JAKARTA (3 Juni): Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai NasDem, Asep Wahyuwijaya, menegaskan pentingnya evaluasi dan kajian mendalam terhadap rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengakuisisi PT Industri Kereta Api (INKA). Menurutnya, langkah tersebut harus dipastikan mampu memperkuat transformasi bisnis KAI dan tidak justru menimbulkan beban baru di masa mendatang.
Pernyataan itu disampaikan Asep dalam rapat kerja dengan jajaran PT KAI dan PT INKA di gedung Nusantara I, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Asep menyoroti pentingnya proses valuasi dan due diligence yang komprehensif sebelum akuisisi dilakukan.
Ia menilai performa INKA saat ini perlu dikaji secara objektif agar sejalan dengan agenda transformasi yang sedang dijalankan KAI. Menurutnya, akuisisi harus didasarkan pada proyeksi bisnis yang jelas dan mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
“Saya kira penting melihat sejauh mana valuasi atau due diligence yang dilakukan KAI. Apakah langkah ini benar-benar akan mendukung agenda transformasi dan pengembangan usaha ke depan,” ujarnya.
Legislator NasDem dari Dapil Jabar V (Kabupaten Bogor) ini menekankan bahwa keberadaan Inka sebagai perusahaan manufaktur perkeretaapian harus mampu memberikan kontribusi maksimal setelah bergabung dengan KAI. Karena itu, proyeksi usaha tidak hanya dihitung dalam jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
“Harus dipastikan bahwa belanja atau investasi yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat. Proyeksi usaha jangan hanya lima tahun, tetapi harus lebih panjang dan terukur,” katanya.
Ia juga meminta tata kelola, manajemen, kondisi keuangan, hingga prospek usaha pasca-akuisisi disiapkan secara matang dan transparan.
“Jangan sampai akuisisi ini justru menjadi beban baru. Ekspektasi kita terhadap KAI sangat tinggi, baik dari sisi kinerja, transformasi maupun pelayanan. Karena itu seluruh proses harus clean and clear,” tegas Asep.
Selain rencana akuisisi INKA, Asep juga menyoroti potensi tambahan tugas KAI sebagai Badan Usaha Pelaksana Penugasan (BUPP). Menurutnya, penambahan tanggung jawab tersebut membutuhkan kesiapan manajemen, sumber daya manusia, serta tata kelola yang kuat agar tidak mengganggu agenda transformasi perusahaan.
“Akan ada pekerjaan baru yang harus dijalankan secara optimal. Jangan sampai transformasi KAI yang selama ini berjalan baik justru terganggu karena muncul beban tambahan yang belum dipersiapkan dengan matang,” ujarnya.
Asep berharap manajemen KAI dapat menyiapkan seluruh aspek secara profesional sehingga akuisisi INKA maupun penugasan baru yang diterima mampu menjadi pendorong pertumbuhan perusahaan, bukan sebaliknya.
“Saya menyampaikan ini karena ekspektasi kita terhadap KAI sangat tinggi. Mudah-mudahan semua agenda korporasi ini dipersiapkan secara proper (layak) sehingga langkah-langkah besar yang diambil benar-benar menjadi daya ungkit bagi kemajuan perusahaan ke depan,” pungkasnya. (Taufiq Rohman/*)
0 Komentar