JAKARTA (26 Mei): Lonjakan kasus COVID-19 di Singapura kembali menjadi perhatian serius di kawasan Asia Tenggara. Ketua Umum Profesi Kesehatan (Prokes) Partai NasDem, DR. dr. Cashtry Meher mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terlambat membaca sinyal ancaman kesehatan global yang berpotensi berdampak lintas negara.
Menurutnya, bangsa Indonesia tidak boleh mengulangi kesalahan masa lalu, yakni terlambat merespons situasi hingga krisis sudah membesar.
“Bangsa Indonesia tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama yaitu terlambat membaca ancaman, lambat merespons situasi, lalu sibuk ketika krisis sudah membesar,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa lonjakan kasus COVID-19 di Singapura harus dipahami sebagai peringatan dini kawasan, bukan sekadar peristiwa lokal negara tersebut. Hal ini dinilai penting karena tingginya interkoneksi antara Indonesia dan Singapura di berbagai sektor, mulai dari penerbangan, perdagangan, wisata, pendidikan, hingga layanan kesehatan.
“Lonjakan kasus COVID-19 di Singapura harus dibaca sebagai sinyal serius kawasan, bukan sekadar peristiwa lokal negara lain,” tambahnya.
Dalam dunia yang semakin terkoneksi, ia menekankan bahwa penyakit menular tidak mengenal batas negara dan dapat bergerak cepat mengikuti mobilitas manusia.
Meski Indonesia tidak berada dalam kondisi seperti gelombang besar COVID-19 pada 2021, kewaspadaan tetap dinilai penting. Ia menyoroti bahwa tantangan saat ini bukan hanya angka kasus, tetapi juga rasa lengah masyarakat yang menganggap pandemi telah sepenuhnya berakhir.
COVID-19, menurutnya, telah bergeser menjadi ancaman global, namun tetap berpotensi berbahaya bagi kelompok rentan seperti lansia, penderita diabetes, penyakit jantung, gangguan pernapasan, kanker, dan masyarakat dengan imunitas rendah.
Dia mendorong pemerintah untuk mengambil langkah antisipatif tanpa menunggu lonjakan besar terjadi.
Beberapa langkah yang disoroti antara lain penguatan surveillance dan genomic sequencing, peningkatan pengawasan pintu masuk internasional, kesiapan fasilitas rumah sakit dan oksigen, penguatan sistem informasi kesehatan nasional, serta komunikasi publik yang jujur, tenang, dan berbasis sains.
“Kita tidak membutuhkan kepanikan. Tetapi, kita juga tidak boleh memelihara rasa aman yang palsu,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk kembali memperkuat disiplin kesehatan dasar, seperti penggunaan masker di ruang tertutup padat, menjaga ventilasi, mengurangi mobilitas saat sakit, serta melindungi kelompok rentan di lingkungan keluarga.
Ia menegaskan bahwa kesehatan publik bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan gerakan kolektif seluruh elemen bangsa.
“Pandemi telah meninggalkan pelajaran mahal bagi Indonesia bahwa kelalaian kecil dapat berubah menjadi tragedi besar,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak tenaga kesehatan, media, akademisi, organisasi masyarakat, komunitas, dan generasi muda untuk kembali membangun budaya kewaspadaan kesehatan nasional. (WH/AS)
0 Komentar