Oleh: N.D. Santoso
Tim Media Center DPP NasDem
Ada sesuatu yang aneh dari kemenangan. Kita merayakannya bersama-sama, tetapi hampir selalu ingin memberikannya kepada satu orang.
Kita mencari siapa yang mencetak gol. Siapa yang melakukan penyelamatan. Siapa yang berdiri paling tenang ketika puluhan ribu orang menahan napas. Kita memberi kemenangan sebuah wajah, sebuah nama, lalu menuliskannya dalam sejarah seolah-olah pertandingan memang sejak awal menunggu seseorang untuk datang dan menyelesaikannya.
Mungkin karena kita menyukai cerita yang sederhana. Ada masalah. Datang seorang pahlawan. Pahlawan menyelesaikannya. Semua orang pulang dengan bahagia.
Tetapi final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia dan Thailand justru memberikan cerita yang berbeda. Indonesia menjadi juara bukan karena satu orang menyelesaikan semuanya. Indonesia menjadi juara karena setiap kali keadaan meminta seseorang mengambil tanggung jawab, selalu ada orang lain yang bersedia maju.
Mungkin itu sebabnya pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno terasa lebih panjang daripada 120 menit. Sebab yang sedang diuji bukan hanya siapa yang lebih pantas mengangkat trofi. Melainkan siapa yang tetap bersedia berdiri ketika kemenangan berkali-kali menjauh.
Selama lebih dari satu jam, pertandingan berjalan tanpa banyak drama. Kemudian semuanya berubah dalam hitungan menit. Nicholas Mickelson menerima kartu kuning kedua. Thailand bermain dengan sepuluh orang. Tiga menit kemudian, tendangan bebas Dean James membentur Iklas Sanron sebelum masuk ke gawang. Indonesia unggul.
Dalam banyak pertandingan, itulah saat ketika sebuah cerita mulai terasa selesai. Tetapi hanya tiga menit kemudian Thailand menyamakan kedudukan. Pemain yang tadi menjadi bagian dari lahirnya gol Indonesia kini justru mencetak gol untuk Thailand.
Satu pertandingan. Satu pemain. Dua sisi cerita. Barangkali sejak saat itu sepak bola sedang mengingatkan kita bahwa manusia tidak pernah sesederhana satu kesalahan, satu gol, atau satu peran.
Babak tambahan membuat semuanya semakin sulit dijelaskan. Thailand masih bermain dengan sepuluh orang. Namun justru mereka yang mencetak gol lebih dahulu. Anan Yodsangwal merebut bola dari Elkan Baggott dan mengirimkannya kepada Peeradol Chamrasamee. Bola masuk. Indonesia tertinggal 1–2.
Waktu terus berjalan. Lalu, pada menit ke-116, Baggott muncul. Pemain yang terlibat dalam rangkaian lahirnya gol Thailand justru mencetak gol penyama, 2–2. Baggott tidak menghapus kesalahannya tetapi menunjukkan bahwa kesalahan tidak harus menjadi akhir dari sebuah cerita.
Kita sering ingin membagi manusia ke dalam dua kelompok, yakni mereka yang benar dan mereka yang salah dan mereka yang berhasil dan mereka yang gagal. Padahal manusia tidak pernah sesederhana itu.
Orang yang melakukan kesalahan masih bisa menjadi orang yang memperbaiki keadaan. Kadang-kadang orang yang jatuh masih memiliki peran dalam membantu orang lain berdiri.
Setelah 120 menit, pertandingan tetap tidak menemukan pemenangnya. Maka sepak bola membawa keduanya ke tempat yang paling sederhana sekaligus paling kejam, titik sebelas meter.
Di sana, perdebatan tentang siapa yang lebih dominan mendadak kehilangan banyak arti. Tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi. Hanya seorang pemain, sebuah bola, sebuah gawang, dan beberapa detik untuk memutuskan apakah ia bersedia mengambil tanggung jawab.
Kevin Diks maju, dan masuk. Dean James maju, lalu masuk. Elkan Baggott maju, juga masuk. Shayne Pattynama maju, dan berhasil masuk. Kemudian Emil Audero berdiri di bawah mistar. Satu penyelamatan. Kemudian satu lagi. Indonesia menang 4–2 melalui adu penalti. Indonesia menjadi juara.
Tetapi justru setelah semuanya selesai, saya merasa pertandingan itu tidak sedang bercerita tentang seorang pahlawan. Melainkan sedang bercerita tentang giliran. Dean James tidak menyelesaikan pertandingan. Baggott tidak menyelesaikan pertandingan. Audero juga tidak memenangkan pertandingan seorang diri. Herdman tidak pernah bisa mengendalikan bagaimana 120 menit itu akan berakhir. Mereka hanya menjalankan bagian mereka ketika bagian itu datang.
Mungkin di situlah kita selama ini keliru memahami kepahlawanan. Kita mengira pahlawan adalah seseorang yang mampu melakukan semuanya. Padahal mungkin pahlawan adalah seseorang yang tahu kapan harus berkata: “Sekarang bagian saya.”
Kemudian, setelah selesai, ia memberikan giliran kepada orang berikutnya. Kita menyukai pahlawan karena pahlawan membuat hidup terasa sederhana. Jika ada satu orang yang bertanggung jawab atas kemenangan, kita tidak perlu bertanya apa bagian kita. Jika ada satu pemimpin yang dipercaya mampu menyelesaikan semuanya, kita cukup menunggu. Jika ada satu pemain bintang yang dianggap mampu menyelamatkan pertandingan, kita bisa berharap ia melakukan sesuatu yang luar biasa.
Pahlawan, dalam pengertian seperti itu, bukan hanya seseorang yang menyelamatkan kita. Pahlawan juga bisa menjadi alasan kita merasa tidak perlu menyelamatkan diri sendiri. Mungkin itu sebabnya kita begitu mudah mencarinya.
Dalam sepak bola kita mencari pemain penyelamat. Dalam politik kita mencari pemimpin penyelamat. Dalam organisasi kita mencari satu orang yang mampu membereskan semuanya. Dalam kehidupan, kita menunggu seseorang datang membawa jawaban yang bahkan tidak pernah kita coba cari sendiri. Kita menyebutnya harapan. Padahal kadang-kadang ia hanyalah bentuk lain dari ketergantungan.
Sebuah bangsa tentu membutuhkan pemimpin. Sebuah tim membutuhkan pelatih. Tetapi tidak satu pun dari mereka dapat melakukan semuanya seorang diri. Sebuah rumah tidak dibangun oleh satu bata. Sebuah orkestra tidak dimainkan oleh satu alat musik. Dan sebuah bangsa tidak pernah dibangun oleh satu manusia.
Peradaban tumbuh dari manusia-manusia yang bersedia melakukan bagiannya, bahkan ketika tidak ada kamera yang menyorot. Seorang guru mengajar satu anak. Seorang dokter menyelamatkan satu pasien. Seorang ibu membesarkan anaknya. Seorang pekerja memilih tetap jujur ketika tidak ada yang melihat. Seorang pemimpin mengambil keputusan yang benar meskipun tidak populer.
Tidak semuanya akan menjadi berita. Sebagian besar bahkan tidak akan dikenang. Tetapi mungkin memang begitulah sejarah bekerja. Ia mengumpulkan pekerjaan-pekerjaan kecil yang tidak pernah menjadi berita, lalu suatu hari memperlihatkan hasilnya kepada dunia.
Karena itu saya melihat adu penalti malam itu bukan semata-mata sebagai ujian keberanian. Saya melihatnya sebagai ujian kepercayaan. Herdman memilih para penendang berdasarkan siapa yang dianggap paling klinis dalam latihan. Bukan siapa yang paling terkenal. Bukan pula siapa yang paling sering disebut sebagai bintang. Kemudian mereka maju satu per satu.
Seseorang menendang karena orang lain mempercayainya. Seseorang berdiri di bawah mistar karena sebelas orang di depannya mempercayai bahwa ia mampu menjaga gawang. Dan seseorang tetap berada di lapangan setelah melakukan kesalahan karena timnya tidak menganggap kesalahan sebagai alasan untuk membuangnya.
Begitulah sebuah tim bekerja. Bukan dengan memastikan tidak ada seorang pun gagal. Tetapi dengan memastikan bahwa ketika seseorang gagal, masih ada orang lain yang bersedia membantunya berdiri.
Mungkin itulah sebabnya kisah Baggott terasa lebih penting daripada sekadar kisah penebusan. Ia lahir di Bangkok. Malam itu ia berdiri di Jakarta dengan seragam Indonesia. Ia kehilangan bola yang kemudian menjadi awal gol Thailand. Lima menit kemudian ia mencetak gol penyama. Beberapa menit setelah itu ia kembali berdiri di titik penalti. Dan mencetak gol.
Kita bisa menyebutnya penebusan. Tetapi saya kira ada sesuatu yang lebih dalam. Baggott mengingatkan kita bahwa seseorang tidak harus sempurna untuk tetap berguna.
Kita terlalu cepat mengubah kesalahan menjadi identitas. Seseorang pernah gagal, lalu kita menyebutnya gagal. Seseorang pernah salah, lalu kita menganggap seluruh dirinya adalah kesalahan. Padahal manusia bukan satu momen. Manusia adalah perjalanan antara jatuh dan berdiri kembali.
Masyarakat yang dewasa bukan masyarakat yang tidak memiliki orang-orang yang pernah salah. Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang masih memberi ruang bagi orang yang pernah salah untuk melakukan sesuatu yang benar. Dan Thailand membuat kemenangan Indonesia justru menjadi lebih berarti. Karena Indonesia tidak mengalahkan tim yang menyerah.
Thailand bermain dengan sepuluh orang, tetapi tetap mampu menyamakan kedudukan dan kemudian berbalik unggul di babak tambahan. Indonesia tidak pernah benar-benar memiliki pertandingan itu sepenuhnya. Tidak ada dominasi mutlak. Tidak ada kemenangan yang datang dengan mudah. Yang ada hanyalah dua tim yang berkali-kali menolak menerima akhir yang diberikan keadaan.
Karena itu, saya tidak terlalu tertarik menyebut final ini sebagai kisah tentang “mental juara”. Istilah itu terlalu mudah. Saya lebih tertarik melihatnya sebagai kisah tentang kemampuan hidup ketika keadaan tidak lagi bisa dikendalikan.
Kita tidak selalu menang karena mampu mengendalikan keadaan. Kadang kita menang karena mampu tetap berdiri ketika keadaan sudah tidak mau bekerja sama.
Selama bertahun-tahun, mungkin kita terlalu sibuk mencari wajah kemenangan Indonesia. Siapa pemain terbaiknya. Siapa pemimpinnya. Siapa penyelamatnya. Siapa yang kelak disebut sebagai legenda.
Malam itu jawabannya justru menjadi semakin sulit. Sebab kemenangan itu memiliki terlalu banyak wajah. Wajah Dean James. Wajah Baggott. Wajah Diks. Wajah Pattynama. Wajah Audero. Wajah Herdman. Dan wajah ribuan orang di stadion yang tidak pernah menyentuh bola, tetapi membuat sebelas orang di lapangan tahu bahwa mereka tidak sendirian.
Mungkin itu sebabnya trofi terasa berbeda malam itu. Ia tidak terlihat seperti milik satu orang. Ia seperti sesuatu yang berpindah dari tangan ke tangan sebelum akhirnya sampai ke tangan bangsa yang menunggunya.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti mencari pahlawan. Bukan karena pahlawan tidak penting. Tetapi karena bangsa yang terlalu bergantung pada seorang pahlawan akan selalu merasa rapuh ketika pahlawannya pergi.
Yang membuat sebuah bangsa kuat justru ketika semakin banyak orang mampu berkata: “Ini bagian saya.”
Bukan karena mereka tahu hasil akhirnya. Bukan karena mereka yakin akan dipuji. Bukan karena mereka tahu sejarah akan mengingat namanya. Tetapi karena ada pekerjaan yang memang harus dilakukan.
Seorang pemain maju ke titik penalti. Seorang guru masuk ke ruang kelas. Seorang dokter masuk ke ruang praktik. Seorang ibu bangun ketika anaknya menangis. Seorang pekerja datang ketika pekerjaannya menunggu. Seorang pemimpin mengambil keputusan ketika semua orang memilih aman.
Sekali lagi, tidak semuanya akan menjadi berita. Sebagian besar bahkan tidak akan dikenang. Tetapi mungkin memang begitulah sebuah bangsa dibangun. Bukan dari orang-orang yang menunggu namanya ditulis dalam sejarah. Melainkan dari orang-orang yang tetap melakukan pekerjaannya meskipun tidak ada yang tahu namanya.
Malam itu Indonesia mengangkat trofi. Tetapi mungkin trofi bukanlah pelajaran paling penting yang dibawa pulang dari Jakarta. Pelajaran itu justru muncul beberapa detik sebelum sebuah bola ditendang.
Ketika stadion mendadak sunyi. Ketika seorang manusia berdiri sendirian. Ketika tidak ada seorang pun yang dapat menjanjikan apa yang akan terjadi sesudahnya. Ia maju. Bukan karena ia tahu akan berhasil. Tetapi karena giliran itu sudah menjadi miliknya.
Barangkali sebuah bangsa tumbuh dengan cara yang sama. Bukan ketika ia menemukan seseorang yang sanggup menyelamatkan semuanya. Tetapi ketika semakin banyak orang berhenti bertanya, “Siapa yang akan menyelamatkan kita?”
Dan mulai bertanya, “Apa yang menjadi bagian saya?”
Mungkin itulah kemenangan yang sesungguhnya. Sebab sebuah bangsa tidak menjadi besar karena memiliki banyak pahlawan. Ia menjadi besar ketika semakin banyak orang tidak lagi membutuhkan seorang pahlawan untuk melakukan apa yang sebenarnya menjadi tanggung jawab mereka.
Dan mungkin, pada malam ketika Indonesia akhirnya menjadi juara, yang berubah bukan hanya sebuah catatan sejarah sepak bola. Mungkin yang berubah adalah cara kita memandang kemenangan.
Untuk pertama kalinya, kita tidak perlu mencari satu nama untuk menyebutnya. Sebab kemenangan itu ternyata milik semua orang yang, ketika gilirannya tiba, memilih untuk maju.
0 Komentar