Memantik Semangat Republikan Melalui Bedah Buku

0

SURABAYA (21 Oktober): Republikanisme merupakan tindakan dan karakter yang meluruhkan semua kepentingan pribadi (restprivata) atas kepentingan bersama (ress publika). Merosotnya semangat Republikan menjadi momok tersendiri di negeri ini. Buktinya seorang pimpinan negara mengadukan kepada polisi kalau dirinya dihina beberapa waktu yang lalu.

Hal tersebut diungkapkan Willy Aditya, Penulis buku ‘Moralitas Republikan’ yang dilangsungkan dalam acara Bedah Buku dan Diskusi Publik yang dilangsungkan di Universitas Airlangga, Surabaya, Jumat (21/10).

“Kalau menduduki jabatan public, harusnya paham bahwa tidak ada lagi privasi di dalam dirinya. Machiavelli mengatakan ada moral yang harus ditanggungjawabkan kepada public,” papar Willy di depan ratusan mahasiswa dengan berapi-api.

willy-aditya-bedah-buku-sby3

Willy juga memaparkan dalam buku yang menyajikan bacaan tentang pemikiran Surya Paloh ini terkait politik tanpa mahar. Banyak yang pesimis bahwa ide gagasan politik tanpa mahar akan berjalan, namun Willy menyebutkan bahwa Surya Paloh sebagai Ketua Umum Partai NasDem telah berhasil mengubah wajah koruptif partai politik berkedok mahar politik.

“Jadi kalau mau mencalonkan diri sebagai kepala pemerintahan harus bayar tiket dulu baik untuk luar dan dalam. Pak Surya ingin itu sirna, karena perang terhadap korupsi itu harus mulai dari Hulunya,” terang putra Padang asli ini.

Selain Willy aditya, Bedah Buku dan Diskusi Publik yang terselenggara berkat kerja sama Liga Mahasiswa NasDem dengan Departement Ilmu Politik Universitas Airlangga ini menghadirkan narasumber Priyatmoko, dosen Ilmu Politik UNAIR, Moch Ekhsan dari DPRD Provinsi Jawa Timur.

Dalam pandangan Priyatmoko, negeri ini berada dalam kondisi krisis kepercayaan. Saat ini demokrasi dihadapkan pada tantangan bahwa partai politik menemui logika masyarakat yang memiliki pilihan lain.

willy-aditya-bedah-buku-sby

Dalam konteks buku ini, Priyatmoko sepakat bahwa pemimpin harus mempunyai keberanian untuk merubahnya. Sebab keberanian adalah sebuah nilai dari kepemimpinan dengan perhitungan yang cermat.

“Pilihan-pilihan ini yang kemudian di ambil seorang pemimpin yang disebut Willy sebagai Virtue,” ungkapnya.

Berbeda dengan Priyatmoko, Moch Ekhsan menilai Moralitas Republikan juga memiliki perspektif dalam Islam. Moralitas Republikan menurutnya bisa diartikan kepentingan publik itu lebih utama dibandingkan kepentingan pribadi. Pemimpin akan membuat sebuah kebijakan berupa undang-undang dan regulasi untuk kemaslahatan umat.

“Nah kemaslahatan umat itu kan yang dimaksud dengan Moralitas public,” ucap Ekhsan.

Lebih jauh Ekhsan mengungkapkan kritiknya kepada Moralitas Republikan yang publik sedang dalam keadaan tidak sehat, logika publik yang dimenangkan, maka itu sesuatu hal yang perlu dipertanggungjawabkan.

Moralitas Republikan merupakan buku ketiga dari Wasekjen Partai NasDem Willy Aditya. dalam buku ini ia ingin memaparkan pemikiran Surya Paloh dalam sisi praksis. Sedang kedua buku terdahulunya seperti Mari Bung Rebut kembali dan Indonesia di Jalan Restorasi berbicara tentang ideologi.(*)

Leave a Reply

%d bloggers like this: