Tindak Kekerasan Jadi Problem Utama Profesi Jurnalis

PALU (5 Mei): Ancaman dan praktek kekerasan dinilai menjadi problem utama yang dihadapi insan pers/jurnalis.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Atha Mahmud, di Palu, Sulteng, Selasa (4/5), berkaitan momentum Hari Kebebasan Pers.

"Problem utama para jurnalis di dunia adalah perlindungan dari tindak kekerasan," ujar Atha.

Atha mengatakan, ancaman, intimidasi, dan kekerasan yang dihadapi jurnalis dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, datang dari mana saja. 

"Baik dilakukan oknum pemerintah maupun pihak lain yang sedang berhadapan dengan pemerintah," katanya. 

Lebih lanjut, Atha mengakui bahwa dari berbagai informasi yang diterima dalam menjalankan profesinya, sering kali para jurnalis mendapatkan intimidasi, pelecehan.

"Bahkan, para jurnalis dalam menjalankan tugas dan fungsinya, tidak diberi akses informasi oleh lembaga-lembaga dan pihak-pihak tertentu yang menggunakan anggaran negara dan daerah. Padahal informasi seharusnya menjadi hak publik," ujarnya.

Atha menambahkan yang paling memprihatinkan adalah ancaman kriminalisasi dan pembunuhan yang masih terjadi di pelosok dunia yang sedang bergolak. 

"Maka, saatnya PBB sebagai organisasi seluruh bangsa di dunia mempertegas resolusi tentang perlindungan terhadap para jurnalis yang sedang bertugas," jelasnya.

Atha menambahkan, jurnalis juga harus dilindungi dari para pemodal yang menguasai industri pers, dan menekan para jurnalis untuk tidak bersikap kritis terhadap situasi sosial kemasyarakatan. 

"Para  jurnalis juga harus didorong untuk mengobarkan semangat nasionalisme dan patriotisme agar mendorong bangsa-bangsa di dunia untuk bangkit di tengah keterpurukan ekonomi dan sosial akibat pendemi Covid-19," pungkasnya.(RO/*)

Add Comment