Home / Berita / Opini
Opini

Dari Kuli Panggul ke Baitullah: Receh yang Menembus Langit

πŸ“… 21 Mei 2026 πŸ’¬ 0 Komentar
Bagikan artikel:

SETIAP pagi, Sumarno memanggul beban berat di Pasar Tunjungan, Blora, demi membawa pulang uang Rp30 ribu hingga Rp40 ribu untuk keluarganya. Di tengah hidup yang serba pas-pasan, lelaki 63 tahun itu diam-diam menyimpan mimpi besar berangkat haji ke Tanah Suci.

Bagi sebagian orang, impian berhaji mungkin terasa mustahil ketika kebutuhan sehari-hari saja masih sulit dipenuhi. Sumarno pun pernah berada di titik itu.

Bahkan dengan jujur ia berkata, β€œBuat makan saja susah, kok naik haji.” Tetapi keterbatasan tidak membuatnya menyerah. Ia percaya, mimpi besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.

Setiap hari, Sumarno yang menjadi kuli panggul sejak tahun 1985 itu menyisihkan Rp4 ribu hingga Rp5 ribu dari hasil keringatnya sebagai kuli panggul. Nilainya memang kecil, bahkan mungkin sering dianggap tidak berarti. Namun selama hampir 20 tahun, uang receh itu terus ia kumpulkan dengan penuh kesabaran dan keyakinan.

Tak ada jalan instan dalam perjalanan Sumarno. Bertahun-tahun ia menjalani hidup sederhana sambil memegang teguh niatnya. Di balik peluh yang menetes di pasar, tersimpan doa-doa yang tak pernah putus. Sedikit demi sedikit, tabungan itu akhirnya cukup untuk melunasi biaya ibadah haji.

Kini, di usia 63 tahun, penantian panjang itu terjawab. Awal Mei 2026, Sumarno berangkat ke Tanah Suci bersama ratusan jamaah lain dari Blora yang tergabung dalam dua kloter keberangkatan.

Berbagai persiapan telah ia lakukan, mulai dari manasik hingga melengkapi dokumen perjalanan. Bagi Sumarno, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah. Ini adalah bukti bahwa ketekunan, kesabaran, dan keyakinan mampu mengalahkan keterbatasan.

Ia mengajarkan bahwa mimpi tidak selalu membutuhkan langkah besar, tetapi membutuhkan hati yang tidak mudah menyerah.

Kisah Sumarno menjadi pengingat bahwa harapan bisa tumbuh dari tempat paling sederhana. Dari pasar kecil di Blora, seorang kuli panggul membuktikan bahwa tidak ada impian yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau berjuang sedikit demi sedikit, setiap hari, tanpa henti.

(Medcom/Wahyu Ramdhani)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *