NAGEKEO (23 Agustus): Duka belum sepenuhnya beranjak dari tenda-tenda pengungsian di Leta Jago, RT 029, Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di antara warga yang masih berusaha menata kembali kehidupan setelah gempa, anak-anak menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.
Bagi mereka, gempa tidak berhenti ketika tanah kembali tenang. Getaran bangunan, suara benda-benda berjatuhan, suasana ketika harus meninggalkan rumah, hingga kekhawatiran akan gempa susulan dapat tersimpan dalam ingatan dan memengaruhi rasa aman mereka.
Kondisi itu menjadi perhatian anggota Komisi XI DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat, saat mengunjungi warga terdampak gempa di Leta Jago, Sabtu (22/8/2026).
Didampingi Lurah Danga, Yohanes Lado, Julie berdialog dengan warga dan mendengarkan cerita mengenai kondisi anak-anak setelah bencana.Dari percakapan tersebut, kebutuhan akan pendampingan psikologis mengemuka sebagai bagian penting dari proses pemulihan.
“Anak-anak harus dibantu untuk kembali merasa aman. Mereka perlu didampingi agar dapat mengatasi rasa takut dan perlahan kembali beraktivitas seperti biasa,” kata Julie.
Menurut Julie, pemulihan pascabencana memiliki dimensi yang lebih luas daripada membangun kembali bangunan yang rusak. Ada perasaan dan ingatan anak-anak yang juga perlu dipulihkan melalui perhatian, pendampingan, serta lingkungan yang membuat mereka merasa terlindungi.
“Tidak semua luka terlihat. Ada pengalaman yang tersimpan dalam ingatan dan perasaan anak-anak. Karena itu, mereka perlu diberi ruang untuk berbicara, bermain, didengarkan, dan mengekspresikan apa yang mereka rasakan,” ujarnya.
Di tengah tenda dan kehidupan pengungsian yang serba terbatas, anak-anak diajak bermain, menggambar, bercerita, berinteraksi, dan mengikuti aktivitas yang disesuaikan dengan usia mereka. Tawa dan permainan menjadi bagian dari upaya membantu mereka mengurangi kecemasan sekaligus membangun kembali rasa aman.
Pendekatan seperti itu dinilai penting karena setiap anak memiliki cara berbeda dalam merespons pengalaman bencana. Mereka tidak perlu dipaksa segera melupakan apa yang terjadi. Sebaliknya, anak-anak membutuhkan pendampingan agar dapat memahami dan mengekspresikan perasaan secara perlahan.
Yohanes Lado mengatakan, sebagian anak masih menunjukkan kecemasan setelah gempa. Karena itu, pendampingan psikologis perlu dilakukan secara rutin dan melibatkan keluarga, pemerintah, serta tenaga pendamping.
Bagi Julie, perhatian terhadap kondisi psikologis anak perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. Tempat tinggal yang aman, makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta dukungan psikososial menjadi bagian yang saling berkaitan dalam pemulihan.
Di tenda-tenda pengungsian Danga, pemulihan itu pun dimulai dari hal-hal sederhana: menemani anak bermain, mendengarkan ceritanya, memberi ruang untuk tersenyum, dan memastikan mereka tahu bahwa ada orang-orang yang hadir di tengah pengalaman yang belum mudah dilupakan.
Dari sana, keberanian untuk kembali menjalani keseharian perlahan dapat tumbuh. (bronto/*)
0 Komentar