Home / Berita / Opini
Opini

Ketika Alam Berhenti Menepati Janji

📅 10 Agu 2026 💬 0 Komentar
Bagikan artikel:

Oleh: N.D. Santoso

Tim Media Center DPP NasDem

PERADABAN Nusantara tidak dibangun di atas istana, benteng, atau tembok-tembok batu. Namun, dibangun di atas sesuatu yang jauh lebih rapuh sekaligus lebih berharga, yaitu kemampuan membaca musim.

Jauh sebelum Nusantara mengenal kementerian, badan meteorologi, atau citra satelit, leluhur kita telah memiliki cara membaca langit. Mereka tidak mengenal istilah climate change. Mereka tidak pernah menyebut El Nino atau La Nina. Namun mereka memahami sesuatu yang jauh lebih penting bahwa alam mempunyai bahasa, dan manusia hanya dapat bertahan apabila mau mendengarkannya.

Bagi leluhur Nusantara, alam bukan sekadar ruang untuk dimanfaatkan, melainkan ruang kehidupan yang harus dihormati. Gunung tidak dipandang hanya sebagai sumber batu, hutan bukan sekadar kumpulan kayu, sungai bukan sekadar saluran air, dan laut bukan hanya tempat mencari ikan. Alam adalah penyangga kehidupan yang harus tetap mampu menghidupi generasi berikutnya.

Karena itulah hampir setiap daerah melahirkan kebijaksanaannya sendiri. Di Jawa dikenal Pranata Mangsa, pengetahuan ekologis yang lahir dari pengamatan turun-temurun terhadap angin, hujan, pergerakan bintang, hingga perilaku tumbuhan dan satwa sebagai penanda perubahan musim.

Di Bali, Subak bukan sekadar sistem irigasi, melainkan filosofi yang menempatkan manusia, alam, dan spiritualitas dalam satu keseimbangan. Di Maluku hidup tradisi Sasi, kesepakatan adat untuk “mengistirahatkan” laut dan hutan agar kehidupan memiliki kesempatan untuk pulih.

Masyarakat Dayak menjaga hutan melalui hukum adat, sementara itu masyarakat Sunda mewariskan petuah, “gunung kaian, gawir awian, lebak caian”, bahwa gunung harus berhutan, lereng ditanami bambu, dan dataran rendah menjadi kawasan resapan air.

Nama dan bentuknya berbeda. Namun, semuanya berangkat dari keyakinan yang sama yaitu manusia tidak dapat memerintah alam, hanya dapat hidup selaras dengannya. Semuanya lahir tanpa komputer, tanpa kecerdasan buatan, dan tanpa satelit. Tetapi lahir dari sesuatu yang hari ini justru mulai hilang, kesabaran membaca alam.

Hari ini, para klimatolog menggunakan satelit, superkomputer, dan pemodelan atmosfer. Dahulu, leluhur Nusantara menggunakan pengamatan yang diwariskan lintas generasi. Metodenya berbeda, tetapi tujuannya sama, membaca tanda-tanda alam agar kehidupan tetap berlangsung.

Pelajaran itu terasa semakin relevan. Bukan semata karena perubahan iklim. Pengamatan BMKG menunjukkan suhu udara rata-rata Indonesia telah meningkat sekitar 1,02 derajat Celsius dalam kurun tahun 1981 – 2024. Dalam ilmu iklim, kenaikan satu derajat bukan sekadar angka statistik. Tetapi cukup untuk menggeser musim, mengubah pola hujan, mengurangi ketersediaan air, dan menekan produktivitas pertanian.

Perubahan itu mungkin tidak terasa dalam satu hari. Namun, ketika berlangsung selama puluhan tahun, justru perlahan mengubah cara sebuah bangsa memproduksi pangan, mengelola air, menjaga kesehatan masyarakat, hingga merancang pembangunannya. Yang berubah bukan sekadar suhu bumi. Yang berubah adalah fondasi kehidupan yang selama ini kita anggap tetap.

Selama beberapa dekade, pembangunan sering kali diukur dari seberapa cepat hutan berubah menjadi kawasan industri, sawah menjadi permukiman, rawa menjadi kawasan komersial, dan pesisir menjadi ruang investasi. Kita menganggap setiap jengkal tanah yang belum dibangun sebagai ruang yang belum produktif.

Padahal, alam tidak pernah bekerja mengikuti logika neraca keuangan. Melainkan bekerja mengikuti hukum keseimbangan. Dan setiap keseimbangan yang dirusak selalu menagih biaya, hanya saja tidak selalu kepada generasi yang merusaknya.

Hutan menghasilkan jauh lebih banyak daripada kayu. Mampu menyimpan air, menjaga suhu, menahan erosi, menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, sekaligus benteng alami menghadapi perubahan iklim. Ketika fungsi-fungsi itu hilang, biaya yang harus dibayar selalu jauh lebih mahal daripada keuntungan yang sempat dinikmati.

Lalu datanglah perubahan iklim. Tahun ini, ancaman itu tidak lagi berada di ruang prediksi. BMKG memperkirakan El Nino kuat mencapai puncaknya pada Agustus – September 2026 dengan dampak yang berpotensi berlanjut hingga awal 2027. Hampir separuh wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau pada periode yang sama.

Bagi negara agraris sekaligus kepulauan seperti Indonesia, ini bukan sekadar informasi meteorologi. Ini adalah peringatan bahwa tekanan terhadap air bersih, produksi pangan, kebakaran hutan dan lahan, pasokan energi, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok dapat meningkat secara bersamaan.

Perubahan iklim jarang datang sebagai satu bencana besar. Namun, hadir sebagai rangkaian krisis yang saling memperkuat bahwa hujan berkurang, debit waduk menurun, hasil panen menyusut, harga pangan naik, kualitas udara memburuk, dan masyarakat rentan menjadi pihak pertama yang menanggung akibatnya.

Kemarau memanjang lebih lama daripada yang dikenali petani. Hujan turun dengan pola yang semakin sulit diprediksi. Ketika El Nino hadir di bumi yang sudah menghangat, setiap penyimpangan musim menjadi lebih ekstrem dan setiap kerusakan lingkungan menjadi pengganda risiko. Yang berubah bukan hanya cuaca. Yang berubah adalah kepastian.

Di sebuah desa, seorang petani tetap berangkat ke sawah seperti yang dahulu dilakukan ayah dan kakeknya. Bedanya, mereka hidup pada zaman yang berbeda. Sang kakek cukup membaca arah angin, embun pagi, dan rasi bintang untuk menentukan waktu menanam. Ayahnya masih dapat mengandalkan tanda-tanda musim, meski mulai merasakan pergeserannya.

Tetapi hari ini, anak cucunya menatap langit dengan kegelisahan. Hujan yang seharusnya turun tak kunjung datang. Ketika akhirnya datang, hujan turun terlalu deras hingga merendam tanaman yang baru tumbuh. Petani itu tidak kehilangan keterampilan. Tidak lupa cara mengolah tanah. Juga tidak berhenti mencintai sawahnya. Yang berubah adalah buku pelajaran yang selama ini dibacanya. Alam yang selama berabad-abad menjadi guru, kini berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Padahal, seluruh peradaban dibangun di atas kepastian itu. Petani membutuhkan kepastian musim untuk menanam. Nelayan membutuhkan kepastian angin untuk berlayar. Negara membutuhkan kepastian iklim untuk menjaga pangan, air, energi, kesehatan masyarakat, bahkan stabilitas sosial.

Ketika kepastian itu mulai retak, yang dipertaruhkan bukan sekadar hasil panen. Yang dipertaruhkan adalah rasa aman sebuah keluarga. Yang dipertaruhkan adalah masa depan sebuah bangsa.

Banyak orang masih menganggap perubahan iklim sebagai isu lingkungan. Cara pandang itu tidak lagi memadai. Perubahan iklim telah berubah menjadi persoalan ekonomi, kesehatan, pangan, fiskal, bahkan keamanan nasional.

Setiap musim yang bergeser, tercermin pada harga pangan, biaya kesehatan, produktivitas tenaga kerja, beban anggaran penanggulangan bencana, hingga ketahanan sosial. Karena itu, perubahan iklim bukan lagi urusan sektor lingkungan hidup semata. Namun telah menjadi variabel yang menentukan berhasil atau tidaknya pembangunan.

Tidak mengherankan jika banyak negara mulai menempatkan ketahanan iklim sebagai bagian dari strategi keamanan nasional. Pada abad ke-21, ancaman terhadap sebuah negara tidak selalu datang melalui senjata. Ancaman itu juga dapat datang melalui sawah yang gagal panen, waduk yang mengering, hutan yang terbakar, dan krisis air bersih yang memicu persoalan sosial baru.

Inilah paradoks terbesar bangsa kita. Kita mewarisi ribuan tahun kebijaksanaan hidup berdampingan dengan alam, tetapi memasuki abad ke-21 dengan keyakinan bahwa teknologi semata mampu menggantikan seluruh fungsi yang selama ini dijalankan alam.

Teknologi dapat mempercepat pekerjaan manusia. Tetapi tidak dapat memerintahkan hujan untuk turun. Juga tidak dapat meminta musim datang tepat waktu. Dan bahkan tidak dapat menyelamatkan masa depan jika manusia terus mengabaikan batas-batas yang ditetapkan alam.

Karena itu, tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar beradaptasi terhadap perubahan iklim, melainkan mengubah cara berpikir dalam merancang pembangunan. Selama keberhasilan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi jangka pendek tanpa menghitung daya dukung lingkungan, setiap keberhasilan hari ini berpotensi menjadi beban bagi generasi esok. Sebaliknya, pembangunan yang menghormati keseimbangan ekologis adalah syarat agar pertumbuhan dapat bertahan.

Kearifan lokal bukanlah romantisme masa lalu. Melainkan bentuk dari pengetahuan yang telah teruji oleh waktu. Bukan untuk mengajak kita kembali hidup seperti ratusan tahun silam, tetapi untuk mengingatkan bahwa kemajuan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kerentanan baru.

Yang dibutuhkan Indonesia hari ini bukan sekadar teknologi yang semakin canggih. Melainkan kerendahan hati untuk kembali belajar kepada alam.

Ketika suatu hari anak-anak kita bertanya mengapa sungai mengering, mengapa udara semakin panas, atau mengapa musim tidak lagi dapat ditebak, sesungguhnya mereka tidak sedang bertanya tentang cuaca. Mereka sedang bertanya mengapa sebuah bangsa yang diwarisi begitu banyak kebijaksanaan justru kehilangan kemampuan menjaga rumahnya sendiri.

Dan mungkin, pada hari itu, kita akan menyadari bahwa alam tidak pernah benar-benar berhenti menepati janjinya. Kitalah yang lebih dahulu berhenti menepati janji kepada alam.

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *