Home / Berita / Berita Fraksi
Berita Fraksi

Pendidikan Harus Lahirkan Generasi Cerdas, Berkarakter dan Mandiri

đź“… 26 Okt 2026 đź’¬ 0 Komentar
Bagikan artikel:

KUPANG (26 Oktober): Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan, memiliki karakter kuat, mampu berpikir kritis, dan mandiri secara ekonomi. Pandangan tersebut disampaikan anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) II, Viktor Bungtilu Laiskodat, dalam sesi berbagi (sharing session) bersama pengajar dan staf Sekolah Komunitas Kristen Tunas Bangsa di Oesapa Selatan, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Senin (26/10/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Viktor mengajak para pendidik memperluas cara pandang dalam mendidik generasi muda, terutama di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut dia, pendidikan tidak boleh berhenti pada penyampaian materi pelajaran, tetapi harus membekali peserta didik dengan kemampuan memahami perubahan, memecahkan persoalan, dan menciptakan peluang baru.

“Saya juga hadir di sini untuk belajar. Kita perlu terus bertukar pikiran dan memberikan informasi agar kita bisa maju bersama,” kata Viktor.

Ia menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang telah mengubah berbagai aspek kehidupan. Menurut Viktor, tantangan utama manusia bukanlah semata-mata kehadiran teknologi, melainkan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan kapasitas diri.

“Jangan pernah hidup dalam ketakutan luar biasa terhadap AI. Persoalannya adalah apakah manusia mau terus belajar dan berkembang. Kita tidak boleh berhenti berpikir ketika dunia bergerak semakin maju,” ujarnya.

Viktor menilai, pendidikan berkualitas perlu mengintegrasikan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembentukan karakter. Ia mendorong para guru memperluas wawasan lintas disiplin, termasuk mempelajari perkembangan ilmu saraf (neuroscience) untuk memahami proses belajar, pembentukan kebiasaan, dan perkembangan perilaku manusia.

Menurut dia, karakter tidak cukup diajarkan melalui nasihat. Kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, dan keberanian menyampaikan kebenaran perlu dilatih secara konsisten sejak usia dini.

“Guru perlu memahami bagaimana anak belajar dan bagaimana karakter dibentuk. Pendidikan tidak cukup hanya membuat anak mengetahui sesuatu, tetapi harus melatih mereka untuk berpikir, bertindak disiplin, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ia mencontohkan kebiasaan menjaga kebersihan sebagai bagian dari pendidikan karakter. Anak-anak perlu dibiasakan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan menghormati orang lain melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui instruksi.

Viktor juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis. Peserta didik harus dilatih untuk menguji informasi, mempertanyakan asumsi, dan menyampaikan pendapat berdasarkan pengetahuan serta alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut dia, pendidikan formal memang tidak menjamin setiap orang pasti berhasil. Namun, pendidikan memperbesar peluang seseorang untuk berkembang karena memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, dan pola pikir yang lebih terstruktur.

Dalam pertemuan itu, Viktor turut menyoroti potensi ekonomi NTT yang dinilainya belum dimanfaatkan secara optimal. Ia menyebut sektor peternakan, perikanan, garam, dan kelor sebagai sejumlah bidang yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“NTT tidak miskin. Yang perlu kita perbaiki adalah pengetahuan, cara berpikir, dan kemampuan kita mengelola kekayaan yang ada. Potensi yang besar tidak akan menghasilkan kesejahteraan apabila tidak dikerjakan dengan ilmu pengetahuan dan perencanaan yang baik,” ujarnya.

Ia mencontohkan sektor peternakan yang membutuhkan sistem produksi terpadu, mulai dari pemilihan bibit, ketersediaan pakan, pengelolaan biaya, hingga pemasaran. Tanpa perencanaan yang baik, potensi sumber daya lokal akan sulit berkembang menjadi usaha produktif yang berkelanjutan.

Hal serupa berlaku bagi sektor perikanan. Menurut Viktor, hasil tangkapan masyarakat perlu didukung teknologi pengolahan, standar kebersihan, dan sistem distribusi yang memadai agar memiliki nilai tambah serta mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Ia mendorong lembaga pendidikan turut berperan dalam membangun pola pikir kewirausahaan. Peserta didik perlu diperkenalkan pada proses produksi, pengelolaan usaha, pemanfaatan teknologi, dan cara membaca peluang pasar sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Viktor juga mengajak Sekolah Komunitas Kristen Tunas Bangsa mengembangkan kegiatan produktif yang dapat menjadi bagian dari pembelajaran kewirausahaan. Menurut dia, lembaga pendidikan memiliki peluang untuk membangun kemitraan dengan dunia usaha agar pengetahuan dan keterampilan peserta didik semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Saya ingin membangun kemitraan. Kita perlu duduk bersama, merumuskan usaha yang bisa dijalankan, menghitung kebutuhannya, menyiapkan sistemnya, dan memastikan usaha itu dapat berkembang,” kata Viktor.

Ia mengingatkan bahwa membangun usaha membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan pengelolaan yang terencana. Penyediaan peralatan harus disertai kesiapan bahan baku, tenaga pengelola, pembiayaan, serta strategi pemasaran.

Bagi Viktor, pengembangan kewirausahaan di lingkungan pendidikan juga dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi masyarakat. Semakin banyak orang yang mampu membangun usaha produktif, semakin besar pula peluang terciptanya lapangan kerja dan dukungan bagi kelompok masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan ekonomi.

“Tujuan kita adalah membangun lebih banyak orang yang mandiri dan sejahtera. Ketika masyarakat memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik, mereka juga mempunyai kesempatan lebih besar untuk membantu orang lain,” ujarnya.

Ia berharap Sekolah Komunitas Kristen Tunas Bangsa dapat terus mengembangkan lingkungan belajar yang memadukan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan keterampilan praktis. Dengan demikian, sekolah dapat mengambil bagian dalam menyiapkan generasi muda NTT yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman sekaligus mengembangkan potensi daerahnya.

Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap agenda tersebut, dalam kegiatan sharing session itu Viktor memberikan bantuan 13 unit komputer untuk mendukung kegiatan belajar mengajar serta 5 mesin pembuat es krim yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan kegiatan produktif dan kewirausahaan di lingkungan Sekolah Komunitas Kristen Tunas Bangsa. (bronto/*)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *