Home / Berita / Opini
Opini

(R)evolusi Kitab-Kitab Sepak Bola

📅 14 Jul 2026 💬 0 Komentar
Bagikan artikel:

Oleh: N.D. Santoso

Tim Media Center DPP NasDem

SETIAP peradaban besar selalu melahirkan kitabnya sendiri. Sepak bola pun demikian. Ada masa ketika setiap bangsa datang ke Piala Dunia dengan keyakinan yang nyaris tak tergoyahkan bahwa mereka telah menemukan jalan paling benar menuju kemenangan.

Argentina mempercayai imajinasi. Belanda mempercayai ruang. Spanyol mempercayai kesabaran. Brasil mempercayai keindahan. Jerman mempercayai tekanan. Italia mempercayai ketertiban. Inggris mempercayai intensitas. Dan, Prancis mempercayai asimilasi. Mereka berbeda dan sering kali saling membantah. Namun semuanya direkatkan oleh satu keyakinan yang sama bahwa kebenaran hanya memiliki satu wajah.

Piala Dunia 2026 membuat keyakinan itu mulai retak. Prancis, Spanyol, Argentina dan Inggris, empat semifinalis itu tidak lagi mewakili satu mazhab yang utuh. Mereka justru memperlihatkan bahwa sepak bola modern tidak berkembang dengan memusnahkan gagasan lama, melainkan dengan membacanya kembali.

Sebagaimana setiap gagasan besar melahirkan penafsiran baru, kitab-kitab sepak bola pun melahirkan mazhab-mazhab yang terus saling menyanggah sekaligus saling mewarisi. Selama ini kita terlalu sering menyebut Catenaccio, Total Football, Tiki-taka, Gegenpress, Jogo Bonito, atau Futbol Criollo sebagai filosofi bermain. Barangkali, istilah itu terlalu kecil. Sebab yang sebenarnya mereka wariskan bukan hanya cara bermain, melainkan cara memandang permainan. Mereka adalah kitab-kitab sepak bola.

Jika ada satu kitab yang harus dibuka lebih dahulu, barangkali kitab itu berasal dari Argentina. Jauh sebelum dunia mengenal Diego Maradona dan Lionel Messi, Argentina telah mengenal Futbol Criollo. Tradisi itu lahir dari lapangan-lapangan sederhana, dari masyarakat yang dibentuk oleh gelombang imigrasi, dari keyakinan bahwa kreativitas dan intuisi mampu membuka jalan ketika keteraturan tak lagi cukup. Karena itu, Maradona bukan sekadar pemain besar. Messi pun bukan sebuah kebetulan. Mereka adalah dua bab berbeda dari kitab yang sama.

Belanda kemudian menawarkan cara berpikir yang lain. Melalui Rinus Michels dan Johan Cruyff, lahirlah Total Football. Dunia mengenangnya sebagai permainan ketika semua pemain dapat bertukar posisi. Padahal gagasan yang lebih besar adalah bahwa ruang lebih penting daripada posisi, dan bahwa setiap pemain harus memahami keseluruhan permainan.

Menariknya, kitab Belanda itu justru menemukan rumah terbesarnya di Spanyol. Cruyff datang ke Barcelona. La Masia menyerap gagasannya. Pep Guardiola mengembangkannya menjadi Tiki-taka. Artinya, Tiki-taka bukanlah penolakan terhadap Total Football. Melainkan bab berikutnya dari kitab yang sama.

Brasil menulis kitab yang berbeda. Jogo Bonito mengajarkan bahwa kemenangan tidak pernah sepenuhnya lengkap bila kehilangan keindahan. Di Brasil, sepak bola bukan hanya kompetisi melainkan ekspresi budaya, kegembiraan, dan seni. Dunia mungkin lupa skor dari banyak pertandingan Brasil. Tetapi dunia tidak pernah lupa cara mereka memainkan permainan.

Jerman kemudian mengubah cara dunia memahami kehilangan bola. Melalui Gegenpress, mereka mengajarkan bahwa kehilangan bukanlah akhir dari serangan, melainkan awal kesempatan untuk merebut kembali kendali. Tekanan menjadi bahasa baru. Kecepatan berpikir menjadi sama pentingnya dengan kecepatan berlari.

Lalu ada juga kitab dari Italia. Menariknya, Italia bahkan tidak hadir di Piala Dunia 2026. Namun justru ketika absen, warisannya terasa semakin jelas. Catenaccio terlalu sering disederhanakan sebagai sepak bola bertahan. Padahal inti ajarannya adalah disiplin, organisasi, kesabaran, dan penghormatan terhadap detail.

Hari ini hampir tidak ada tim yang memainkan Catenaccio secara murni. Namun hampir semua tim modern masih meminjam sebagian halamannya, menjaga bentuk, menutup ruang dan bertahan sebagai satu kesatuan. Kitab itu mungkin tak lagi dibaca dari halaman pertama hingga terakhir. Tetapi ajarannya tetap hidup.

Di antara bangsa-bangsa besar sepak bola, Inggris dan Prancis menempati posisi yang unik. Keduanya tidak pernah melahirkan satu “kitab” yang diakui dunia sebagai ortodoksi permainan. Ironisnya, Inggris justru merupakan tanah kelahiran sepak bola modern. Mungkin karena merasa sebagai pencipta permainan, Inggris berkembang melalui evolusi berbagai gaya, bukan melalui satu doktrin yang kemudian diberi nama dan diikuti dunia.

Sementara Prancis mengambil jalan yang berbeda. Mereka tidak membangun identitas di atas kesetiaan kepada satu mazhab, melainkan di atas kemampuan menyerap, menggabungkan, dan menyesuaikan berbagai gagasan sesuai karakter generasi pemain yang mereka miliki.

Jika bangsa-bangsa lain menulis kitabnya masing-masing, maka Inggris menghadirkan permainan itu kepada dunia. Sementara Prancis mengajarkan bahwa tidak ada satu kitab pun yang terlalu suci untuk tidak dibaca ulang.

Di situlah saya menyadari selama ini kita mengira sejarah sepak bola adalah sejarah tentang lahirnya kebenaran-kebenaran baru. Ternyata bukan. Sejarah sepak bola adalah sejarah tentang bangsa-bangsa yang berani mengoreksi keyakinannya sendiri. Tidak ada kitab yang benar-benar kalah. Karena setiap kitab yang menang, pada akhirnya akan dipelajari oleh lawannya.

Total Football tidak berakhir di Amsterdam tetapi menemukan kehidupan barunya di Barcelona melalui Tiki-taka. Catenaccio memaksa lahirnya cara-cara baru menyerang. Gegenpress menjadi jawaban atas permainan yang terlalu nyaman menguasai bola. Lalu Gegenpress sendiri dipelajari oleh mereka yang dahulu menolaknya.

Sejarah sepak bola bukanlah sejarah tentang pergantian kebenaran. Melainkan sejarah tentang percakapan antargagasan. Karena itu, empat semifinalis Piala Dunia 2026 lebih tepat dibaca sebagai simbol daripada kesimpulan.

Argentina masih membawa jiwa Futbol Criollo, tetapi jauh lebih terorganisasi. Spanyol masih menyimpan warisan Cruyff, tetapi tidak lagi fanatik pada penguasaan bola. Inggris, negeri yang melahirkan sepak bola modern, justru menjadi contoh bagaimana sebuah bangsa terus belajar dari ide-ide yang tumbuh di luar dirinya. Dan Prancis adalah metafora paling menarik dari sepak bola modern.

Apakah ini berarti kitab-kitab sepak bola telah berakhir? Belum. Karena satu turnamen terlalu kecil untuk mengakhiri sejarah yang dibangun lebih dari satu abad. Namun turnamen ini memberikan sebuah isyarat yang sulit diabaikan.

Yang sedang berakhir bukanlah Futbol Criollo. Bukan Total Football. Bukan Tiki-taka. Bukan Jogo Bonito. Bukan Gegenpress. Dan bukan pula Catenaccio. Yang perlahan berakhir adalah fanatisme bahwa satu kitab saja sudah cukup menjelaskan seluruh permainan.

Selama ini kita mengira Piala Dunia adalah pertarungan antarnegara. Mungkin kita keliru. Yang sesungguhnya bertanding adalah gagasan. Dan seperti semua gagasan besar dalam sejarah manusia, tidak ada satu pun yang benar-benar mati. Sebagiannya diwariskan, sebagiannya dikoreksi, sebagiannya disempurnakan lalu melahirkan bab berikutnya.

Sejarah tidak pernah berhenti pada mereka yang merasa telah menemukan kebenaran terakhir. Melainkan selalu bergerak menuju mereka yang bersedia mengoreksi keyakinannya sendiri. Karena, juara dunia bukanlah bangsa yang paling setia kepada satu kitab. Melainkan bangsa yang cukup rendah hati untuk terus belajar dari semua kitab.

Barangkali, itulah yang sesungguhnya kita saksikan hari ini. Bukan akhir dari kitab-kitab sepak bola. Melainkan akhir dari keyakinan bahwa satu kitab saja mampu menjelaskan seluruh permainan.

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *