Home / Berita / Berita
Berita

NasDem Buka Ruang Diskusi Perempuan dan Konstitusi

đź“… 27 Agu 2026 đź’¬ 0 Komentar
Bagikan artikel:

JAKARTA (27 Agustus): Partai NasDem membuka ruang diskusi mengenai penguatan peran perempuan dalam kehidupan politik dan kenegaraan melalui Diskusi Perempuan dan Konstitusi, di Auditorium Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower, Jakarta Pusat, Kamis (27/8).

Diskusi dibuka Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem Lestari Moerdijat. Hadir sebagai narasumber, Guru Besar FISIP UI dan Anggota PAH I MPR RI pada Perubahan Konstitusi 1999–2001 Prof. Valina Singka Subekti, serta Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI sekaligus Pengajar Luar Biasa Departemen Filsafat UI Taufik Basari.

Dalam diskusi yang dimoderatori Wasekjen Partai NasDem Siar Anggretta Siagian, Prof. Valina menilai penguatan peran perempuan tidak cukup hanya mengandalkan regulasi. Ekosistem hukum dan budaya juga perlu dibenahi agar perempuan memiliki ruang yang lebih setara untuk berkiprah di sektor publik.

“Ekosistem hukum dan ekosistem budaya itu perlu didekonstruksikan supaya menjadi lebih ramah bagi perempuan untuk bergerak di sektor publik,” ujar Valina.

Menurutnya, nilai-nilai patriarki yang masih berkembang di masyarakat menjadi salah satu hambatan kultural bagi perempuan untuk berkiprah di politik, parlemen maupun lembaga negara. Perubahan tersebut, kata dia, perlu dibangun melalui edukasi, pendidikan, sosialisasi, dan pelatihan sejak keluarga hingga generasi muda.

Sementara itu, Taufik Basari menyoroti pentingnya menghadirkan kembali kontribusi perempuan dalam narasi sejarah ketatanegaraan Indonesia. Ia menilai, pembahasan mengenai hukum, kekuasaan, dan konstitusi, selama ini, belum cukup menempatkan pengalaman dan perjuangan perempuan sebagai bagian penting dari sejarah bangsa.

Taufik mengangkat sosok Maria Ulfah Santoso sebagai salah satu perempuan yang memiliki peran penting dalam perjalanan kebangsaan Indonesia.

“Saya ingin memperkenalkan kepada khalayak siapa Beliau, apa kiprahnya, dan pelajaran apa yang bisa kita ambil dari perjuangan-perjuangan Beliau,” kata Taufik.

Ia berharap, semakin banyak masyarakat, terutama generasi muda, mengenal perjuangan tokoh perempuan , sehingga perspektif mengenai hukum, keadilan, kekuasaan, dan konstitusi dapat berkembang lebih inklusif.

“Kalau semakin banyak pihak mengetahui rekam jejak perjuangan Maria Ulfah, apalagi generasi muda, mudah-mudahan diskursus kita mengenai hukum, keadilan, kekuasaan, termasuk konstitusi, juga melibatkan perempuan,” ujarnya.

(WH/AS)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *