Home / Berita / Opini
Opini

Stunting Dalam Pemikiran: Antara Pimpinan dan Pemimpin

đź“… 09 Okt 2026 đź’¬ 0 Komentar
Bagikan artikel:

Oleh: N.D. Santoso

Tim Media Center DPP NasDem

Pada suatu pagi, seorang pimpinan menerima sebuah laporan. Angkanya bagus. Target tercapai. Kinerja meningkat. Tidak ada persoalan berarti. Hanya ada satu hal yang tidak masuk ke dalam laporan itu, kenyataan.

Sementara di lantai bawah, beberapa orang sebenarnya sedang menyayangkan. Ada keputusan yang dianggap keliru. Ada target yang tercapai dengan harga terlalu mahal. Ada pula yang pernah mencoba menyampaikan keberatan, tetapi kemudian belajar satu hal bahwa dalam organisasi tertentu, membawa kabar buruk ke atas kadang lebih berbahaya daripada membiarkannya tetap di bawah.

Maka laporan menjadi semakin rapi. Tidak ada konflik. Tidak ada keberatan. Tidak ada kegagalan. Semua terlihat baik-baik saja. Dan barangkali di situlah sebuah penyakit kepemimpinan dimulai. Bukan ketika seorang pimpinan membuat keputusan yang salah. Tetapi jauh sebelumnya, ketika tidak ada lagi orang yang berani memberitahunya bahwa ia sedang salah.

Kita hidup pada zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahaminya. Teknologi berubah sebelum organisasi selesai beradaptasi. Artificial intelligence mengubah cara manusia bekerja. Media sosial membuat hampir setiap orang memiliki mikrofon sendiri. Namun, di sebagian organisasi, persoalannya masih sangat klasik, yakni bagaimana memastikan bos tetap senang.

Kita berbicara tentang transformasi digital, tetapi masih memelihara mentalitas feodal. Berbicara tentang critical thinking, tetapi memberi penghargaan sosial kepada orang yang paling cepat berkata, “siap”.

Berbicara tentang inovasi, tetapi ide baru terlebih dahulu melewati satu pertanyaan “Bos suka tidak?”
Jika suka, lanjut. Jika tidak, cari alasan mengapa ide itu tidak bagus.

Pelan-pelan, organisasi tidak lagi menghasilkan orang yang mengatakan apa yang benar. Melainkan menghasilkan orang yang tahu apa yang aman untuk dikatakan. Yang lebih berbahaya, orang-orang akhirnya tidak perlu diperintah untuk diam. Mereka belajar menyensor dirinya sendiri. Sebuah organisasi bisa kehilangan kejujuran tanpa pernah kehilangan kesopanan.

Di sinilah perbedaan antara pimpinan dan pemimpin menjadi penting. Pimpinan adalah kedudukan. Pemimpin adalah kualitas. Pimpinan memperoleh kewenangan dari struktur. Pemimpin memperoleh pengaruh dari karakter. Pimpinan bisa ditunjuk. Pemimpin harus diakui. Pimpinan memiliki bawahan. Pemimpin membangun manusia. Jabatan pimpinan dapat diberikan. Kepemimpinan tidak.

Tidak ada surat keputusan yang mampu membuat seseorang otomatis menjadi dewasa. Tidak ada pangkat yang bisa menggantikan kebijaksanaan. Dan tidak ada umur yang secara otomatis membuat seseorang matang. Kepemimpinan justru diuji ketika seseorang mendengar sesuatu yang tidak ingin ia dengar. Ketika bawahan berkata, “Saya tidak setuju.” Ketika orang yang lebih muda membawa gagasan yang lebih baik. Ketika sebuah keputusan ternyata keliru. Atau ketika seorang pimpinan harus memilih antara mempertahankan harga dirinya atau menyelamatkan organisasinya.

Di situlah jabatan berhenti menjadi fasilitas dan berubah menjadi ujian. Karena itu, ‘Yes Sir’ dan ‘Yes, Ma’am’ tidak selalu menunjukkan penghormatan. Kadang hanya menunjukkan bahwa seseorang telah belajar membaca arah angin. Orang yang paling cepat mengangguk belum tentu paling loyal. Bisa jadi hanya paling paham bagaimana bertahan.

Loyalitas yang sehat kadang justru berbunyi: “Saya tidak setuju.”
“Menurut saya ada risiko yang belum kita lihat.”
“Saya kira kita sedang menuju arah yang keliru.”

Kalimat-kalimat itu mungkin tidak nyaman. Tetapi organisasi yang sehat tidak dibangun dari kenyamanan. Melainkan dibangun dari kemampuan menghadapi kenyataan. Pertanyaan yang lebih jujur kemudian muncul, apakah kita sungguh-sungguh bisa meminta orang berkata benar jika organisasi menghukum orang yang berkata benar?

Kita sering mengatakan pintu kritik terbuka, tetapi diam-diam berharap tidak ada yang benar-benar masuk. Yang terlalu kritis disebut tidak loyal. Yang terlalu banyak bertanya dianggap sulit diarahkan. Yang berbeda pendapat dicap tidak bisa bekerja sama.

Pada akhirnya, pesan yang diterima organisasi menjadi sederhana bahwa jangan membuat atasan merasa tidak nyaman. Maka orang belajar diam. Bukan karena tidak punya pikiran. Tetapi karena sudah menghitung harga dari menggunakannya.

Barangkali karena itu pula perubahan generasi terasa begitu penting. Milenial tumbuh di antara dunia lama dan dunia digital. Mereka masih mengenal struktur hierarkis, tetapi juga mengalami keterbukaan informasi dan perubahan cara bekerja.

Gen Z datang ketika banyak perspektif hadir bersamaan. Mereka terbiasa bertanya, membandingkan, mencari alasan, dan melihat otoritas melalui lebih dari sekadar titel. Maka kalimat “karena saya atasanmu” perlahan kehilangan daya magisnya. Bukan berarti generasi baru otomatis lebih kritis. Tidak. Generasi baru pun bisa mewarisi penyakit lama.

‘Yes Sir’ dan ‘Yes Ma’am’ bisa berpindah ke grup WhatsApp. Budaya mencari muka bisa bermigrasi ke Telegram, Instagram, Facebook. Pencitraan bisa menjadi lebih canggih karena sekarang memiliki kamera, algoritma, dan personal branding. Feodalisme tidak mati. Tetapi hanya belajar menggunakan teknologi.

Jadi persoalannya bukan generasi tua melawan generasi muda. Persoalannya lebih sederhana sekaligus lebih sulit, yakni apakah manusia mau bertumbuh ketika zamannya berubah?

Generasi Alpha kelak akan membawa pertanyaan itu lebih jauh. Mereka akan memasuki dunia ketika AI, teknologi, dan informasi bukan lagi sesuatu yang baru, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam dunia seperti itu, otoritas formal akan semakin sulit berdiri hanya dengan modal jabatan.

Pertanyaannya mungkin sederhana, “Mengapa saya harus percaya kepada Anda?”
Itu bukan ancaman. Itu ujian. Sebab di masa depan, jabatan mungkin masih banyak. Tetapi jabatan tidak pernah dengan sendirinya menghasilkan kepercayaan.

Yang akan semakin langka adalah orang yang memiliki alasan untuk dipercaya. Dan mungkin di situlah persoalan sebenarnya berada. Bukan pada seberapa banyak seseorang tahu, tetapi apakah pikirannya masih mampu tumbuh.

Dan saya menyebutnya dengan istilah “stunting dalam pemikiran”. Tubuh sehat. Penampilan meyakinkan. Gelar mungkin panjang. Pengalaman mungkin puluhan tahun. Jabatan mungkin tinggi. Tetapi akal pikiran seperti dibonsai.

Bertambah umur, tetapi tidak bertambah keluasan. Bertambah pengalaman, tetapi tidak bertambah kedalaman. Bertambah jabatan, tetapi tidak bertambah kebijaksanaan.

Stunting dalam pemikiran tidak selalu terlihat seperti kebodohan. Secara tampilan bisa mengenakan setelan pakaian necis dan keren. Memiliki CV panjang. Berbicara dengan sangat percaya diri. Tetapi setiap gagasan berbeda dianggap ancaman. Setiap pertanyaan dianggap pembangkangan. Setiap kritik dianggap serangan.

Ada perbedaan antara memiliki pengetahuan dan mampu berpikir. Pengetahuan membuat seseorang tahu banyak hal. Kedewasaan membuat seseorang sadar bahwa masih banyak hal yang belum ia tahu. Karena itu, salah satu kalimat paling sehat dalam kepemimpinan sebenarnya sangat sederhana, “Saya belum tahu.”

Kita juga terlalu sering menggunakan usia sebagai ukuran kebijaksanaan. Padahal waktu hanya menambah usia. Tetapi tidak menjamin pertumbuhan batin. Orang yang benar-benar matang justru mampu mengatakan, “Gagasan itu bukan milik saya, tetapi mungkin lebih baik.”
“Saya salah.”
“Orang yang lebih muda dari saya ternyata benar.”
Tidak ada kewibawaan yang hilang dari kalimat-kalimat itu. Mungkin justru di sanalah kewibawaan dimulai.

Temuan Gallup memberi satu konteks penting. Dalam riset lintas 52 negara dan wilayah, Gallup menemukan empat kebutuhan utama yang berkaitan dengan kepemimpinan positif yaitu hope, trust, compassion, dan stability. Hope menjadi kebutuhan terbesar, disusul trust.

Harapan tanpa kepercayaan hanya menjadi slogan. Kepercayaan tanpa kepedulian berubah menjadi transaksi. Dan di tengah dunia yang semakin bising, kepemimpinan membutuhkan sesuatu yang semakin langka, yaitu keheningan dan jeda. Bukan keheningan karena takut. Melainkan ruang untuk jeda berpikir sejenak sebelum berbicara.

Informasi lebih cepat daripada verifikasi. Opini lebih cepat daripada refleksi. Reaksi lebih cepat daripada kebijaksanaan. Semua orang ingin berbicara. Tidak semua orang ingin berpikir. Pemimpin tidak seharusnya takut pada pertanyaan. Tetapi justru harus takut pada saat ketika tidak ada lagi orang yang berani bertanya.

Sebab, kabar buruk yang datang lebih awal adalah informasi. Kabar buruk yang disembunyikan sampai terlambat bisa menjadi bencana. Karena itu, ukuran seorang pemimpin bukan hanya apa yang terjadi ketika ia berada di dalam ruangan. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah ia keluar dari ruangan. Apakah orang-orang masih berani berpikir? Masih berani membawa kabar buruk? Masih mampu mengambil keputusan? Masih bisa berjalan tanpa menunggu instruksi? Atau mereka justru kembali melihat ekspresi wajah atasan untuk mengetahui apa yang boleh mereka pikirkan?

Pemimpin tidak menciptakan ketergantungan. Namun justru menciptakan kapasitas. Sebab semua orang yang memegang jabatan pada akhirnya akan sampai pada persimpangan yang sama, yaitu pimpinan atau pemimpin. Pimpinan membutuhkan orang yang mengatakan apa yang ingin didengarnya. Pemimpin membutuhkan orang yang berani mengatakan apa yang perlu didengarnya. Yang pertama menciptakan kenyamanan. Yang kedua melindungi kenyataan.

Pada akhirnya, semua kursi akan kosong. Semua jabatan memiliki masa berlaku. Semua struktur berubah. Semua kekuasaan berpindah tangan. Yang tertinggal bukan papan nama di pintu. Bukan tanda tangan. Bukan foto bersama. Yang tertinggal adalah manusia-manusia yang pernah berada di sekitar kita.

Maka pertanyaan paling penting tentang kepemimpinan mungkin bukan: “Seberapa banyak orang yang berhasil kita kendalikan?”
Melainkan: “Seperti apa orang-orang yang menjadi lebih baik setelah mengenal kita?”
Apakah mereka menjadi lebih berani? Lebih jujur? Lebih dewasa? Lebih mampu berpikir? Lebih siap berjalan tanpa kita?

Sebab, seorang pimpinan mungkin berhasil membuat semua orang patuh. Tetapi hanya seorang pemimpin yang mampu membuat orang lain tumbuh. Mungkin itulah tantangan kepemimpinan hari ini. Bukan sekadar menciptakan organisasi yang produktif, tetapi menciptakan sebuah ruang.

Ruang tempat seseorang cukup aman untuk berkata “tidak”, cukup dewasa untuk menjelaskan alasannya, dan cukup percaya untuk tetap berjalan bersama setelah perbedaan selesai dibicarakan. Ruang tempat orang pintar tidak perlu mengecilkan dirinya agar atasannya terlihat semakin besar. Ruang tempat pengalaman dihormati tanpa menjadikannya alasan untuk berhenti belajar. Ruang tempat generasi muda tidak sekadar diminta patuh, tetapi diberi kesempatan untuk berpikir. Dan ruang tempat seorang pimpinan cukup rendah hati untuk menyadari bahwa mungkin orang terbaik di dalam ruangan bukan dirinya.

Karena itu, ketika seorang pemimpin masuk ke sebuah ruangan, pertanyaannya bukan apakah semua orang langsung mencari jawaban. Pertanyaannya, apakah mereka merasa aman membawa pertanyaan?

Di situlah kita akhirnya tahu siapa yang sedang berdiri di depan kita, apakah ia seorang pimpinan atau pemimpin. Karena jabatan membuat seseorang berada di depan. Kekuasaan membuat orang lain menurut. Tetapi karakter membuat orang lain rela berjalan bersamanya. Dan di antara ketiganya ada sebuah persimpangan yang sering kita lewati tanpa sadar. Namanya KEPEMIMPINAN.

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *