JAKARTA (2 Juli): Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai NasDem, Syarif Fasha, menilai peristiwa blackout yang terjadi di Sumatra menjadi alarm penting bagi upaya mewujudkan kemandirian energi di daerah penghasil sumber daya energi.
Menurut Fasha, gangguan listrik yang dipicu putusnya jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di Kabupaten Bungo, Jambi, menunjukkan masih tingginya ketergantungan sistem kelistrikan antardaerah.
“Baru-baru ini terjadi blackout di Sumatera. Interkoneksi. Ternyata penyebabnya satu. Ada kabel putus di Kabupaten Bungo, Sutet. Ini kan sangat ironis sekali. Jambi itu sumber energinya besar. Tetapi masih interkoneksi mengandalkan sumber dari Sumatera Selatan dan Sumbar. Kapan di Jambi ini akan berdaulat yang melimpah batubaranya?” ujar Syarif Fasha dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI dengan Direktur Utama PT PLN di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Fasha menilai daerah penghasil energi semestinya memiliki kemandirian pasokan listrik. Ia meminta pemerintah dan PLN memberikan perhatian yang lebih merata terhadap pembangunan infrastruktur kelistrikan di luar Pulau Jawa.
“Daerah yang memang penghasil sumber energi ini dipikirkan bagaimana ini berdaulat energinya. Jangan Pulau Jawa, Pulau Jawa, Pulau Jawa itu yang diperhatikan. Tapi kami yang sumber energi ini sangat minim untuk berdaulat energinya. Indonesia bukan hanya mempunyai Pulau Jawa. Tetapi ada Sumatera, ada di Kalimantan, ada Papua. Ini yang PLN perlu disikapi hal ini semua,” kata Fasha.
Ia juga menyoroti kondisi serupa di Kalimantan yang kaya akan sumber daya batubara, namun masih menghadapi persoalan pasokan listrik di sejumlah wilayah.
“Kalimantan sangat melimpah batubara. Tapi Kalimantan bergilir kapan hidupnya? Jadi tolong diperhatikan,” pungkasnya. (safa/*)
0 Komentar