Home / Berita / Berita
Berita

Masa Depan Amfoang Ditentukan Pendidikan dan Pengelolaan Potensi Daerah

đź“… 25 Okt 2026 đź’¬ 0 Komentar
Bagikan artikel:

KUPANG (25 Oktober): Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) II, Viktor Bungtilu Laiskodat, mendorong penguatan pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan pengelolaan potensi ekonomi lokal sebagai fondasi pembangunan Kabupaten Kupang, khususnya kawasan Amfoang.

Pesan tersebut disampaikan Viktor dalam Pesta Rakyat Lelogama yang berlangsung di Lelogama, ibu kota Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, NTT, Sabtu (4/10/2026). Acara itu dihadiri Bupati Kupang Yosef Lede, Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Kupang Sofia Malelak Dehaan, serta ratusan warga Amfoang Selatan.

Dalam suasana hangat bersama masyarakat, Viktor berdiskusi dan bertukar pandangan dengan warga mengenai masa depan Amfoang, mulai dari pendidikan anak-anak, pengembangan potensi alam, hingga pembukaan lapangan kerja bagi generasi muda. Ia menilai, Kabupaten Kupang memiliki kekayaan alam yang besar, mulai dari sektor kelautan, perikanan, rumput laut, garam, hingga peternakan. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi masyarakat karena keterbatasan pengetahuan, keterampilan, teknologi, dan tenaga kerja yang mampu mengelolanya secara produktif.

“Ini salah satu kabupaten terkaya di Nusa Tenggara Timur. Kekayaannya belum kita kerjakan secara maksimal. Kita akan kerjakan pelan-pelan, satu per satu,” kata Viktor.

Pengalaman berkeliling ke berbagai desa di NTT ketika menjabat gubernur, menurut Viktor, memberinya pemahaman langsung mengenai kondisi geografis, sumber daya, dan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangannya dalam mendorong pembangunan yang disesuaikan dengan karakteristik dan keunggulan setiap daerah.

Ia menekankan, kekayaan alam tidak dengan sendirinya menghasilkan kesejahteraan. Dibutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan teknis untuk mengolah sumber daya tersebut menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

“Kalau kita mau membangun peternakan yang baik, harus ada orang yang mengerti peternakan. Kalau mau mengembangkan garam, harus ada orang yang memahami teknologi pengolahan garam. Kalau mau mengembangkan kelautan, anak-anak kita harus belajar tentang kelautan,” ujarnya.

Viktor menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan Amfoang. Ia mendorong agar pendidikan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan umum, tetapi juga diarahkan pada keterampilan praktis yang sesuai dengan potensi ekonomi setempat.

Menurut dia, masyarakat perlu mendapatkan akses terhadap pendidikan pertanian, peternakan, kelautan, pengolahan garam, serta teknologi pengolahan hasil laut dan sumber daya lokal lainnya.

Ia menilai, keterbatasan tenaga terampil menjadi salah satu tantangan yang perlu diselesaikan secara serius. Pembangunan infrastruktur dan penyediaan anggaran harus berjalan beriringan dengan investasi pada manusia yang akan mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan fasilitas tersebut.

Oleh krena itu, Viktor mengajak pemerintah daerah, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan pemuka agama untuk menjadikan pendidikan sebagai agenda bersama. Ia juga mendorong pengembangan sekolah dan pelatihan vokasi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.

“Pendidikan itu penting karena yang harus kita bangun adalah manusianya. Kita perlu menyiapkan anak-anak untuk belajar pertanian, peternakan, kelautan, pengolahan garam, dan berbagai keterampilan yang dibutuhkan daerah,” katanya.

Ia turut menekankan pentingnya peran lembaga keagamaan dalam mendukung pendidikan. Dalam pandangannya, nilai-nilai keagamaan dan pendidikan dapat saling memperkuat dalam membentuk manusia yang berkarakter, berpengetahuan, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Di sektor ekonomi, Viktor menyoroti peluang pengembangan industri garam, perikanan, rumput laut, dan pengolahan lontar. Menurut dia, sumber daya tersebut dapat menjadi penggerak ekonomi lokal apabila dikelola melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan peningkatan kualitas produksi.

Ia menyinggung pengembangan teknologi pembuatan garam yang dikerjakan Daniel Cherlin, sosok yang ia juluki ‘Profesor’ karena kemampuan dan inovasinya dalam merancang mesin pengolahan garam.

Viktor menilai, kemampuan teknis dan inovasi dapat tumbuh melalui pengalaman serta proses belajar, sehingga masyarakat perlu diberikan ruang untuk mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

Potensi lontar juga menjadi perhatian. Tanaman yang banyak dijumpai di wilayah NTT tersebut, menurut Viktor, dapat dikembangkan menjadi industri gula lontar apabila didukung teknologi pengolahan, standardisasi mutu, dan sumber daya manusia yang memadai.

“Lontar kita banyak. Pertanyaannya, kapan kita mulai mengolahnya menjadi gula lontar dengan teknologi yang baik? Kita harus berpikir bagaimana kekayaan yang ada di sekitar kita bisa menghasilkan produk bernilai tambah,” ujarnya.

Ia juga mendorong pengembangan rumput laut dan perikanan melalui pendidikan serta pelatihan khusus. Dengan demikian, masyarakat tidak berhenti pada kegiatan produksi bahan mentah, tetapi memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual hasil usaha mereka.

Bagi Viktor, arah pembangunan ekonomi Amfoang perlu bertumpu pada keunggulan lokal. Pendidikan, inovasi, dan penguasaan teknologi harus menjadi bagian dari strategi untuk membuka lapangan kerja sekaligus memperkuat pendapatan masyarakat.

Selain pendidikan dan pengembangan ekonomi, Viktor menyoroti kebutuhan infrastruktur dasar, terutama ketersediaan air, jalan, serta sarana pendukung pertanian dan peternakan.

Ia mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Kupang terhadap penyediaan sumur bor, tetapi mengingatkan bahwa pembangunan sumber air perlu disertai perencanaan pemanfaatan yang jelas. Menurut dia, sumber air yang tersedia harus dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat, pertanian, dan peternakan.

“Kalau sumur sudah dibangun, kita harus memikirkan pemanfaatannya. Di sekitar sumber air perlu ada perencanaan yang baik. Kalau membutuhkan pipa, kita siapkan sesuai kebutuhan agar air itu benar-benar memberikan manfaat,” katanya.

Viktor juga menyinggung perlunya infrastruktur yang disesuaikan dengan kondisi geografis Pulau Timor. Ia mengemukakan gagasan pembangunan struktur penahan aliran air yang memungkinkan air hujan dimanfaatkan untuk mendukung pertanian dan peternakan sekaligus menjaga aksesibilitas antarkawasan.

Menurut dia, perencanaan semacam itu membutuhkan kajian teknis agar pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi pada bentuk fisik, tetapi juga pada manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Ia menyatakan dukungannya terhadap upaya pembangunan Kabupaten Kupang secara bertahap, seraya menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.

Dalam situasi ketika anggaran pembangunan harus disesuaikan dengan prioritas, Viktor menilai kebutuhan masyarakat perlu ditangani berdasarkan urgensi, kesiapan, dan manfaat yang dapat dihasilkan.

Pada sektor pertanian, Viktor mengemukakan rencana dukungan berupa penyediaan traktor berkapasitas besar untuk membantu pengolahan lahan masyarakat. Bantuan itu direncanakan diarahkan pada lahan yang membutuhkan pengolahan, dengan pelaksanaan yang dikoordinasikan bersama pihak terkait.

Ia menjelaskan bahwa pola tersebut dimaksudkan agar penggunaan alat pertanian dapat disesuaikan dengan kebutuhan lahan dan didukung tenaga yang mampu mengoperasikannya. Dengan demikian, bantuan tidak hanya berupa penyerahan alat, tetapi juga layanan pengolahan lahan yang lebih terarah. Ia juga menghubungkan dukungan terhadap pengolahan lahan dengan pentingnya pendidikan anak. Menurut dia, peningkatan kesejahteraan keluarga perlu disertai komitmen agar generasi berikutnya memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Viktor menutup perbincangannya dengan mengajak masyarakat, pemerintah daerah, tokoh agama, dan generasi muda membangun kesatuan langkah untuk mengembangkan potensi Amfoang.

Ia menilai, tantangan pembangunan tidak berhenti pada ketersediaan anggaran. Kemampuan manusia untuk merencanakan, melaksanakan, dan menjaga hasil pembangunan merupakan unsur penting yang menentukan keberhasilan program.

Karena itu, ia mendorong agar setiap rencana pembangunan diikuti dengan persiapan tenaga terampil, pendidikan yang relevan, dan mekanisme pengelolaan yang jelas.

“Yang harus kita siapkan adalah manusianya. Uang dan fasilitas perlu, tetapi kita juga membutuhkan orang-orang yang mengerti pekerjaan itu, mampu menjalankannya, dan bisa menjaga hasilnya,” kata Viktor.

Pesan tersebut menempatkan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian penting dari agenda pembangunan Amfoang. Potensi alam yang melimpah, infrastruktur yang memadai, serta keterlibatan masyarakat diharapkan dapat saling mendukung untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (bronto/*)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *