerja, menciptakan pekerjaan, mengembangkan potensi daerah, serta menghadapi perubahan teknologi dengan pengetahuan dan karakter yang kuat.

Ia berharap semakin banyak anak muda NTT yang tumbuh dengan keterampilan sesuai kebutuhan daerah, sehingga kekayaan alam yang selama ini tersedia dapat diolah menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.

“Kalau kita ingin NTT maju, kita harus menyiapkan manusianya. Anak-anak kita perlu pendidikan yang tepat, keterampilan yang dibutuhkan, dan disiplin untuk menjalankannya. Dengan begitu, ketika peluang ekonomi datang, mereka sudah siap mengambil bagian dan membangun daerahnya sendiri,” kata Viktor. (bronto/*)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *