Home / Berita / Opini
Opini

Ketika Piala Dunia Kehilangan Rasa Laparnya

📅 17 Jul 2026 💬 0 Komentar
Bagikan artikel:

Oleh: N.D. Santoso

Tim Media Center DPP NasDem

ADA satu keyakinan yang hampir tidak pernah diperdebatkan di zaman modern. Bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik jika dibuat lebih besar. Gedung harus lebih tinggi. Mal harus lebih luas. Film harus lebih panjang.

Dan Piala Dunia, tampaknya, juga harus memiliki lebih banyak peserta. Dari 32 menjadi 48. Kini muncul lagi wacana 64.

Ironisnya, final Piala Dunia 2026 bahkan belum dimainkan. Tirai turnamen ini belum benar-benar ditutup. Namun, pembicaraan untuk memperbesar Piala Dunia 2030 sudah lebih dulu melangkah. Seolah-olah, sebelum pertunjukan selesai dipentaskan, panggung berikutnya telah lebih dahulu dijual kepada penonton.

Mungkin inilah tanda zaman. Kita semakin piawai merancang pertunjukan berikutnya, tetapi semakin sulit menikmati pertunjukan yang sedang berlangsung.

Sulit untuk menolak gagasan itu. Lebih banyak negara berarti lebih banyak mimpi. Lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak cerita. Lebih banyak bendera berkibar. Lebih banyak lagu kebangsaan dikumandangkan.

Semuanya terdengar indah. Dan mungkin memang demikian. Namun, hampir semua gagasan besar mempunyai satu kelemahan, sering berubah ketika bertemu dengan pasar.

Pasar hanya mengenal satu bahasa. Jika sesuatu dicintai miliaran orang, perbesar. Jika masih menghasilkan keuntungan, perpanjang. Jika penonton masih datang, tambahkan pertunjukan.

Begitulah cara industri bekerja. Dan barangkali, tanpa kita sadari, Piala Dunia perlahan mulai berbicara dengan bahasa yang sama.

Memori saya pun teringat film Gladiator. Yang membuat Colosseum terus hidup bukanlah para gladiator. Melainkan penonton yang selalu meminta satu pertarungan lagi. Satu duel lagi. Satu pertunjukan lagi.

Tak ada yang menghitung berapa tulang yang patah. Tak ada yang bertanya berapa tubuh yang kelelahan. Yang dihitung hanyalah berapa banyak pertunjukan yang masih bisa dijual.

Mungkin perbedaannya hanya satu. Gladiator bertarung dengan pedang, sedangkan pesepak bola bertarung dengan kalender.

Di ruang pemulihan, kompres es ditempelkan di paha yang mulai membengkak. Seorang fisioterapis menghitung hari, bukan untuk liburan, tetapi untuk memastikan seorang pemain cukup pulih sebelum kembali ke klubnya. Beberapa hari setelah final, musim baru telah menunggu. Tubuh mereka belum tentu siap, tetapi kalender tidak pernah belajar bersabar.

Musim belum selesai. Liga baru dimulai. Kompetisi antarklub menunggu. Tim nasional memanggil. Turnamen bertambah. Piala Dunia diperbesar. Kalender terus dipenuhi.

Yang tidak pernah ikut bertambah hanyalah tubuh manusia. Hamstring tidak pernah berevolusi mengikuti rapat bisnis. Lutut tidak pernah meminta jadwal yang lebih padat. Otot tidak pernah membaca laporan pertumbuhan pendapatan. Namun setiap musim, tubuh manusialah yang diminta bernegosiasi dengan ambisi yang tidak pernah merasa cukup.

Ironisnya, kita lebih sering menghitung jumlah pertandingan daripada jumlah pemain yang pulang dengan cedera. Kita lebih hafal nilai hak siar daripada lamanya masa pemulihan seorang atlet. Kita lebih sibuk membicarakan berapa banyak negara yang akan lolos daripada bertanya berapa banyak tubuh yang harus membayar harga dari semua itu.

Mungkin memang benar. Lebih banyak negara akan merasakan atmosfer Piala Dunia. Lebih banyak suporter akan ikut berpesta. Lebih banyak kisah akan lahir. Tetapi ada satu hal yang diam-diam ikut berubah. Yaitu, makna sebuah tiket menuju Piala Dunia.

Dulu, lolos ke Piala Dunia adalah pencapaian yang nyaris mustahil. Sebuah bangsa dapat menunggu puluhan tahun hanya untuk mendengar lagu kebangsaannya berkumandang di panggung terbesar sepak bola. Kesulitannya melahirkan kehormatan. Kelangkaannya melahirkan kebanggaan.

Hari ini, jalan menuju panggung itu diperlebar. Mungkin itu memang keputusan yang tepat. Tetapi setiap panggung mempunyai paradoksnya sendiri. Semakin mudah dicapai, semakin sulit mempertahankan kemegahannya. Karena yang membuat Piala Dunia begitu agung bukanlah banyaknya negara yang hadir. Melainkan sedikitnya bangsa yang berhasil tiba.

Barangkali, suatu hari nanti hampir semua negara akan bisa bermain di Piala Dunia. Dan ketika hari itu tiba, mungkin kita akan mengenangnya sebagai kemenangan besar bagi inklusivitas. Atau mungkin kita akan mengenangnya sebagai hari ketika Piala Dunia perlahan kehilangan rasa laparnya.

Seperti Colosseum yang selalu meminta satu pertunjukan lagi, kita mungkin tidak akan menyadari perubahan itu ketika sedang terjadi. Kita baru menyadarinya ketika yang tersisa hanyalah panggung yang semakin besar, pertunjukan yang semakin panjang, tetapi rasa takjub yang perlahan mengecil.

Karena ada satu ironi yang selalu berulang dalam sejarah. Bahwa manusia jarang kehilangan sesuatu karena direbut. Manusia lebih sering kehilangan sesuatu karena terus berusaha memperbesarnya.

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *