Home / Berita / Opini
Opini

Republik Scroll: Ketika Manusia Indonesia Dijajah Algoritma

📅 01 Jun 2026 💬 0 Komentar
Bagikan artikel:

Oleh: N.D. Santoso

Tim Media Center DPP NasDem

BARANGKALI penjajahan paling berbahaya hari ini bukan lagi tentang tanah yang direbut. Tetapi tentang perhatian manusia yang perlahan direnggut.

Kita tidak dipaksa tunduk dengan senjata. Kita dibuat ketagihan menatap layar.

Bangun tidur membuka notifikasi. Makan sambil scrolling. Sebelum tidur menatap timeline.

Dan tanpa sadar, semakin lama manusia semakin sulit benar-benar hidup tanpa layar di tangannya sendiri.

Kita hidup di zaman ketika banyak orang lebih takut kehilangan sinyal dibanding kehilangan arah hidupnya. Lebih takut sepi notifikasi dibanding sepi makna. Lebih takut tidak terlihat dibanding tidak mengenal dirinya sendiri.

Dulu, para pendiri bangsa sibuk memikirkan bagaimana menjaga Indonesia agar tidak dijajah bangsa lain. Hari ini, mungkin pertanyaannya berubah, bagaimana menjaga manusia Indonesia agar tidak dijajah oleh layar yang selalu digenggamnya sendiri?

Kita sedang hidup di era paling bising dalam sejarah. Semua orang bicara. Semua orang bereaksi. Semua orang merasa paling benar. Tetapi anehnya, semakin banyak suara, semakin sedikit percakapan yang benar-benar manusiawi.

Media sosial awalnya dijanjikan sebagai ruang demokrasi. Nyatanya, malah perlahan berubah menjadi arena gladiator digital. Orang tidak lagi datang untuk memahami. Orang datang untuk menyerang.

Yang paling emosional menang perhatian. Yang paling marah mendapat panggung. Yang paling gaduh dianggap paling penting.

Dan algoritma menyukai itu. Karena kemarahan membuat manusia lebih lama menatap layar. Kita akhirnya hidup di zaman ketika kemarahan dipelihara sebagai industri.

Lihat saja timeline hari ini. Sedikit berbeda pendapat langsung dianggap musuh. Sedikit salah langsung ‘diadili’ ramai-ramai. Sedikit viral langsung dianggap paling benar.

Padahal viral bukan berarti benar. Ramai bukan berarti bernilai. Dan terkenal bukan berarti layak dipercaya.

Tetapi algoritma tidak peduli soal itu. Algoritma tidak dirancang untuk membangun manusia yang bijaksana. Algoritma dirancang untuk membuat manusia terus bereaksi. Semakin emosional manusia, semakin menguntungkan sistem.

Maka jangan heran jika hari ini banyak orang lebih takut kehilangan followers daripada kehilangan karakter. Lebih takut sepi engagement daripada sepi makna hidup. Lebih sibuk membangun citra dibanding membangun dirinya sendiri.

Dan perlahan, kita masuk ke fase paling berbahaya ketika manusia mulai menilai dirinya dari perhatian orang lain.

Hari ini, banyak anak muda tidak benar-benar ingin menjadi bahagia. Mereka hanya ingin terlihat bahagia. Karena di era digital, ‘terlihat’ sering lebih penting daripada ‘menjadi’.

Orang rela memaksakan gaya hidup demi konten. Rela pura-pura kuat demi citra. Rela kehilangan ketenangan demi tetap relevan.

Kita menjadi generasi yang sangat peduli kesehatan mental, tetapi diam-diam hidup di dalam sistem yang setiap hari merusak ketenangan batinnya sendiri.

Mungkin karena itu banyak orang yang hari ini diam-diam lelah. Bukan karena hidupnya terlalu berat. Tetapi karena terlalu lama berpura-pura baik-baik saja di depan layar.

Barangkali itu sebabnya banyak manusia hari ini lebih takut terlihat gagal daripada benar-benar kehilangan dirinya sendiri.

Kita hidup di zaman ketika manusia bisa tersenyum di Instagram, tetapi menangis diam-diam sebelum tidur. Dan tragisnya, semua itu dianggap normal.

Mungkin yang paling menyeramkan dari zaman ini adalah ketika manusia perlahan tidak sadar bahwa dirinya sedang kehilangan dirinya sendiri.

Kita seperti bangsa yang terus menatap cahaya layar, tetapi perlahan kehilangan cahaya di dalam dirinya sendiri. Dan di tengah dunia yang makin gaduh seperti ini, kita pun bertanya, “Kenapa generasi muda mulai jauh dari Pancasila?”

Mungkin karena mereka terlalu sering melihat Pancasila hanya hidup di podium. Bukan di kehidupan nyata.

