Kaum Intelektual Harus Menjadi Penjaga Moralitas Kehidupan Berbangsa

SURABAYA (23 April): Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menyoroti krisis moral dalam praktik politik Indonesia. Ia menegaskan partai politik harus menjunjung tinggi moralitas, seiring perannya yang strategis dalam sistem demokrasi.

Ia menilai kondisi politik saat ini justru menunjukkan gejala sebaliknya. Ruang publik, kata dia, semakin riuh namun miskin substansi.

“Yang kita lihat hari ini bukan kekayaan pikiran, tetapi kemiskinan nalar yang dipertontonkan. Perdebatan tanpa arah dan kegaduhan tanpa isi,” ujar Surya saat menghadiri pengukuhan Prof Dossy Iskandar Prasetyo sebagai Guru Besar di Universitas Bhayangkara Surabaya, Rabu (22/4/2026).

Surya juga mengungkapkan keprihatinan terhadap praktik yang dinilai mengabaikan akal sehat demi kepentingan tertentu. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan krisis karakter yang lebih mendasar dibanding sekadar persoalan kelembagaan.

“Bangsa ini gemar mencari kambing hitam, tetapi miskin keberanian untuk mengoreksi diri,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, dalam pidato ilmiahnya, Prof Dossy menekankan bahwa partai politik tidak seharusnya menjadi sekadar kendaraan kekuasaan. Ia menyebut peran utama partai adalah menjaga konstitusi, merawat etika demokrasi, serta menyalurkan aspirasi publik secara berintegritas.

Surya menaruh harapan besar pada kalangan intelektual untuk memperbaiki arah bangsa. Ia menyebut akademisi sebagai ‘benteng terakhir’ dalam merestorasi moralitas kehidupan kebangsaan.

Menurutnya, kampus harus mampu melahirkan intelektual yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan keberanian menjaga nilai kebenaran.

“Pertarungan utama bangsa hari ini adalah menjaga integritas, kejujuran, dan kejernihan berpikir di tengah kebisingan,” pungkasnya.

Momentum pengukuhan guru besar itu pun tidak sekadar menjadi seremoni akademik, melainkan ruang refleksi atas tantangan demokrasi dan pentingnya mengembalikan etika dalam kehidupan berbangsa. (Yudis/*)

Add Comment