KUPANG (10 September): Sepak bola di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak berhenti pada pertandingan dan perebutan trofi. Di balik kompetisi, ada harapan agar lapangan-lapangan di daerah menjadi tempat tumbuhnya generasi muda yang memiliki keberanian berkompetisi, disiplin, dan kemampuan untuk membawa nama NTT lebih jauh.
Harapan itulah yang kembali dihidupkan melalui Lazarus Laiskodat Memorial Cup (LLMC) III 2026. Turnamen yang memasuki penyelenggaraan tahun ketiga itu akan berlangsung pada 4 Oktober hingga 8 November 2026 dengan total hadiah mencapai Rp1,1 miliar.
LLMC III mengusung tema ‘Semau untuk Semua’, dengan subtema ‘Dengan Prestasi dan Budaya, Semau Bergerak Maju’. Pulau Semau yang memiliki ikatan sejarah dengan keluarga Laiskodat, kembali menjadi pusat rangkaian kegiatan olahraga dan budaya tersebut.
Bagi Viktor Bungtilu Laiskodat, anggota DPR RI Fraksi NasDem dari Daerah Pemilihan NTT II, LLMC III memiliki makna yang lebih panjang daripada sebuah agenda pertandingan tahunan.
Ia memandang olahraga sebagai investasi sosial yang dapat membentuk karakter generasi muda sekaligus membuka jalan bagi lahirnya atlet-atlet NTT yang mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
“Saya berharap ajang ini dapat memotivasi anak-anak muda di daerah untuk memiliki mental kompetitif yang tangguh. Dari kompetisi seperti inilah kita ingin melihat talenta-talenta NTT tumbuh, berkembang, dan kelak mampu menembus panggung nasional hingga internasional,” kata Viktor.
Menurut Viktor, penyelenggaraan LLMC juga memiliki dimensi emosional karena digelar di tanah kelahiran keluarganya di Semau. Turnamen tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga nilai perjuangan dan cinta kasih yang diwariskan almarhum Lazarus Laiskodat.
Olahraga, dalam pandangan Viktor, dapat menjadi bahasa yang menyatukan. Anak-anak dari berbagai latar belakang bertemu di lapangan dengan aturan yang sama, menghadapi lawan dengan sportivitas, dan belajar menerima kemenangan maupun kekalahan.
Oleh karena itu, keberlanjutan LLMC tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan juara, melainkan menciptakan ekosistem yang memberi ruang kepada anak-anak NTT untuk berlatih, berkompetisi, dan menemukan keberanian mengejar prestasi.
Pada LLMC III 2026, kompetisi sepak bola antarklub tetap menjadi menu utama. Sebanyak 24 klub dari berbagai kabupaten dan kota di NTT dijadwalkan ambil bagian. Jumlah itu meningkat dibandingkan penyelenggaraan 2025 yang diikuti 16 klub.
Ketua Panitia LLMC III 2026, Bobby Damanik, mengatakan peserta tahun ini dipilih melalui mekanisme undangan. Klub yang diundang harus telah terverifikasi, memiliki badan hukum, serta terdaftar pada asosiasi PSSI di kabupaten atau kota masing-masing.
Yang menarik, pertandingan sepak bola LLMC III akan berlangsung di lapangan rumput sintetis di Desa Uitao, Pulau Semau. Lapangan yang disiapkan keluarga Laiskodat tersebut disebut menggunakan rumput sintetis berstandar FIFA.
“Ini akan jadi pertandingan bersejarah, LLMC dimainkan di atas lapangan rumput berstandar FIFA,” ujar Bobby.
Viktor melihat keberadaan fasilitas olahraga tersebut sebagai bagian dari investasi jangka panjang. Infrastruktur olahraga, menurut dia, harus dibangun bersamaan dengan keberanian memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk menggunakannya.
LLMC III tahun ini tidak hanya berbicara tentang sepak bola. Panitia memperluas cabang olahraga dengan menambahkan kempo dan tinju.
Cabang tinju bekerja sama dengan Pengurus Besar Tinju Indonesia (Perbati) NTT dan akan digelar di GOR Flobamora Kupang. Kejuaraan ini diarahkan sekaligus menjadi bagian dari proses penjaringan atlet menuju PON 2028 serta pembibitan petinju untuk menghadapi PON 2032.
Lebih dari 300 petinju diperkirakan ambil bagian. Hingga kini, peserta dari 12 provinsi dan delapan kabupaten di NTT telah terkonfirmasi.
“Kami harapkan bisa bertambah menjadi 20 provinsi,” kata Ketua Perbati NTT sekaligus Ketua Panitia LLMC Cabor Tinju, Hermensen Ballo.
Sementara itu, cabang kempo bekerja sama dengan Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) NTT. Pertandingan yang digelar di area Foodcourt Flothia Kupang tersebut mempertandingkan kategori junior, remaja, dan dewasa.
Pertandingan kempo dan tinju dijadwalkan berlangsung pada 2 November 2026 di Kota Kupang. Setelah itu, rangkaian acara dan partai final akan dipusatkan di Pulau Semau.
“Untuk cabang olahraga kempo dan tinju akan dilaksanakan pada tanggal 2 November di Kota Kupang, di Flothia dan GOR Flobamora. Untuk finalnya, semua kegiatan akan dilaksanakan di Pulau Semau,” ujar Bobby.
Seluruh cabang olahraga dalam LLMC III juga dibuka tanpa biaya pendaftaran.
“Semua cabor gratis. Ini semangat Pak Viktor Laiskodat dalam membangun olahraga. Jangan sampai prestasi dihalangi oleh biaya,” kata Bobby.
Ada satu unsur lain yang turut menjadi pembeda LLMC III, yakni budaya. Selain pertandingan olahraga, panitia akan menggelar kompetisi tari kreasi Lingae bagi anak-anak. Kehadiran unsur budaya tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan LLMC sebagai ruang perjumpaan antara olahraga, kreativitas anak, dan identitas masyarakat Semau.
Tema ‘Semau untuk Semua’ pun mendapatkan maknanya di sini. Lapangan olahraga tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga ruang berkumpul masyarakat.
Bagi Viktor, pembangunan manusia membutuhkan lebih dari satu jalur. Olahraga membentuk keberanian dan daya juang, sementara budaya menjaga akar dan identitas generasi muda.
Dua hal tersebut, menurut dia, dapat berjalan beriringan untuk membangun kepercayaan diri anak-anak NTT.
Mimpi yang ingin dibangun pun sederhana tetapi besar: anak-anak NTT memiliki kesempatan untuk melihat dunia lebih luas tanpa harus meninggalkan akar tempat mereka bertumbuh.
“Kita ingin anak-anak muda NTT memiliki mental kompetitif yang kuat. Mereka harus berani bermimpi besar, berani berkompetisi, dan memiliki kemampuan untuk membawa nama daerahnya sampai ke tingkat yang lebih tinggi,” ujar Viktor.
Dampak LLMC juga diharapkan meluas ke sektor ekonomi masyarakat. Panitia mencatat sekitar 30 pelaku UMKM makanan dan jajanan telah mendaftarkan diri untuk berjualan di sekitar lokasi pertandingan di Pulau Semau. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Kehadiran ribuan orang selama rangkaian pertandingan diharapkan menciptakan perputaran ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
“Melihat animo masyarakat yang cukup tinggi dan UMKM yang semakin banyak, kami berharap pertumbuhan ekonomi bisa meningkat di daerah tersebut, sehingga masyarakat pun mendapatkan dampak ekonomi dari turnamen LLMC,” kata Bobby.
Panitia juga menyiapkan pertunjukan musik untuk masyarakat. Sejumlah artis dan penyanyi dijadwalkan tampil, meski nama mereka masih dirahasiakan.
Dengan demikian, LLMC perlahan berkembang menjadi lebih dari kompetisi olahraga. Ada olahraga, budaya, hiburan, UMKM, dan pergerakan ekonomi masyarakat yang bertemu dalam satu rangkaian kegiatan.
Bagi Viktor, ukuran keberhasilan LLMC pada akhirnya tidak berhenti pada siapa yang mengangkat trofi. Ukuran yang lebih penting adalah apakah dari lapangan itu muncul anak-anak muda yang menemukan keberanian untuk mengejar prestasi, memiliki disiplin, dan kemudian memperoleh kesempatan menuju level kompetisi yang lebih tinggi.
Semau menjadi titik berangkat dari sebuah gagasan yang lebih besar tentang masa depan olahraga NTT.
“Saya ingin LLMC terus menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak NTT. Kita menanam hari ini untuk melihat hasilnya pada masa depan. Mungkin juaranya baru terlihat sekarang, tetapi talenta yang lahir dari kompetisi ini bisa menjadi atlet yang membawa nama NTT bertahun-tahun kemudian,” kata Viktor.
Harapan itu pula yang membuat nama Lazarus Laiskodat tetap ditempatkan sebagai bagian penting dari turnamen.
Warisan yang hendak diteruskan bukan berhenti pada nama, melainkan nilai perjuangan, kepedulian, dan keberanian memberikan ruang kepada generasi berikutnya.
Dari Pulau Semau, mimpi itu kembali dimulai, agar anak-anak NTT memiliki lapangan untuk bertanding, kesempatan untuk berprestasi, dan keberanian untuk bermimpi hingga ke panggung dunia. (bronto/*)
0 Komentar