Mereka mendengar sila tentang kemanusiaan, tetapi setiap hari melihat orang dihina massal di media sosial.

Mereka mendengar sila tentang persatuan, tetapi melihat elite hingga buzzer sibuk mempertajam perpecahan.

Mereka mendengar tentang keadilan sosial, tetapi hidup di dunia yang lebih mendengar orang viral dibanding orang yang benar-benar lapar.

Akhirnya Pancasila terdengar seperti formalitas. Kalimat yang dibaca saat upacara, tetapi tidak terasa di kehidupan sehari-hari.

Padahal, kalau mau jujur, masalah terbesar bangsa ini hari ini bukan sekadar ekonomi. Tetapi krisis karakter digital.

Kita punya teknologi canggih, tetapi sayangnya zonder empati. Kita punya akses tanpa batas atas informasi, tetapi malah makin mudah dimanipulasi. Kita makin terkoneksi, tetapi makin sulit benar-benar hadir sebagai insani.

Dan mungkin inilah ironi terbesar generasi modern, terlalu ramai di luar tetapi kosong di dalam.

Di titik ini, Pancasila sebenarnya bukan sekadar ideologi negara. Melainkan sudah seharusnya menjadi rem moral. Pengingat bahwa manusia tidak boleh kehilangan nurani hanya karena teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan.

Sila pertama seharusnya mengingatkan bahwa manusia tidak boleh menuhankan popularitas.

Sila kedua seharusnya mengingatkan bahwa komentar juga bisa melukai manusia.

Sila ketiga seharusnya mengingatkan bahwa berbeda tidak harus saling membenci.

Sila keempat seharusnya mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari potongan video 15 detik.

Dan sila kelima seharusnya mengingatkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh seberapa viral dirinya.

Tetapi masalahnya, kita terlalu sibuk menghafal Pancasila sampai lupa menghidupkannya. Kita mengajarkan teksnya, tetapi gagal menunjukkan teladannya.

Akibatnya, generasi muda tumbuh dengan dua realitas, Pancasila yang terdengar indah di sekolah dan dunia nyata yang sering terasa bertolak belakang. Dan generasi sekarang sangat sensitif terhadap kemunafikan.

Mereka tidak terlalu peduli slogan. Mereka peduli apakah nilai itu benar-benar hidup atau tidak.

Karena itu tantangan terbesar Indonesia hari ini mungkin bukan lagi soal mempertahankan warisan kemerdekaan. Tetapi mempertahankan kemanusiaan di tengah dunia yang terus mendorong manusia menjadi mesin reaksi.

Sebab, jangan-jangan, ancaman terbesar era algoritma bukan sekadar hoaks, polarisasi, atau kecanduan layar. Tetapi ketika manusia Indonesia perlahan kehilangan kemampuan untuk peduli, untuk mendengar, untuk merasa, dan untuk melihat sesamanya sebagai manusia.

Karena saat itu terjadi, yang runtuh bukan hanya etika digital. Tetapi ruh bangsa itu sendiri.

Mungkin karena itu, semakin modern dunia bergerak, semakin banyak manusia yang diam-diam merasa kosong. Bukan karena mereka tidak punya tempat untuk bicara. Tetapi karena sudah terlalu lama tidak punya ruang untuk benar-benar mendengar dirinya sendiri.

Dan mungkin tanpa sadar, kita sedang hidup di zaman ketika manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk benar-benar merasa cukup sebagai manusia.

Dan mungkin itu sebabnya setiap tanggal 1 Juni seharusnya tidak lagi sekadar diperingati sebagai hari lahir Pancasila.

Karena yang sedang dipertaruhkan hari ini bukan sekadar hafalan lima sila. Yang sedang dipertaruhkan adalah apakah manusia Indonesia masih memiliki hati di tengah dunia yang terus memaksa manusia menjadi mesin algoritma.

Dulu manusia dijajah dengan senjata. Hari ini dijajah dengan candu validasi.

Kolonialisme hari ini tidak datang membawa tank tapi datang membawa batalyon notifikasi.

Kita tidak lagi dijajah untuk bekerja paksa. Kita dijajah untuk terus menatap layar.

Dan ironisnya, banyak dari kita bahkan tidak sadar sedang dijajah. Sebab di zaman ketika semua orang sibuk ingin terlihat, bangsa ini justru sedang kekurangan manusia yang benar-benar punya nurani.

Mungkin karena itu, tantangan terbesar generasi Indonesia hari ini bukan lagi soal seberapa maju teknologinya. Tetapi apakah mereka masih mampu menjadi manusia di tengah dunia yang perlahan membuat manusia kehilangan dirinya sendiri.

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *