JAKARTA (12 Agustus): Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem DR Lisda Hendrajoni menyebutkan bahwa masalah pokok perempuan Indonesia itu kompleks, namun kalau dirangkum ada lima isu besar yang paling sering muncul di tahun 2026.
“Pertama adalah ekonomi dan ketimpangan akses, seperti kesenjangan upah, saat ini perempuan Indonesia dibayar 20-30 persen lebih rendah untuk posisi yang sama,” ujar Lisda, Senin (10/8/2026).
Selain itu, mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Doktor Ilmu Pendidikan Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang itu juga mengatakan, beban double burden, yakni kerja kantor sekaligus urus rumah tangga. Sekitar 70% pekerjaan domestik masih dipundak perempuan.
Lebih miris lagi, akses modal di mana perempuan Indonesia sangat sulit mendapatkan pinjaman bank, karena minim agunan. Padahal lebih 60% UMKM di Indonesia dikelola perempuan.
Lisda menghimbau pemerintah untuk memperhatikan masalah pemutusan hubungan kerja di berbagai sektor, di antaranya di sektor ritel, garman, F&B yang paling banyak pekerjanya perempuan, terimbas otomasi/AI.
Kedua, Lisda memperhatikan masalah kesehatan dan reproduksi, seperti stunting dan anemia, menurut catatannya satu dari tiga remaja putri terdampak anemia.
“Ini efeknya sampai ke anak nanti,” jelas Lisda.
Kesehatan mental juga penting diperhatikan, tekanan untuk jadi ibu yang sempurna, istri sempurna dan pekerja sempurna bikin ‘burnout tinggi’.
Edukasi menstruasi dan seksual untuk wanita muda agar terhindar dari pernikahan dini dan kekerasan. Saat ini membahas kedua masalah tersebut, masih dianggap tabu.
Ketiga adalah pendidikan dan karir perempuan, Lisda melihat pernikahan dini masih menjadi penyebab anak perempuan tidak menamatkan pendidikan SMP/SMA terutama di pedesaan.
“Saat ini juga masih terjadi STEM Gap di bidang pekerjaan teknik, IT dan data masih didominasi laki-laki, padahal lapangan kerja tahun 2030, banyak di kedua bidang tersebut,” ungkap Lisda.
Masalah glass ceiling saat ini masih terjadi, perempuan masih sulit naik posisi C-level/direktur dan banyak perusahan belum ada kebijakan cuti haid dan cuti melahirkan yang layak.
Keempat, masalah keamanan dan kekerasan seksual, tiap tahun laporannya naik, namun banyak juga yang tidak lapor karena stigma aib keluarga.
Kekerasan digital, menurut Lisda perlu jadi perhatian serius, seperti catcalling digital, doxxing, revenge porn, karena UU ITE belum sepenuhnya melindungi korban.
“Keamanan di ruang publik belum menjamin rasa nyaman wanita, masih banyak terjadi pelecehan di angkot, KRL, dan tempat kerja,” tegas Lisda.
Kelima adalah budaya dan ekspektasi sosial, wanita Indonesia masih jadi standar ganda. Masih melekat di masyarakat yang menyebutkan, perempuan karir boleh tapi jangan lupa masak.
Masalah pernikahan, perempuan mendapat tekanan dari keluarga dan lingkungan, dengan istilah nanti jadi perawan tua masih banyak terjadi di daerah-daerah.
Sekarang ini minim representasi di politik, pengambilan keputusan, tokoh agama. Suara perempuan bisa dikatakan masih sedikit.
Namun disisi lain, legislator NasDem dari Dapil Sumbar I ini melihat anak muda sekarang banyak yang gerak dan menghasilkan komunitas UMKM perempuan naik kelas melalui TikTok Shop.
Selain itu, ada gerakan literisasi keuangan buat ibu-ibu, disahkannya UU TPKS untuk korban kekerasan, dan menjamurnya startup-health-tech fokus ke kesehatan perempuan.
Lisda menghimbau perempuan Indonesia untuk fokus ke-5 masalah tersebut.
“Dari sisi ekonomi, bagaimana wanita Indonesia tidak naik kelas melalui UMKM, kerja remote dan skill AI,” tukasnya.
Dikatakannya, akses dokter di daerah masih minim untuk mengatasi masalah anemia dan kesehatan mental.
Masalah keamanan dipertanyakan Lisda, seperti KDRT, pelecehan online, UU TPKS, sudah jalan apa belum?
Untuk pendidikan dan karir, perempuan Indonesia sebaiknya harus bisa jadi ‘leader’ jangan mentok jadi staf. Berupaya melawan stigma kodrat standar pernikahan dini dan standar kecantikan.
“Kesimpulannya, masalah pokoknya muter di tiga hal yakni uang, badan dan suara. Kalau ke tiga hal itu beres, perempuan Indonesia bisa jauh lebih produktif,” pungkas Lisda. (*)
0 Komentar