Home / Berita / Opini
Opini

Yang Hilang Bukan Matahari

📅 16 Agu 2026 💬 0 Komentar
Bagikan artikel:

Oleh: N.D. Santoso

Tim Media Center DPP NasDem

ADA peristiwa langit yang hanya berlangsung beberapa menit, tetapi membuat manusia bercerita selama ribuan tahun. Pada 12 Agustus 2026, jutaan manusia menunggu Matahari menghilang.

Di sepanjang jalur totalitas dari Greenland, Islandia hingga Spanyol orang-orang berkumpul membawa teleskop, kamera, kacamata pelindung, dan rasa ingin tahu. Mereka sebenarnya sudah tahu persis apa yang akan terjadi.

Para astronom telah menghitung lintasan Bulan, waktu totalitas, dan jalur bayangannya jauh sebelumnya. Secara ilmiah, hampir tak ada kejutan. Tetapi ketika totalitas benar-benar datang, kejutan itu justru muncul di tempat lain, pada manusia.

Di Islandia, laporan pengamat mencatat, perubahan cahaya dan suasana yang mendadak. Di Spanyol, kerumunan bersorak ketika Matahari berubah menjadi lingkaran hitam yang dikelilingi korona. Di Greenland, pengamat menyaksikan lanskap Arktik berubah di bawah bayangan Bulan.

Foto-foto yang beredar memang spektakuler, tetapi kesaksian mereka yang berada langsung di bawah totalitas, berulang pada satu hal, yakni pengalaman itu terasa berbeda ketika dilihat dengan mata sendiri. Teknologi berhasil merekam bentuknya. Tetapi tidak seluruh rasanya.

Indonesia tidak berada di bawah jalur totalitas. Kita menyaksikannya melalui layar, foto, video, dan laporan dari tempat-tempat yang dilalui bayangan Bulan. BMKG memang menyatakan Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia. Namun, mungkin justru dari kejauhan itu kita bisa melihat sesuatu yang lebih dekat, bahwa mengapa manusia, setelah mengetahui persis apa yang terjadi, tetap merasa perlu berhenti dan menengadah?

Pertanyaan itu membawa kita pulang kepada sebuah cerita lama. Di tanah Jawa, ketika gerhana terjadi, masyarakat mengenal kisah Batara Kala, raksasa yang dipercaya menelan benda langit. Bunyi lesung menjadi bagian dari sejumlah tradisi untuk merespons peristiwa tersebut.

Hari ini kita tahu Matahari tidak pernah ditelan raksasa. Kita tahu gerhana terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam konfigurasi tertentu. Kita bahkan mampu menghitungnya dengan presisi yang membuat gerhana tidak lagi menjadi teka-teki astronomi. Tetapi mungkin kita terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa leluhur kita keliru hanya karena cerita mereka tidak berbentuk persamaan matematika.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah apa yang dilakukan cerita itu terhadap manusia? Ia membuat orang berhenti, berkumpul, menengadah dan menyadari bahwa ada sesuatu di luar kendali mereka.

Dalam perspektif antropologi, mitos tidak harus dipahami sebagai teori ilmiah yang gagal. Ia dapat menjadi cara masyarakat menyimpan ingatan, membangun makna bersama, dan membentuk perilaku kolektif.

Batara Kala bukan teori astronomi. Ia adalah bahasa kebudayaan. Sains menjelaskan bagaimana gerhana terjadi. Mitos membantu menjelaskan bagaimana sebuah masyarakat memberi makna terhadap sesuatu yang belum dapat mereka jelaskan secara ilmiah. Dan keduanya bertemu pada satu tindakan yang ternyata tidak berubah selama ribuan tahun, yakni manusia berhenti dan menengadah.

Yang menarik, pengalaman gerhana 2026 justru menunjukkan bahwa manusia modern belum terlalu berbeda dari manusia masa lalu. Kita tahu kapan gerhana datang. Kita tahu mengapa langit menjadi gelap. Kita tahu korona Matahari akan muncul. Namun ketika totalitas tiba, manusia tetap bersorak, terdiam, terpukau.

Pengetahuan ternyata tidak menghapus rasa takjub. Ia hanya mengubah alasan kita untuk takjub. Dulu, manusia mencari cerita karena tidak memiliki penjelasan. Hari ini, manusia mencari pengalaman justru karena penjelasan itu sudah tersedia.

Kita mampu menghitung gerhana. Kita belum mampu menghitung rasa takjub. Dan di situlah sains bertemu batasnya bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai pengingat. Kita mampu menghitung kapan Bulan akan menutup Matahari. Tetapi kita tidak mampu memerintahkan awan untuk menyingkir. Kita mampu memprediksi totalitas hingga hitungan detik. Tetapi kita tidak dapat menghitung apa yang akan dirasakan seseorang ketika siang mendadak berubah menjadi gelap.

Pengetahuan memberi kita kepastian tentang peristiwa. Ia tidak otomatis memberi kita kebijaksanaan tentang maknanya. Jauh sebelum kata sustainability menjadi bahasa kebijakan, Nusantara telah memiliki sistem pengetahuan yang tumbuh dari pengamatan terhadap alam.

Pranata Mangsa di Jawa membantu petani membaca ritme musim. Bagi petani, langit bukan dekorasi. Ia adalah kalender. Di Bali, Subak menghubungkan air, pertanian, dan kehidupan sosial. Di Maluku, Sasi mengenal batas pemanfaatan sumber daya agar alam memiliki kesempatan untuk pulih. Di Aceh, Panglima Laot mengatur tata kehidupan masyarakat pesisir.

Kita sering menyebut semuanya kearifan lokal. Barangkali istilah itu terlalu kecil. Mereka adalah sistem pengetahuan. Laboratoriumnya alam. Metodenya pengamatan. Waktunya generasi. Dan hasil akhirnya bukan sekadar pengetahuan tentang alam, melainkan aturan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup di dalamnya.

Di sinilah persoalan manusia modern menjadi lebih rumit. Kita memiliki lebih banyak pengetahuan tentang alam dibandingkan dengan generasi mana pun sebelumnya. Kita memiliki teleskop, satelit, sensor, superkomputer, dan model iklim. Tetapi pengetahuan tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.

Kita tahu hutan menjaga kehidupan, tetapi masih memperlakukannya sebagai komoditas. Kita tahu sungai membutuhkan ruang, tetapi terus mempersempitnya. Kita tahu iklim berubah, tetapi masih sering bertindak seolah alam akan selalu menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia.

Barangkali musuh terbesar kita bukan sains. Bukan teknologi. Bukan modernitas. Melainkan kesombongan pengetahuan. Keyakinan bahwa karena kita sudah mampu menjelaskan alam, kita otomatis berhak memperlakukannya sesuka hati. Padahal mengetahui bagaimana alam bekerja tidak sama dengan mengetahui bagaimana manusia seharusnya hidup bersamanya.

Gerhana telah berlalu.
Bayangan Bulan pergi. Matahari kembali. Manusia kembali bekerja. Foto-foto memenuhi media sosial. Video totalitas beredar ke seluruh dunia. Dalam beberapa hari, perhatian manusia akan berpindah kepada peristiwa lain. Tetapi mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita simpan. Apa yang sebenarnya berubah?

Langit tidak berubah. Hukum alam tidak berubah. Yang berubah hanya posisi benda-benda langit yang telah melakukan tarian kosmis itu jauh sebelum manusia ada. Yang berubah adalah cara manusia memandangnya.

Dulu manusia takut ketika Matahari menghilang karena mereka belum tahu apa yang terjadi. Hari ini, manusia bepergian ribuan kilometer justru karena mereka tahu persis apa yang akan terjadi. Namun keduanya melakukan hal yang sama, berhenti dan menengadah.

Mungkin di situlah jembatan antara mitos dan sains. Bukan bahwa kita harus kembali percaya pada Batara Kala. Bukan pula bahwa kita harus meninggalkan teknologi. Kita justru membutuhkan sains lebih dari sebelumnya. Tetapi kita juga membutuhkan sesuatu yang tidak diberikan oleh teleskop, satelit, atau superkomputer yaitu kerendahan hati.

Sebab peradaban tidak hanya diukur dari kemampuan manusia menjelaskan mengapa langit menjadi gelap. Peradaban diuji dari apa yang dilakukan manusia setelah langit kembali terang. Apakah kita kembali seperti semula? Atau sedikit berubah?

Sedikit lebih menghormati hutan. Sedikit lebih berhati-hati terhadap air. Sedikit lebih sabar membaca alam. Sedikit lebih sadar bahwa Bumi bukan benda yang kita miliki, melainkan rumah yang kita warisi dan akan kita tinggalkan.

Mungkin gerhana tidak pernah datang untuk membuat manusia memahami langit. Mungkin ia datang untuk mengingatkan bahwa manusia tidak pernah menjadi pusatnya. Sebab yang hilang bukan Matahari. Yang perlahan hilang adalah kemampuan manusia untuk merasa takjub kepada sesuatu yang sudah berhasil dijelaskannya.

Dan setelah ribuan tahun manusia belajar membaca langit, mungkin pelajaran yang paling sederhana masih menjadi yang paling sulit, bahwa Langit tidak pernah berhenti mengajar. Manusialah yang perlahan berhenti menjadi muridnya.

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *