Oleh: N.D. Santoso
Tim Media Center DPP NasDem
GENERASI Z mungkin menjadi generasi yang paling terkoneksi dalam sejarah manusia. Tetapi ironisnya, bisa juga menjadi generasi yang paling kehilangan arah identitas.
Kita hidup di zaman ketika layar ponsel lebih sering berbicara daripada ruang keluarga. Ketika algoritma menentukan apa yang kita pikirkan, sukai, benci, bahkan percayai. Setiap hari timeline bergerak cepat tanpa jeda, selalu ada tren baru, drama baru, kemarahan baru, ketakutan baru. Semua berlomba merebut perhatian.
Laporan berbagai riset global dalam beberapa tahun terakhir bahkan menunjukkan rata-rata anak muda bisa menghabiskan berjam-jam setiap hari di depan layar ponsel. Fenomena doomscrolling atau doomsurfing, kebiasaan tanpa henti menggulir (scroll) layar ponsel untuk terus membaca atau mengonsumsi konten negatif di media sosial, membuat manusia terus mengonsumsi informasi tanpa benar-benar sempat mencerna makna di baliknya.
Kita terus scrolling, terus bereaksi, tetapi sering kehilangan ruang untuk berpikir lebih dalam. Dan tanpa sadar, banyak anak muda akhirnya tumbuh dalam dunia yang ramai, tetapi sunyi secara makna. Terhubung ke mana-mana, tetapi tidak benar-benar merasa terikat dengan apa pun. Termasuk dengan bangsanya sendiri.
Hari ini Gen Z sering dilekatkan dengan banyak stigma, diantaranya mudah terdistraksi, tidak tahan tekanan, sibuk validasi digital, apatis terhadap politik, bahkan dianggap kehilangan rasa nasionalisme. Tuduhan itu mungkin tidak sepenuhnya benar. Tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Sebab di tengah banjir informasi global, generasi muda memang sedang menghadapi krisis yang jauh lebih besar dari sekadar persoalan produktivitas atau media sosial, yaitu krisis identitas.
Kita mengenal budaya luar begitu cepat, tetapi sering tidak cukup mengenal arah bangsanya sendiri. Kita hafal tren global dalam hitungan jam, tetapi jarang memahami posisi strategis Indonesia di dunia. Padahal di tengah rivalitas global hari ini, identitas sebuah bangsa bukan lagi sekadar simbol melainkan juga sebagai bentuk pertahanan.
Mungkin karena itu kehadiran film dokumenter, “12 Mile: Guiding the Archipelago” terasa penting. Film besutan Sutradara Tubagus Deddy ini datang bukan dengan ledakan aksi atau heroisme kosong namun hadir dengan sesuatu yang lebih sunyi, tetapi jauh lebih kuat, yaitu gagasan.
12 Mile bercerita tentang perjuangan Indonesia membuat dunia mengakui konsep negara kepulauan melalui diplomasi dan hukum internasional. Di balik perjuangan itu ada Mochtar Kusumaatmadja, sosok intelektual Indonesia yang membuktikan bahwa sebuah negara bisa mengubah sejarah dunia bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan keberanian pemikiran.
Dan menariknya, apa yang diperjuangkan puluhan tahun lalu itu terasa sangat dekat dengan kehidupan Gen Z hari ini. Karena medan perang zaman sekarang juga berubah. Jika dulu bangsa lain datang menguasai laut, hari ini mereka datang menguasai perhatian manusia.
Perang modern tidak selalu dimulai dengan dentuman senjata. Kadang dimulai dari timeline. Dari algoritma. Dari narasi yang terus diulang sampai manusia kehilangan kemampuan membedakan mana kepentingan dan mana manipulasi.
Hari ini negara-negara besar berlomba menguasai teknologi, data, budaya populer, media, hingga opini publik global. Dan di tengah situasi itu, manusia yang tidak punya identitas akan sangat mudah dikendalikan.
Di sinilah relevansi 12 Mile menjadi terasa sangat dalam. Film ini sebenarnya bukan sekadar cerita tentang laut atau batas wilayah. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah bangsa mempertahankan definisi tentang dirinya sendiri di hadapan dunia.
Dulu dunia melihat laut sebagai pemisah pulau-pulau Indonesia. Tetapi Indonesia datang membawa narasi berbeda bahwa laut adalah pemersatu Nusantara. Dan dunia akhirnya mengakuinya. Artinya, Indonesia pernah memenangkan pertarungan besar lewat keberanian mempertahankan gagasannya sendiri.
Pertanyaannya sekarang, apakah Gen Z masih memiliki keberanian yang sama untuk mempertahankan identitas bangsanya di tengah arus global yang begitu besar? Sebab tantangan generasi muda hari ini bukan lagi penjajahan dalam bentuk lama.
Tantangannya jauh lebih halus, yaitu banjir informasi yang membuat manusia kehilangan fokus, budaya instan yang melemahkan daya pikir, dan algoritma yang perlahan mengubah manusia menjadi sekadar konsumen perhatian. Kita sibuk scrolling tanpa benar-benar selesai memahami apa yang sedang kita hadapi sebagai bangsa.
Ironisnya, generasi yang memiliki akses pengetahuan terbesar justru bisa menjadi generasi yang paling mudah kehilangan kesadaran geopolitik. Padahal masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh itu.
Laut bukan sekadar ruang geografis. Laut adalah jalur perdagangan dunia, sumber pangan, energi, pertahanan, dan perebutan pengaruh global masa depan. Indonesia berada tepat di titik strategis itu. Artinya, masa depan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau elite politik, tetapi juga oleh apakah generasi mudanya cukup sadar untuk memahami posisi bangsanya sendiri.
Dan kesadaran itu hari ini tidak bisa dibangun dengan cara lama. Gen Z tidak membutuhkan ceramah nasionalisme yang penuh slogan. Generasi ini membutuhkan alasan mengapa Indonesia layak diperjuangkan di tengah dunia yang terus berubah.
Film 12 Mile: Guiding The Archipelago mencoba memberikan jawaban itu. Bahwa mencintai bangsa bukan selalu tentang seremoni atau romantisme masa lalu. Kadang dimulai dari keberanian berpikir panjang tentang masa depan negara sendiri. Mochtar Kusumaatmadja membuktikan bahwa satu gagasan bisa mengubah cara dunia memandang Indonesia.
Pertanyaannya sekarang, apakah generasi muda hari ini masih percaya bahwa ide besar tentang Indonesia masih layak diperjuangkan? Atau jangan-jangan kita sudah terlalu sibuk mengejar eksistensi digital sampai lupa membangun arah kolektif sebagai bangsa?
Karena pada akhirnya, bangsa tidak runtuh hanya karena kalah perang. Kadang sebuah bangsa perlahan kehilangan masa depannya ketika generasi mudanya berhenti percaya bahwa negaranya memiliki sesuatu yang layak diperjuangkan.
Dulu Indonesia berjuang agar laut Nusantara tidak memisahkan bangsanya. Hari ini tantangannya berbeda, bahwa jangan sampai algoritma, banjir informasi, dan krisis identitas justru membuat generasi mudanya tercerai-berai secara arah dan kesadaran sebagai bangsa.
0 Komentar