Berpolitik Bukan Sekadar Bersiasat

0

PALEMBANG, SUMSEL (31 Januari): Buku Moralitas Republikan kembali dibedah. Kali ini dilaksanakan di gedung DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Senin (30/01). Bedah buku ini dilaksanakan atas inisiatif Garda Pemuda NasDem bersama Fraksi NasDem DPRD Sumatera Selatan.

Pada pembukaan acara, Ketua DPW Partai NasDem Sumatera Selatan Syahrial Oesman menyampaikan, gagasan dan praktik politik dari Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh seperti sedang melawan arus. Sebab, dia banyak membuat gerakan yang tidak biasa. Contohnya adalah praktik politik tanpa mahar dalam pilkada. Selain itu, tidak adanya dikotomi antara kader dengan non kader dalam penentuan calon kepala daerah.

willy aditya moralitas rep

Bedah buku yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam ini menghadirkan Willy Aditya sebagai penulis. Sementara para pembedah terdiri dari Wijaya, dosen politik di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Patah, akademisi Joko Siswanto, serta Agus Hernawan, budayawan yang juga menjadi editor buku ini.

Willy mengatakan, penulisan buku tersebut berlatar seputar peristiwa pemilu 2014 dan pilkada serentak 2015. Dia menjelaskan, ada rasa cemas dalam diri Surya Paloh saat melihat proses politik yang hanya mengedepankan perebutan kekuasaan. Sebagai contoh paling nyata adalah peristiwa penentuan siapa Ketua DPR. Manuver mengubah UU MD3 dan Tatib membuat partai pemenang pemilu kehilangan kursi Ketua DPR.

“Buku ini bukanlah gagasan, tapi praktik politik Ketua Umum Partai NasDem setiap hari, setiap saat dan sesudah pemilu. Praktik politik ini merupakan wujud komitmen Ketua Umum Surya Paloh terhadap platform Restorasi Indonesia. Maka ada politik tanpa syarat ketika pilpres. Lalu ada politik tanpa mahar untuk pilkada serentak, serta bagaimana menjadi partai pendukung pemerintah secara sungguh-sungguh,” papar Willy.

Sementara itu Wijaya menyampaikan, buku ini merupakan semiotik politik dari Surya Paloh. Hal yang membedakan Surya Paloh dengan ketua umum partai lain terletak pada gagasan politiknya. Hal lain, tentu Surya Paloh tidak ingin menduduki jabatan publik, sementara ketua umum partai lain masih berebut.

“Ini suatu anomali politik, karena hampir semua proses politik sekarang hanya perebutan kekuasaan semata,” ucapnya.

Joko Siswanto melihat dari sisi yang berbeda. Dia mengatakan, praktik politik Surya Paloh ini memberikan sesuatu yang baru. Beberapa gagasannya membuat proses politik menjadi lebih mudah. Seharusnya banyak warga yang bergabung dengan Partai NasDem.

“Hal penting lain yang saya baca dari buku ini adalah otentisitas Surya Paloh,” imbuhnya.

Adapun editor buku Agus Hernawan lebih menekankan pentingnya membaca buku ini. Menurutnya, dengan membaca buku Moralitas Republikan, kita bisa membedakan mana ranah publik dan ranah privat. Dan betapa pentingnya gagasan dalam berpolitik.

Moralitas Republikan adalah buku yang berisi pandangan, sikap, dan sepak terjang Surya Paloh dalam praktik politik kekinian. Politisi kawakan ini memimpin Partai NasDem dengan gagasan gerakan perubahan yang dipraktikkan dalam laku politiknya. Sikap ini diambilnya sebagai kesadaran menjadi seorang yang mementingkan kepentingan bangsa dan negara (republikan) di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Acara bedah buku ini dihadiri sekitar 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa, pegiat LSM dan anggota DPRD NasDem se-Sumatera Selatan.(*)

Leave a Reply

%d bloggers like this: