JAKARTA (20 Mei): Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fauzi Amro, menegaskan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 menjadi sinyal kuat optimisme pemerintah menghadapi tekanan ekonomi global.
Menurut Fauzi, langkah Presiden Prabowo yang turun langsung menyampaikan arah kebijakan fiskal negara di parlemen merupakan momentum penting sekaligus pesan politik bahwa pemerintah serius menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Biasanya pengantar KEM-PPKF disampaikan Menteri Keuangan. Tapi hari ini langsung disampaikan Presiden Prabowo. Ini sangat luar biasa dan jarang terjadi. Artinya Presiden ingin memastikan langsung arah optimisme ekonomi Indonesia ke depan,” kata Fauzi seusai Rapat Paripurna DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Legislator Fraksi Partai NasDem itu mengatakan, pidato Presiden pada momentum Hari Kebangkitan Nasional itu menunjukkan keyakinan pemerintah bahwa Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian.
“Pak Presiden menyampaikan pertumbuhan ekonomi 2027 diproyeksikan 5,8 sampai 6,5 persen. Inflasi tetap terjaga, defisit anggaran masih aman, nilai tukar juga terkendali. Ini menunjukkan optimisme pemerintah menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Dalam pidato tersebut, Presiden memproyeksikan inflasi berada di kisaran 1,8 hingga 2,3 persen, dengan defisit anggaran sekitar 1,8 sampai 2,2 persen terhadap PDB. Presiden juga menargetkan peningkatan pendapatan negara hingga 11-12 persen dari PDB dan belanja negara pada kisaran 12-13 persen dari PDB.
Fauzi menilai optimisme itu penting untuk membangun kepercayaan publik dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
“Optimisme Presiden ini harus menjadi semangat baru bagi kita semua, khususnya sektor fiskal. Bagaimana penerimaan negara dari pajak, bea cukai, dan PNBP benar-benar dimaksimalkan,” katanya.
Ia juga menyoroti tantangan berat yang dihadapi pemerintah akibat situasi geopolitik global, terutama lonjakan harga minyak dunia yang berpengaruh langsung terhadap APBN.
“Kondisi geopolitik hari ini memang tidak baik-baik saja. Harga minyak dunia sekarang sekitar 105 dolar AS per barel, sementara asumsi APBN sebelumnya sekitar US$70. Setiap kenaikan 1 dolar itu dampaknya bisa mencapai sekitar Rp6,8 triliun terhadap fiskal negara,” jelas Fauzi.
Meski demikian, ia mengapresiasi keyakinan Presiden Prabowo untuk tetap menjaga stabilitas energi nasional dan tidak menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir tahun.
“Presiden meyakini sampai Desember tidak ada kenaikan minyak subsidi. Ini tentu memberikan rasa tenang bagi masyarakat sekaligus menjaga daya beli,” ujarnya.
Fauzi menegaskan Fraksi Partai NasDem mendukung penuh arah kebijakan ekonomi pemerintah selama berorientasi pada pertumbuhan berkualitas dan kesejahteraan rakyat.
“Kalau pendapatan negara maksimal, maka belanja negara bisa diarahkan kepada belanja yang produktif, berkualitas, dan bermanfaat bagi rakyat. Dampaknya konsumsi masyarakat meningkat dan pertumbuhan ekonomi ikut naik,” tutupnya. (Yudis/*)
0 Komentar