JAKARTA (29 Juni): Peningkatan partisipasi perempuan di bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) adalah sebuah keniscayaan untuk memenangkan persaingan global.
“Kesenjangan gender di sektor STEM bukan sekadar isu keadilan, tetapi telah menjadi hambatan serius bagi daya saing dan inovasi bangsa,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/6/2026).
Menurut Lestari, tantangan karier perempuan di bidang STEM di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Meskipun angka lulusan perempuan di bidang ini mencapai 35%, realitas di dunia kerja menunjukkan hanya sekitar 8% yang bertahan dan membangun karier.
Pada sebuah diskusi bertema STEM Career GRWM (Get real with me) yang digelar akhir Maret lalu mengungkap berbagai hambatan yang dihadapi perempuan di STEM, mulai dari stereotip gender, minimnya support system, hingga budaya kerja yang masih didominasi laki-laki .
Hambatan-hambatan itu membuat banyak perempuan memilih jalur karier yang lebih βamanβ, bahkan keluar dari dunia sains dan teknologi .
Catatan Chief Information Officer (CIO) Summit 2026 mengungkapkan bahwa partisipasi perempuan Indonesia di sektor teknologi nasional masih di bawah 20% dan hanya sekitar 8% di level pimpinan. Capaian itu masih tertinggal jauh dari Thailand (42%) dan Singapura (41%).
Rerie, sapaan akrab Lestari, mendorong penguatan sistem pendidikan yang inklusif, mulai dari lingkungan keluarga hingga kebijakan pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian upaya mengatasi hambatan sosial dan stereotip yang terbangun selama ini.
Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu berpendapat bahwa perubahan narasi sangat penting untuk menormalisasi keterlibatan perempuan di STEM.
“Kita perlu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif di sekolah dan perguruan tinggi, memberi ruang bagi perempuan untuk aktif dalam riset, diskusi ilmiah, dan kepemimpinan akademik,” ujar Rerie.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menegaskan bahwa membuka akses lebih luas bagi perempuan di bidang STEM adalah investasi strategis untuk memastikan Indonesia memiliki SDM yang cukup dan berkualitas dalam menghadapi tantangan di era global saat ini.
“Transformasi menyeluruh dari hulu ke hilir, mulai dari perubahan narasi, penyediaan akses seperti pendanaan riset, hingga advokasi kebijakan yang pro-kesetaraan, kunci untuk mewujudkan peningkatan keterlibatan perempuan dalam STEM,” pungkas Rerie. (*)
0 Komentar