RAJA AMPAT (30 Juli): Penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pariwisata di Raja Ampat. Selain menjaga daya saing destinasi, peningkatan kapasitas pelaku wisata juga diyakini mampu memastikan manfaat ekonomi dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan budaya lokal.
Hal itu mengemuka dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Destinasi Pariwisata Berkelanjutan yang diselenggarakan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan Komisi VII DPR RI di Aula Dolphin, Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, Kamis (30/7/2026).
Anggota Komisi VII DPR RI Rico Sia mengatakan pengembangan sektor pariwisata harus dimulai dari peningkatan kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama di destinasi wisata. Menurutnya, keberhasilan pariwisata tidak semata diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengelola potensi daerah secara berkelanjutan.
“Melalui bimtek ini kami ingin membantu meningkatkan kapasitas pelaku wisata di Raja Ampat. Pariwisata harus dijaga karena manfaatnya bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang,” ujar Rico.
Legislator dari Daerah Pemilihan Papua Barat Daya itu menegaskan pembangunan sektor pariwisata harus mampu menghadirkan pertumbuhan ekonomi tanpa merusak lingkungan maupun menghilangkan identitas budaya masyarakat setempat. Karena itu, pelestarian alam harus menjadi tanggung jawab bersama.
Rico juga menyatakan akan memperjuangkan berbagai program pengembangan pariwisata melalui Komisi VII, termasuk mendorong dukungan pemerintah pusat bagi penguatan kapasitas pelaku wisata dan pengembangan destinasi di Raja Ampat.
Sementara itu, perwakilan Asisten Deputi Bidang Perancangan Destinasi Kementerian Pariwisata, Prayoga Dirgantara Putra, mengatakan transformasi menuju pariwisata berkelanjutan merupakan agenda strategis nasional untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata Indonesia di tingkat global.
Menurutnya, setiap pengembangan destinasi harus memperhatikan keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial budaya, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal melalui penguatan komunitas dan desa wisata agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara langsung oleh warga.
Selain itu, Kementerian Pariwisata terus mendorong pergeseran paradigma dari mass tourism menuju quality tourism dan regenerative tourism, yakni konsep pengembangan wisata yang tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga berkontribusi memperbaiki kondisi ekosistem.
Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan karakter Raja Ampat sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia yang bergantung pada kelestarian alam. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan dan didukung SDM yang kompeten, sektor pariwisata diharapkan terus menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus menjaga nilai ekologis kawasan. (*)
0 Komentar