Pilkada DKI Beri Efek Besar untuk Bangsa

0

JAKARTA (8 Februari): Sophie Navita Simanjuntak, 41, yang kini menetap di Pulau Bali akan terbang ke Jakarta demi memberikan hak suara saat pilkada DKI pada 15 Februari 2017. Istri Pongky Barata ini mengaku meski telah setahun tinggal di Bali, dia masih memegang kartu tanda penduduk DKI.

“Kebetulan juga banyak teman-teman di Bali yang akan beramai-ramai ke Jakarta demi memberikan suara dalam pilkada DKI. Ini semacam menuntaskan kewajiban sebagai warga negara yang baik,” ujar Sophie, Senin (06/02).

Presenter TV dan holistic health coach/chef ini seperti tidak mau ketinggalan, dia juga mengamati perkembangan dukungan kepada calon gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama dan wakilnya Djarot Saiful Hidayat, yang seakan mencapai puncak pengekspresian lewat #KonserGue2.

“Saya banyak melihat teman-teman yang mengepalkan tangan, berteriak semangat, semoga ini menandakan semangat yang baik dan bukan kumpulan amarah, atas apa yang sudah terjadi selama ini,” tambah Sophie seperti dilansir dari mediaindonesia.com.

Sophie juga menuturkan pilkada DKI Jakarta memberikan pengaruh besar terhadap bangsa Indonesia. Jakarta yang dilengkapi hiruk pikuk aktivitas warga, tumpah ruah kepentingan, dan kemacetan, menurutnya, perlu dipulihkan. Dengan gayanya yang suka berkelakar tetapi tetap serius, dia mengatakan demikian,

“Namanya Ibu Kota, saat nanti Jakarta, ibu (kota) sudah pulih, maka orang Jakarta ingat harus membantu ‘adik-adiknya’ di daerah. Perjuangan tidak berhenti di Jakarta saja. Itu egosentris namanya. Ini perjuangan bersama satu bangsa, dimulai dari pulihnya Ibu Kota negara. Pilkada DKI ini memberikan efek besar untuk bangsa,” tutur dia.

Pola mengemukakan pendapat menurutnya juga telah berubah. Orang kini menjadi lebih mudah menyuarakan pilihannya, tidak seperti pada zaman Orde Baru yang sangat tertutup. Dia juga berharap semua orang dapat sama-sama berlatih menyuarakan apa yang menjadi pendapatnya secara elegan, baik, dan harus bisa menghormati pilihan orang lain.

“Saya memang tidak mengamati secara khusus, hanya melalui media sosial yang menjadi panggung kehidupan orang masa kini. Banyak juga yang di balik keyboard menjadi ganas,” katanya.

Namun demikian dirinya tidak menyalahkan orang dengan fanatisme pada salah satu pasangan calon.

“Asal harus ingat pendapatnya itu dibatasi dengan kebebasan berpendapat orang lain.”

Penulis buku Hati yang Gembira Adalah Obat itu sekaligus mengingatkan agar jangan mudah terpancing dengan ujaran-ujaran provokatif di media sosial orang lain. Dia kemudian mengatakan setiap orang harus berjuang di lini masa sendiri-sendiri.

“Kalau saya inginnya melihat media sosial itu hal-hal yang bikin adem, inspiratif, hal yang lucu-lucu. Tidak harus sependapat dengan kita juga, kan. Apa pun itu. Saya juga pesan, kalau sedang galau jangan lihat lini masa karena akan mudah terpancing untuk cari ribut,” katanya.

Meski merupakan pendukung pasangan Basuki-Djarot, dia tetap berpendapat semua calon dalam pilkada DKI merupakan orang yang bagus dan sama-sama kuat.

“Tinggal programnya saja kita cocok dengan yang mana, sesederhana itu kan? Nah kita juga harus belajar menyuarakan sesuatu meskipun tidak mencapai mufakat. Kita bisa agree to disagree, tetapi tetap bisa hidup rukun berdampingan,” tutup dia. (*)

Leave a Reply

%d bloggers like this: