JAKARTA (22 Mei): Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai NasDem, Erna Sari Dewi, meminta pemerintah fokus membenahi sistem keselamatan kereta api agar kecelakaan tidak terus berulang, bukan sekadar mencari pihak yang disalahkan.
“Yang menjadi perhatian utama adalah titik-titik rawan di perlintasan sebidang. Di negara maju, perlintasan sebidang hampir sudah tidak ada lagi karena memang sangat berisiko,” ujar Erna dalam Rapat Kerja Komisi V dengan Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, Kepala Basarnas, Korlantas Polri, KNKT, dan KAI, di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Ia mengapresiasi langkah cepat pemerintah bersama PT KAI yang telah menutup lebih dari 70 perlintasan sebidang berbahaya dengan tingkat lalu lintas tinggi.
Namun demikian, Erna menilai langkah tersebut belum cukup jika tidak dibarengi pembenahan sistem keselamatan yang terintegrasi, mulai dari rambu-rambu, sistem peringatan dini, hingga keberadaan petugas penjaga pintu perlintasan.
Menurutnya, masih banyak rambu pembantu yang membingungkan pengguna jalan dan belum optimalnya sistem early warning saat terjadi potensi kecelakaan di jalur kereta.
“Masih ada waktu sekitar tiga menit yang sebenarnya bisa dimanfaatkan masinis untuk melakukan pengereman. Karena itu, sistem peringatan dini sangat penting,” katanya.
Selain perbaikan sistem, Erna juga mendorong pembangunan flyover dan underpass sebagai solusi jangka panjang untuk menghapus perlintasan sebidang secara bertahap.
Meski demikian, ia mengakui pembangunan infrastruktur tersebut membutuhkan anggaran besar dan proses panjang, terutama terkait pembebasan lahan.
“Kalau sistemnya tidak diperbaiki, maka perbaikan infrastruktur saja tidak akan cukup menyelesaikan masalah,” tegas legislator NasDem dapil Bengkulu itu.
Komisi V DPR juga membahas kemungkinan revisi regulasi keselamatan transportasi perkeretaapian guna memperkuat perlindungan terhadap masyarakat.
“Ini soal nyawa manusia. Satu nyawa pun tidak boleh kita abaikan. Negara wajib melindungi keselamatan warganya,” pungkas Erna. (*)
0 Komentar