Pemberitaan Tempo Berlebihan dan Merendahkan Suara Rakyat

JAKARTA (14 April): Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Asep Wahyuwijaya mengungkapkan keyakinannya bahwa Surya Paloh sebagai Ketua Umum Partai NasDem tidak mungkin melakukan tindakan gegabah terhadap Partai NasDem sebagaimana diberitakan Majalah Tempo.

“Secara faktual, perjalanan historis Pak Surya beserta para pendiri lainnya mendirikan dan membangun Partai NasDem ini bukan semata-mata menjadi wadah tempat berkumpulnya massa, tetapi lebih jauh dari itu, NasDem didirikan Pak Surya karena adanya ide dan gagasan besar perubahan untuk kemajuan bangsa yang akan diwariskan kepada republik ini,” ungkap Asep dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).

Jadi, tambah Asep, Partai NasDem dilahirkan dan dibangun dengan nilai dan cita-cita besar. Hari ini, pemilik yang notebene pemilihnya pun sudah belasan juta, kader aktifnya sudah jutaan, pengurusnya sudah ratusan ribu, bahkan anggota parlemennya pun sudah ribuan. NasDem, sekarang sudah menjadi domain atau milik publik.

“Setiap kali pemilihan legislatif, kursinya terus bertambah. Pak Surya selaku inisiator utama, partai ini didirikan pasti merasa bangga atas apa-apa yang dilakukannya dahulu. Kepuasan yang tentunya tidak bisa dinilai secara materiil,” ujar Asep.

Anggota Komisi VI DPR RI itu juga mengatakan, Surya Paloh adalah sosok politisi yang sudah selesai dengan urusan dirinya dan keluarganya. Beliau membangun Gedung DPP Partai NasDem yang dikenal dengan nama NasDem Tower di salah satu kawasan paling elite Ibu Kota, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi kantor parpol termegah se-Indonesia dan bahkan se-Asia Tenggara. Semuanya akan menjadi warisan untuk rakyat Indonesia melalui partai yang didirikannya dengan nilai dan cita-cita besar.

Ketua DPP Partai NasDem itu juga mengatakan, sebagai salah satu pengusaha besar sekaligus politisi ulung, Surya Paloh pun sangat paham bagaimana memperlakukan usahanya dan bagaimana semestinya memperlakukan sebuah partai politik. Kerja-kerja partai politik tentunya tidak bisa disamakan dengan aksi korporasi sebuah entitas usaha. Sangat berbeda!

“Jadi, menurut hemat saya, judul Tempo yang melakukan framing dengan menulis seolah-olah Partai NasDem adalah sebuah PT atau perusahaan tentunya bisa dikategorikan merendahkan suara rakyat yang telah memilih dan menitipkan amanat kepada Partai NasDem,” tandas Asep.

Kalau berbicara ‘penggabungan’ dalam konteks politik, jelas Asep, barangkali lebih elok dan elegan jika Gerindra dengan NasDem melakukan semacam aliansi strategis saja. Bobotnya tentu akan jauh lebih bermakna dengan koalisi yang maknanya bisa jadi cenderung pragmatis. Aliansi strategis itu ikatannya lebih karena komitmen atas nilai dan cita-cita demi kemajuan bangsa tanpa harus terjebak dengan misalkan bagi-bagi jatah kursi di kabinet.

“NasDem dengan sikap moral politiknya sebagaimana ditunjukkan sejak awal kan memang merasa tak layak untuk mendapatkan jatah kursi kabinet karena calon presidennya berbeda dengan Gerindra yang sekarang Ketua Umumnya menjadi Presiden,” tukas Asep.

Tapi, lanjutnya, pada saat yang sama, Surya Paloh sebagai Ketum Partai NasDem berkali-kali pula menyampaikan dan memerintahkan seluruh anggota parlemen dan para kadernya untuk mendukung Presiden Prabowo.

“Pak Surya sedang mengajarkan kepada seluruh rakyat Indonesia ini salah satu moral politik penting, yakni tahu diri. Nah, ke depan komitmen-komitmen strategis dan etis semacam ini, barangkali jauh lebih penting untuk semakin diuji dan di-exercise dalam terjemahan teknisnya saja.” pungkas Asep. (RO/*)

Add Comment